Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sayangilah Sepenuh Hati

Sayangilah Sepenuh Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

 

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Tahun ini begitu cepat berlalu. Rasanya sudah tua saja. Mentang-mentang baru masuk usia tiga puluh nih, “ canda separuh seriusku kepada seorang sahabat sholihat.

Seorang senior di hadapanku tersenyum, “Saya aja sudah tahap tawakkal banget nih, parah banget inflasi, say. Bisnis kemarin gulung tikar, walaaah. Lagi-lagi, cuma bisa mengurut dada, sabaaaar.” Tak kalah ruwet masalah yang dialaminya.

“Saya pindah memboyong tiga krucil. Tahun ini tiga kali, tiga negeri, Sist. Pasti kebayang, kan? Pegalnya masih belum hilang, hehe. Malah sekarang masih aja jam jet-lag karena pekerjaan suami harus ikut GMT+1, juga sekolah lanjutan masih online si abang, kita di GMT+8 begadang deh.” Kalau siang, tidak bisa tidur, otomatis istirahat memang cuma tiga sampai empat jam saja dalam satu hari. Siapa pun yang mampir ke apartemen sewaanku, biasanya terkekeh, minimal senyum-senyum lama melihat kehebohan yang luar biasa karena dua balitaku super-aktif.

“Yah, memang masanya beginilah, Dear.  Enak banget ‘ntar  ada zaman kangen lho. Kalau sepuluh tahun lagi-lah yah, heh. Anak-anakmu lucu banget. Capek-capek tahun ini, tapi puas kan? Kalian sudah ke Baitullah, ke Makkah dan Madinah. Lha, kami belum kesampaian tuh? Hiks.” Menohok kalimatnya. Oh iya, yahh? Iya, benar sekali! Lagi-lagi aku lupa bersyukur, lupa bahwa banyak warna putih kemudahan-Nya dalam hidup dibanding warna hitam hal-hal sukar yang terasa menjadi beban. Ya, lupa memang penyakit berbahaya. Bisa menimbulkan lalai yang amat parah kalau tak segera diatasi. Alhamdulillah ada banyak saudara/saudari yang menebar nasehat dan rajin mengingatkan diri ini.

Kita mungkin sering berpikir, “O Allāh, hidupku berantakan. Targetku yang ini, yang itu, belum juga tercapai. Aku tidak bisa pergi karena hal ini, atau hal itu. Aku kesal karena keletihan silih-berganti datang. Masalah bertubi-tubi menghampiri, dan seterusnya.”

Padahal, saat direnungkan ulang, sebagaimana zaman sekolah (waktu kecil, SD) dahulu, guru agamaku menggambarkan satu titik hitam di papan tulis yang putih, semua anak murid menjawab, “Gambar titik hitam, Pak.” Ketika beliau menanyakan tentang gambar itu.

Ternyata, pak guruku menyuruh kami ‘merenung dan berpikir’. Beliau berujar, “Seperti itulah rasa syukur kebanyakan manusia, Nak.  Nanti kalian memahami, kalau sudah besar, insya Allah. Ini di hadapan kalian, bukan gambar titik hitam. Melainkan sebuah area putih yang luas dan dihiasi setitik hitam.” Ternyata benar.

Kita manusia yang sering lupa melihat samudera nikmat-Nya area putih itu, tertutup egois diri. Kita hanya merasa sebal dengan setitik hitam, “Kok setitik saja, rasa beban banget di hati?! Padahal jelas-jelas lebih luas area yang putih, kan?”

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan milyaran hikmah kepada kita. Aku tak menyangka, area dunia maya dan sobat lama yang tetap saling menyapa di telepon atau sepotong sms pun, dapat menghadirkan limpahan pelajaran buat kita yang mau berpikir dan meresapi makna hidup. Aku bisa melihat bagaimana orang lain, akan, sedang, atau barusan melalui ragam pencobaan, pelatihan dan nikmat penderitaan juga. Beberapa saudari bahkan diuji dengan sesuatu yang lebih besar dari apa yang kualami sekarang.

Ada saudara perempuan yang belum melihat suaminya selama lebih dari 10 tahun karena ia berdiri di atas Haq, membela agama Allah ‘Azza wa Jalla dan Kuffar mengirimnya ke tempat penyiksaan dunia. Ya Allah, tak ada manusia yang bisa berjalan di muka bumi dengan disukai oleh seluruh manusia. Ternyata, ketika lidah dan nurani menyatakan La Ilaha Illallah Muhammadan Rasulullah, sungguh dahsyat cabaran. Ada sahabat yang datang, ada pula musuh menghadang.

