Home / Narasi Islam / Sosial / Kebaikan Hati

Kebaikan Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Segala sesuatu dimulai dari hati. Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu hadits beliau. Bahwa panglima setiap diri adalah hati. Jika hati baik, maka akan baiklah kondisi tubuh berikut amal yang dihasilkannya. Akan tetapi jika hatinya tidak baik, busuk, atau jahat, maka amal-amal yang dilahirkan oleh anggota tubuh yang lainnya akan menjadi rusak. Menjadi amal yang jahat dan buruk.

Karena demikian keadaannya, maka menata hati adalah langkah penting bagi kita untuk bisa menata amal-amal jasmani kita. Memperbaiki langkah kaki dan kerja tangan kita, mestilah dimulai dengan menata hati kita.

Hati tempat amal membisikkan niatnya. Amal apa pun. Yang kecil maupun besar. Banyak maupun sedikit. Yang dikerjakan sendirian ataupun beramai-ramai. Dari amal-amal itu, Allah ‘Azza wa Jalla akan menilai dan membalasi kita sesuai dengan apa yang menjadi niat di dalam hati. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap amal bergantung pada niat, dan setiap orang akan memperoleh apa yang sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang diusahakannya atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas apa yang diniatkannya itu.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Hati tempat bersemayamnya niat dan motivasi. Baik atau buruk nilai dari amal yang kita lakukan, sangat ditentukan oleh apa yang terbetik di dalam hati kita. Boleh jadi di antara kita memiliki jenis amal yang sama, bahkan kuantitasnya juga sama. Bahkan mungkin kualitasnya, secara lahir, juga sama. Tetapi siapa di antara kita yang amalnya benar-benar sampai kepada Allah, tergantung apa yang kita niatkan dengan amal-amal itu.

Niat lahir di dalam hati. Bukan sebatas apa yang kita ucapkan kepada orang lain. Karena boleh jadi, apa yang kita ucapkan di hadapan orang berbeda dengan apa yang ada dalam hati kita. Bisa jadi ucapan itu kita maksudkan agar orang lain tahu motivasi tulus kita dengan amal-amal yang kita lakukan. Bisa saja, mungkin, awalnya memang hati kita tulus. Tetapi, dengan menyebut-nyebut ketulusan itu di depan orang lain, apakah itu tidak berarti kita menginginkan pujian orang atas ketulusan itu? Padahal bukankah keikhlasan itu adalah terbebasnya amal dari keinginan untuk dipuji?

Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing hati kita sehingga mampu beramal dengan tulus dan ikhlas, semata karena mengharap kebaikan-Nya, semata mengharap pahala dan keridhaan-Nya. “Maka, barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal-amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Q.s. al-Kahfi: 110).

Amal shalih dalam arti kebaikan yang dilandasi keikhlasan, berawal dari kebaikan hati. Kebaikan hati akan melahirkan banyak kebaikan yang bisa dilahirkan oleh jasmani dan anggota tubuh kita. Ia mewujud dalam sikap, bahasa tubuh, dan tindak-tanduk kita. Ia muncul dalam ucapan, kerja tangan dan kaki kita. Ia muncul dalam ungkapan suka dan tidak suka kita. Ia muncul dalam persetujuan dan ketidaksetujuan kita.

Kebaikan hati akan menghadirkan efek besar dalam kebermanfaatan material dan sarana duniawi yang tersedia. Mendatangkan tumpukan kekayaan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kemanfaatan bersama. Menjelmakan sejumlah besar modal untuk dikelola hingga menghasilkan kemaslahatan sebanyak-banyaknya bagi sesama. Mewujudkan jaringan kebaikan yang membentang luas dan merambah berbagai lorong kehidupan yang menjadi hajat umat. Bahkan menghasilkan duplikasi-duplikasi kebaikan berikutnya dengan skala dan ukuran luar biasa. Inilah dahsyatnya kebaikan amal yang dihasilkan dari kebaikan hati.

