Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dua Ayat Terakhir yang Engkau Wasiatkan

Dua Ayat Terakhir yang Engkau Wasiatkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

dakwatuna.com – Jujur saja, air mataku masih sering menetes mengingatmu. Rasa perih di hatiku juga masih sulit dihalau. Ukhtina, jiwamu teramat mulia. Hingga yang Mahamulia merasa pantas memanggilmu.

Kepergianmu menyisakan sederet kenangan di antara hari yang pernah kita lewati bersama. Meski tak seberapa lama, kebersamaan denganmu sempat terangkai.

Dan di Sabtu itu, 3 hari menjelang kepergianmu, Allah memberikan posisi istimewa itu untukku. Engkau duduk di sampingku, di dalam lingkaran cinta yang rutin kita hadiri.

Engkau memintaku menyimak hafalan al-Qur’anmu. Untuk yang satu ini, kami akui bahwa kau selalu menang. Kalah cepat, kalah banyak, menjadi bukti bahwa engkaulah yang paling baik dalam bergaul dengan al-Qur’an.

Engkau mengulangi hafalan surat at-Taubah dengan sangat lancar. Kalau aku diminta memberikan nilai, predikat mumtaz rasanya layak disematkan untuk hafalanmu pagi itu.

Hingga ayat ke 42, terhentilah bacaanmu. Ketika kutanyakan, “Lanjut Uni?” (Uni adalah panggilan sayang kami untukmu) Engkau pun menjawab, “Cukup, sampai batas itu saja,” sambil tersenyum. Baiklah, bisa jadi karena waktu kita tak banyak, pikirku saat itu.

Selasa pagi itu, entah karena terburu-buru atau kenapa, saat hendak menghadiri acara kantor, aku kena tilang. Rambu lalu lintas rasanya tak kuperhatikan dengan baik sehingga terpaksalah harus berurusan dengan Polisi. Ketika tiba di tempat acara, sampailah berita itu padaku, Allah telah memanggilmu. Rasanya aku seperti orang linglung, sedih, cemas campur aduk jadi satu.

Meski hanya sebentar, saat disemayamkan itu, aku melihat wajahmu begitu teduh, damai dan tanp beban. Namun, sungguh hari itu aku lalui penuh duka.

Malamnya, entah kenapa aku ingin mengulang kembali bacaan al-Qur’an yang sebelumnya engkau setorkan. Aku berharap bisa menjadi penawar rinduku padamu. Sampai di ayat 41-42, sungguh aku tergugu. Rasanya tak mampu untuk melanjutkan ke ayat selanjutnya. Baru aku sadari, itulah wasiat terakhirmu untuk kami.  Sebuah wasiat yang sarat pesan.

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”  (Q.s. at-Taubah [9]: 41- 41).

Ya Allah, pemilik segenap jiwa. Hamba menyadari betapa kerdil dan lemahnya jiwa ini.

Kepribadianmu menyiratkan teladan, tiga halaqah yang dimanahkan kepadamu tak sedikitpun berat engkau jalani. Meski salah satunya mesti kau tempuh dalam 3-4 jam perjalanan. Tak pernah kami mendengar keluhan akan beratnya amanah itu.

Aku malu, terlebih pada dirimu. Ketika kadangkala hatiku masih digelayuti rasa berat meninggalkan anak-anak saat seharian harus pergi menunaikan amanah dakwah dan pulang dalam kondisi larut. Perasaan berat kadang juga masih terselip, lantaran berhari-hari ditinggal suami demi menemui dan menyapa konstituen.

Berangkatlah. Begitulah pesanmu.

Memang, bukan aku yang layak memintamu melanjutkan potongan surat yang engkau lantunkan.  Tapi Dia, Sang Pemilik Kalam abadilah yang berhak.          

Kini, kamilah yang harus melanjutkan amanah itu. Semoga ‘perasaan ringan’ lebih mendominasi jiwa kami dalam sisa perjalanan ini. Beristirahatlah dengan tenang saudariku, bersama para bidadari menjadi bagian keluarga dari para hafizhah.

Mengenang Kepergian Ustadzah Juwita Wati yang meninggal pada hari Selasa, 25 Februari 2014.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ummu Hilmy
Ibu dari Hilmy Afkari Fathurrahman, M Akif Taufiqurrahman, dan Ainaya Fathiya Rahma, bekerja sebagai PNS.

Lihat Juga

Khutbah Idul Adha 1437 H: Empat Teladan Nabi Ibrahim dan Keluarganya