Home / Narasi Islam / Sosial / Menjadi Pemimpin Penggerak: Besipun Berproses untuk Menjadi Magnet

Menjadi Pemimpin Penggerak: Besipun Berproses untuk Menjadi Magnet

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (healthcareprofessionalmarketing.com)
Ilustrasi. (healthcareprofessionalmarketing.com)

dakwatuna.com – Pernahkah kita menggunakan magnet dalam kehidupan sehari-hari? Magnet seperti yang kita kenal memiliki kekuatan untuk menarik benda-benda yang terbuat dari besi dan semacamnya. Seolah-olah, dalam diri magnet ada daya tarik yang bisa menggerakkan benda lain. Inilah kelebihan yang dimiliki oleh magnet. Ia memiliki kemampuan bisa menggerakkan dan memiliki daya tarik untuk benda-benda feromagnetik di sekitarnya. Benda feromagnetik adalah benda yang bisa ditarik dengan kuat oleh magnet. Seperti benda-benda berbahan dasar besi dan beberapa logam lainnya.

Berbicara soal magnet bisa menarik dan menggerakkan benda-benda sekitar, tak berbeda dengan fungsi seorang pemimpin. Pemimpin adalah sosok yang bisa menarik dan menggerakkan orang-orang yang ia pimpin. Pemimpin tak akan berhasil jika tak bisa menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya. Logikannya seperti ini, kalau kita ingin membawa organisasi ataupun lembaga yang kita pimpin untuk maju, namun anggota kita acuh dan tak ada yang peduli, maka program ataupun kegiatan-kegiatan yang kita lakukan tak akan didukung oleh mereka. Mungkin, program hanya terhenti pada pekerjaan-pekerjaan sebagian elemen yang peduli saja dengan arahan kita.

Hal ini wajar karena anggota kita tak peduli dan tak tertarik dengan arahan kita. Sehingga sudah selayaknya, pemimpin harus memiliki kekuatan untuk menarik dan bisa mengakselerasikan segala potensi anggotannya untuk mencapai misi dan visi organisasi ataupun lembaga yang ia pimpin.

Permasalahan yang muncul adalah, bagaimana kita bisa menjadi seorang pemimpin yang bisa menarik rakyatnya dan menggerakkan mereka untuk bersinergi mencapai tujuan. Dalam konteks ini, kita bisa belajar dari sebuah besi (bahan dasar magnet) dalam berproses menjadi sebuah magnet. Tentu, untuk memiliki kemampuan bisa menarik dan menggerakkan benda-benda di sekelilingnya bukanlah hal yang mudah dan instant bagi sebuah magnet. Besi sebagai bahan dasar magnet, menempuh proses yang panjang untuk bisa menjadi sebuah magnet yang bisa menarik benda-benda lainnya.

Kalau kita mempelajari lebih dalam, ada 3 cara untuk membuat besi menjadi bersifat sebagai magnet.

1. Membuat Magnet dengan Cara Menggosok

Caranya besi digosok dengan salah satu ujung magnet tetap. Arah gosokan dibuat searah agar magnet elementer yang terdapat pada besi letaknya menjadi teratur dan mengarah ke satu arah.

2. Membuat Magnet dengan Cara Induksi

Besi dan baja dapat dijadikan magnet dengan cara induksi magnet. Besi dan baja diletakkan di dekat magnet tetap. Magnet elementer yang terdapat pada besi dan baja akan terpengaruh atau terinduksi magnet tetap yang menyebabkan letaknya teratur dan mengarah ke satu arah.

3. Membuat Magnet dengan Cara Arus Listrik

Selain dengan cara induksi, besi dan baja dapat dijadikan magnet dengan arus listrik. Besi dan baja dililiti kawat yang dihubungkan dengan baterai. Magnet elementer yang terdapat pada besi dan baja akan terpengaruh aliran arus searah (DC) yang dihasilkan baterai.

Dari ketiga metode diatas, sebenarnya bisa kita ambil hikmah. Bahwa untuk berproses menjadi sebuah magnet, ada beberapa hal yang harus dilalui. Diantarannya adalah sebuah besi harus dekat dengan besi yang sudah memiliki kekuatan magnet. Filosofi yang terbangun sebagai seorang pemimpin adalah kita harus berani dekat dan mendekat kepada orang-orang yang kita pimpin.

Sebagai seorang pemimpin, harus mau untuk turun tangan dan terjun ke lapangan untuk merasakan kondisi yang dirasakan orang yang dipimpinnya. Dari sinilah seorang pemimpin akan mengetahui apa yang dibutuhkan rakyatnya, kemudian akan dicarikan pemecahannya.  Secara kultural dan emosional, kedekatan antara rakyat dan pemimpin akan erat. Tak kan ada lagi batas penyekat di antara mereka.

Inilah salah satu indikasi awal. Di kemudian hari, rakyat akan mudah digerakkan bahkan senang diajak bekerjasama. Karena pemimpin merekapun mau memahami, mencarikan dan mengusahakan solusi terhadap apa yang mereka butuhkan.

Kemudian, hal kedua yang bisa kita  teladani untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dari proses besi menjadi magnet adalah konsisten terhadap apa yang ia yakini. Sebuah besi akan menjadi magnet jika dalam prosesnya dilakukan dengan searah secara terus menerus. Baik untuk proses pembuatan menggosok maupun dengan dialiri arus listrik. Dalam pembuatannya, besi harus digosok secara secara searah agar bisa membentuk sebuah magnet. Begitupun yang melalui arus listrik, arus listrik yang digunakan haruslah jenis DC atau arus searah tentu dilakukan secara terus menerus pula.

Dari proses ini, kita bisa belajar bahwa untuk menjadi seorang yang memiliki arti di tengah masyarakat luas yang bisa menarik dan menggerakkan masyarakat diperluakan sikap konsisten dalam hidupnya. Jangan sampai sebagai seorang pemimpin penggerak kita mudah terombang-ambing pada suatu kondisi. Hal ini membahayakan karena pengikut kita akan bingung untuk mengikuti kita. Inkonsistensi inilah yang harus senantiasa kita hindari baik secara sikap maupun tindakan. Apalagi, sebagai seorang pemimpin yang memiliki banyak pengikut.

Akhirnya, untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa menarik dan menggerakkan kita perlu  belajar pada proses pembuatan besi menjadi magnet. Berani dekat dengan orang yang ia pimpin dan konsisten dalam sikap maupun tindakan. Insya Allah, jika kedua sikap ini senantiasa dipegang oleh seorang pemimpin, maka ia akan bisa menarik dan menggerakkan rakyatnya ataupun orang yang ia pimpin ibarat seorang magnet yang menggerakkan dan menarik besi-besik di sekitarnya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.

Lihat Juga

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (aljazeera.net)

Cara AKP Apresiasi Kader

Organization