Syahadat, untaian indah dari lisan yang telah memantapkan nurani. Kalimat indah yang perlu bukti nyata, tak hanya merdu di bibir saja. Bahkan mulut pun bisa berdarah dengan raga terluka serta terlepasnya organ-organ dan kenyerian mendalam kalau Sang Mahakuasa meminta pembuktian itu. Sebagaimana hebatnya perjuangan Bilal bin Rabah ra, Sumayyah binti Khayyat ra.  Astaghfirrullah, kita masih jauh dari keperihan yang dirasakan oleh mereka, Allahu Ghayatuna.

Beberapa bulan yang lalu, seorang saudari kehilangan anaknya, yang kehadirannya saja sudah dinanti bertahun-tahun. Ia langsung merindukan tangisan manja tengah malam si bayi mungil itu. Menit selanjutnya, seorang saudari ditinggalkan oleh ayahnya, dengan tegar beliau mengurus jenazah sang ayah bersama keluarga. Di mata semua temannya, ketegaran ini adalah inspirasi dan penularan motivasi yang sangat berarti.

Ternyata, apa yang kalian alami sebagai hikmah yang dapat dipetik oleh sebagian saudara lainnya. Allāh Tahu yang terbaik dan ‘kesengsaraan’ atau kesukaran yang terasa adalah benar-benar untuk memperkuat dan mengajarkan diri arti ketangguhan. Bukan untuk menghancurkan kita.

Dalam level ‘sedihnya’ seorang anak, A bercerita kepada temannya, “Ibuku cerewet sekali.” Dengan ragam contoh kecerewetan yang ia maksud. Kata temannya, “Untunglah kamu punya ibu.” Dan sisterku yang mendengar hal itu beristighfar, sekaligus memanjatkan rasa syukur kepada-Nya, “Ternyata punya seseorang ‘terkasih’ yang cerewet, adalah lebih beruntung dibandingkan ia telah tiada.”

Padahal kita biasanya merasa resah, berduka, terbebani jika memiliki orang-orang dekat yang cerewet. Baik itu orang tua, suami/istri, atau pun saudara/i lainnya terlalu banyak kosa kata yang diulang-ulang penyampaiannya, terlalu perhatian, terlalu cepat mengomentari sikap dan reaksi kita, terlalu mengamati seluk beluk kita dan sejenisnya.

Cobalah kalau kita pejamkan mata, dan bayangkan betapa sepinya suasana tanpa kecerewetan dari orang yang kita cintai. Pastilah menitik air mata ini. Betapa kita kurang bersyukur dengan kehadiran orang-orang di sisi kita.

Begitu pula segala peristiwa bersama keluarga. Semua hal itu adalah nikmat dan karunia-Nya yang harus kita sayangi sepenuh hati. Hari ini kita saling mengingatkan untuk shalat berjama’ah, mengerjakan tugas-tugas, membaca al-Quran, dan lain-lain. Belum tentu esok kita masih berkumpul, menatap sinar mentari pagi dan dapat mengulangi kebersamaan tersebut.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam mengagumi seorang mukmin yang bila memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah, ia memuji Allah dan bersabar. ( HR.Ahmad)

Yuk bersama kita perkuat ‘azzam diri. Jika berjumpa bongkahan batu besar dan badai, tetap memuji-Nya. Berjumpa salju maupun derasnya abu dan pasir, bersua saudara yang baik/shalih, maupun tatkala berjumpa dengan saudara yang buruk akhlaknya, semua ini adalah nikmat dan terselip rahmat serta ampunan-Nya, insya Allah.

Beberapa menit yang lalu, saudariku (seorang pejuang di bumi Syam) mengingatkan bahwa, “Orang-orang beriman tidak pernah menganggur. Mereka terus berjuang sehari-hari. Ya, itu benar. Mari kita berjuang, ambil bagian menjadi barisan yang dicintai oleh Allah Ta’ala serta rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai nafas terakhir, berpegangan saling mengingatkan agar berada dalam ketaatan, berharap beroleh rahmat-Nya untuk beristirahat dengan tenang kelak di Jannah.” Aamiin.

Sayangilah semua karunia-Nya sepenuh hati,  Dear. Tataplah area putih dengan mata hati nan tajam, sebagai tanda bahwa kita amat mencintai Sang Maha Segala, menyayangi semua ketetapan-Nya. Jangan bersedih, Saudaraku.  Allah selalu bersama kita. Innallaaha Ma’anaWallohu a’lam Bishshowwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang