Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sabar, Sabar, dan Tetap Sabar

Sabar, Sabar, dan Tetap Sabar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (cipto.net)
Ilustrasi (cipto.net)

dakwatuna.comAssalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. Tahmid wa Shalawat. Seluruh manusia pasti merasakan masalah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lahir dan menjalani kehidupan dengan tanpa permasalahan. Kecuali mereka yang telah terbaring di dalam tanah pekuburan.

Saat ditimpa suatu masalah -terutama problem yang banyak kaitannya, atau suatu permasalahan kompleks dengan keterlibatan banyak pihak dan efek-efeknya di kemudian hari-, banyak diantara kita yang merasa ‘musibah telah datang’. Berat sekali dalam menjalani hari. Padahal sungguh, saat itu, bagaimanakah besar nilai keimanan kita tengah diuji. Seberapa tegarkah kita dalam mengatasi masalah-masalah itu? Serta bagaimana ‘suara’ atau sikap kita dalam melalui proses penyelesaian masalah tersebut? Allah Swt makin cinta dengan kita, maka makin bervariasi cara-Nya dalam melimpahkan ujian kepada kita. Baik berupa nikmat suka cita, maupun nikmat permasalahan yang ada setiap hari.

Kunci mencari solusi tepat dalam setiap permasalahan adalah bertanya. Meminta jawaban kepada Sang Maha Pemberi yang juga melimpahkan problem tersebut atas izin dan kuasa-Nya. Maka sikap selanjutnya bagi kita hanyalah terus bersyukur dan bersabar.

Melatih kesabaran salah satunya adalah dengan cara menahan lisan dari keluhan, sebab keluh kesah biasanya dimaknai sebagai tanda kurang bersyukur.

Doa memohon ketenangan jiwa:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.s. Ali-Imran: 191)

Ketika masalah beragam datang, bersabar dirasa berat, logika seolah tak mampu lagi mengatasinya, maka marilah kita perbanyak istighfar dan terus berusaha memohon hanya kepada-Nya. Tak terhitung jumlah manusia yang meminta kepada selain-Nya dikala kalut, gundah dan resah, sehingga jatuh ke dalam kemusyrikan. Na’udzubillahi Minzalik.

Bersabar menunjukkan kita ridha atas qadha dan qodar-Nya dan terus bersikap optimis dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Sedikit tips supaya diri kita kian merasakan manisnya kesabaran saat problem datang. Marilah kita lakukan hal ini:

1. Berwudhu. Mantapkan untuk shalat fardhu di awal waktunya. Serta perbanyak shalat sunnah.

2. Membaca ayat-ayat al-Quran. Resapi maknanya. Tekankan dalam hati bahwa, “Laa Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’aha”, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q.s. al-Baqarah: 286). Teruskan memperbanyak zikir, mantapkan hati bahwa:

– لاَ هَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ.

La Haula wa La Quwwata Illa Billah.

(Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata).

3. Tengoklah alam, pantai, langit biru, pepohonan dengan rimbun daun hijau berseri, suara burung, katak, dsb. Betapa cantik alam ini. Begitu indah dan amat sayang jika kita lalai dalam mensyukuri kebesaran Allah. Tata letak semesta nan indah ini dengan segala perangkat kompleks tentu ‘lebih pantas’ untuk dipuji daripada dicemberuti. Subhanallah Walhamdulillah. Betapa trilyunan nikmat tercurah kepada kita. Pantaskah, hanya gara-gara satu-dua problem lalu menjadikan kita manyun, sebel, bahkan kufur terhadap nikmat-Nya?! Na’udzubillah, Faghfirlanaa.

4. Ingatlah bahwa banyak manusia lainnya yang memiliki problem lebih banyak dan beragam. Tapi bisa bersikap lebih bijak dari pada kita. “Mereka dapat bijak memetik hikmah dalam menemukan solusi, lantas kenapa diri kita tidak bisa?!”

5. Ingatlah bahwa para Nabi dan Rasul pun ‘sama’. Seluruh usia hidup mereka dipergunakan untuk perjuangan yang tak pernah putus asa. Mereka memiliki ujian permasalahan yang jauh lebih dahsyat daripada hal yang menimpa kita. Tentu, kita harus introspeksi diri. Kita sering lupa dan lalai, serta malas ‘mengulangi renungan’ pelajaran-pelajaran lama. Sesungguhnya tatkala kita mengenang sirah para Nabi, maka kita bermalu diri jika tidak bersabar. Sebab problema kita hari ini, belum sampai seujung kuku dibandingkan dengan perjuangan para Nabi Allah Swt tersebut.

6. Renungkan bahwa waktu selalu berlari. Hidup bagaikan roda sepeda. Kadang bertumpuk problem, kadang bertumpuk senyum dan tawa girang pula. Inilah nikmat ‘masa hidup’. Masa ‘naik level’. Setiap melalui permasalahan yang seabrek-abrek adalah waktu untuk memperbanyak amal shalih, masa aktif kreatif jiwa raga dalam memperbaiki kualitas diri. Insya Allah. Musibah terbesar adalah apabila kita kian jauh dari jalan keridhaan-Nya.

7. Senyum sabar. Terus menerus belajar bersabar agar dapat menularkan kebahagiaan kepada orang sekitar. Bagi lingkungan, juga menjadi perhitungan amal kebajikan di sisi-Nya. Bukankah duri yang menyakiti telapak kaki, atau saat tersandung pun ada ‘dosa berguguran’ sebagai balasan buat kita? Masya Allah. Maka, kita manfaatkan setiap momen ‘banyak masalah’ ini dengan selalu sabar, sabar dan terus bersabar.

Semoga beroleh banyak manfaat, aamiin. Wallahu A’lam Bishshowwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,85 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Ilustrasi. (hudzaifah.org)

Sepuluh Panggilan dari Surga