Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bekerja dengan Hati

Bekerja dengan Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Tak perlu ada panggung ratapan

Untuk setiap ujian yang datang

Namun harus hadirkan kebangkitan

Untuk trus maju menatap masa depan

 Kita masih hidup di langit yang sama

Dengan hembusan angin yang tak berbeda

Maka tak ada kata mundur ke belakang

Karna matahari masih bersinar terang

 (Maidany-Cinta Kerja Hamoni)

Begitu damai rasanya hati ini ketika mendengar lagu Maidany yang liriknya saya kutip di atas. Pemilihan kata dan cara menyusunnya benar-benar mampu menghipnotis fikiran yang tengah tegang memikirkan persoalan hidup. Mampu menghentikan tangis para hati yang sedang kecewa, menghibur jiwa yang merasa terzhalimi, membangkitkan langkah yang mulai bermalas-malasan. Setiap kalimatnya layak dibedah dan direnungi karna sarat akan makna.

Lirik lagu di atas seakan tidak mengizinkan kita untuk hanya sekedar mengeluh tentang ujian kehidupan, seakan mengatakan bahwa semua orang mempunyai ujiannya masing-masing dan selalu ada ujung dari jalan kepedihan dimana kebahagiaan telah menanti senyum kita.

Seakan mengatakan pada jiwa yang merasa sengsara bahwa dunia terlalu sibuk untuk mengurusi tangisan dan ratapan kita. Yang ada adalah dunia tengah membutuhkan bantuan kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang senantiasa muncul silih berganti. Ketika kita sendiri sibuk meratapi ujian yang datang, maka siapa yang akan membantu dunia menyelesaikan masalah-masalahnya yang dengan pasti akan berdampak pula pada hidup kita.

Seakan tak mengizinkan kita untuk sekedar bermanja pada entah siapa yang kita pun tak tahu dengan jelas kepada siapa kita sedang bermanja. Melarang kita untuk mengeluarkan keluhan-keluhan yang mendramatisir situasi yang ada. Karena itulah yang akan menghipnotis otak kita untuk berfikir bahwa ujian kali ini adalah ujian yang terberat. Padahal masih ada tangga lain di depan kita yang harus dilewati. Itu berarti, masih ada ujian yang lebih berat di depan kita. Maka ini bukanlah ujian terberat. Bukankah sepeti itu?

Dan seakan mengatakan bahwa ada saudara di sisi yang senantiasa bersedia menggandeng tangan, menariknya ketika terduduk letih, memegangnya ketika terpeleset dan terjatuh. Ada mereka yang bersedia membersamai langkah dan mengajak kita untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan bersama-sama. Mengajari, bahwa kita tidak sendiri.

Seakan mengingatkan bahwa jalan masih panjang. Hai para pejuang, ayo bangun, tinggalkan segala keluhkesah. Berdiri lalu melangkahlah. Banyak yang tengah menunggu karyamu, merindukan kobaran semangatmu dan banyak proyek dakwah menunggu genggaman tanganmu. Tidakkah engkau tergiur dengan balasan-Nya? Dia memilih orang terbaik, kuat, dan orang yang bekerja dengan hati.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Isnaini Nurhidayati
Isnaini Nurhidayati akrab di panggil mbak Is atau Na. Gemar Menulis segala hal yang kebetulan terlintas di pikirannya. Mencari Keberkahan d setiap kata...

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus