Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bertarung dengan Angin

Bertarung dengan Angin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (colegioweb.com.br)
Ilustrasi. (colegioweb.com.br)

dakwatuna.com – Pagi menjelang siang yang sangat indah, banyak keberkahan di setiap waktunya karena ada-ada waktu-waktu dimana ada sujud dan sedekah sebegai bukti syukur dan penghambaan pada Zat Yang Mahabesar. Langit dengan warna biru lembut disertai sedikit awan putih menambah corak di angkasa sana, berderet kisaran bukit hijau sebagai pagar alam. Dari kejauhan, kusaksikan dedauan mungil melambai lembut sebagai bukti ada angin kecil yang bertiup di sana. Mmm, udara sangat segar dari hasil pembakaran yang dikeluarkan oleh tumbuhan yang mengandung klorofil.

Perlahan, terdengar deru mesin yang tak beraturan. Karena jauh di sudut sana, banyak manusia sedang bertarung memperjuangkan hidup demi suapan-suapan nasi untuk anak-bininya. Hilir mudik, kian kemari menjajakan makanan harian, berdiam di depan pagar sekolah saat anak-anak keluar istirahat, kue jajanan keliling yang sangat digemari oleh anak-anak. Angin masih sama sejuknya. Sesejuk rezeki yang dicurahkan pada hamba yang mau berusaha sedari pagi.

***

Duduk bersila sembari mengambil seteguk kopi panas mengepul, sedari pagi hanya duduk di beranda rumah, tak ada yang bisa dilakukan oleh bujang tanggung yang tak tentu arah dan tujuan. Karena sudah beberapa waktu tak ada niat untuk berusaha keras merubah hidup yang terus terbawa angin kota: penggusuran, pemutusan hubungan kerja. Ah, sudahlah. Angin padanya sedang tak bersahabat karena memang ia tak mau berusaha.

***

Malam telah larut, namun sang bapak di lain tempat masih setia menginjak dinamo mesin jahitan untuk menyelesaikan pesanan para pelanggan. Sekalipun angin malam telah terasa keras, ia masih saja berusaha demi pengisi perut keluarga.

***

Epilog di atas, hanya kuurai sebagai  bukti. Bahwa hidup tak selamanya lembut. Akan ada banyak angin yang kan membawa kita jauh. Ke arah senang, susah, berkah ataupun tidak berkahnya. Angin yang terasa sejuk, namun ia akan melenakan ketika tak mampu memaknai setiap kesejukannya.

Dari kejauhan, kusaksikan banyak anak muda berseragam abu-abu hanya sibuk ketawa mengikuti arah angin yang tak pasti. Mampukah kita untuk bertarung dengan angin? Silahkan kawan, engkau tafsirkan saja apa maksudku.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nia Assyifa
Pegawai Negeri Sipil. "Menjadi karanglah meski tak mudah, sebab ia akan menahan sinar matahari yang garan, ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah, melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa yang dingin yang mencoba membekukan, ia akan kokohkan diri agar tidak mudah hancur dan terbawa arus, ia akan tegak berdiri, belajar untuk terus berjalan..nmenapaki arti hidup sesungguhnya"

Lihat Juga

Memasuki Era Digital, Pengusaha Muslim Harus Melek Teknologi