Kebaikan hati tidak bisa dihalangi oleh keterbatasan sarana duniawi. Kebaikan hati tidak akan terhenti oleh faktor-faktor material yang mungkin saja sangat terbatas. Ia akan mengalir dan menembus batas-batas itu, dengan berbagai cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sebagaimana air yang memiliki naluri untuk mengalir, ia akan selalu berusaha mengalir meski penghalang membatasinya. Ia akan terus mencari dan menerobos setiap celah yang teramat kecil sekalipun untuk bisa tetap mengalir.

Begitulah halnya kebaikan hati. Ia bagai air. Terus mengalirkan kebaikan demi kebaikan. Meski sesekali tampak terhenti karena sesuatu menghalanginya. Namun, terhentinya bukan berarti diam. Melainkan, ia sedang membuat mekanismenya sendiri untuk bisa terus mengalir. Tunggulah, sebentar lagi ia akan kembali mengalirkan kebaikan yang bahkan dalam kedahsyatan tak terduga.

Tengoklah kisah Abu Thalhah bersama sang istri, Ummu Sulaim. Ketika suatu malam sepasang keluarga Anshar itu dalam keterbatasan yang sangat, bahkan sampai batas yang sedemikian rupa, hingga makanan pun hanya cukup untuk makan malam anak-anak mereka. Tetapi panggilan berbuat baik tiba-tiba datang: seseorang dari kalangan sahabat dalam kondisi kelaparan membutuhkan pertolongan.

Tanpa banyak pikir, Abu Thalhah membawanya ke rumah. Dan, jawaban sang istri sungguh memilukan. Malam itu, mereka hanya punya sedikit makanan jatah anak-anak mereka. Mendapati keterbatasan yang demikian, Abu Thalhah tidak lantas membatalkan niat berbuat baik kepada tamunya.

Energi macam apa yang bisa memunculkan ide kreatif luar biasa Abu Thalhah dan isterinya yang membuat skenario ini: menidurkan anak-anaknya lebih cepat; membuat lampu yang tidak bermasalah seolah-olah mati dan perlu dibetulkan;  lalu berpura-pura seperti orang sedang makan dan menemani sang tamu sehingga tamu bisa makan tanpa kikuk dan rasa bersalah?

Ide-ide brilian yang bisa melahirkan banyak terobosan tentang cara berbuat baik, pada saat faktor-faktor material membatasinya, itulah kebaikan hati! Ia akan memunculkan dirinya dalam beragam kebaikan dengan bermacam cara dan model. Kebaikan-kebaikan yang boleh jadi tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hingga ia menjadi sebuah peristiwa yang monumental dan senantiasa menjadi kegemilangan sejarah. Kebaikan hati yang akan terus mengalirkan sungai kebaikan. Kebaikan hati yang tidak akan pernah menyerah pada keterbatasan sarana duniawi. Kebaikan hati yang membuat kita cerdas melihat setiap peluang kebaikan dan menangkapnya segera!

Maka, kebaikan hati adalah panglima dari kebaikan-kebaikan lahir yang dapat kita perbuat. Tanpa hati yang baik, tanpa hati yang ingin berbuat baik, sebanyak apa pun sarana material yang tersedia, sangat sulit menghasilkan kebaikan. Harta yang banyak tidak akan menghasilkan kebaikan apa-apa tanpa dimilikinya kebaikan hati. Ilmu yang banyak, pun tak akan menghasilkan kebaikan jika tidak ada kebaikan hati. Relasi,  pertemanan, atau kolega sebanyak dan setersebar apa pun, tidak akan menghasilkan kebaikan apa-apa jika tidak ada kebaikan hati yang bisa merajut berbagai potensi sosial itu untuk melahirkan kebaikan.

Kebaikan hati adalah kunci. Oleh karena itu, bagi kita, bukan semata deretan angka nol yang panjang dari uang yang kita miliki yang penting, tetapi sebanyak apa kebaikan yang bisa kita hasilkan darinya. Bukan sepanjang apa gelar akademik di belakang nama kita, tetapi sebanyak apa kebaikan yang dapat kita hasilkan dengan ilmu yang kita punyai. Sebanyak apa orang yang bisa merasakan manfaat dari ilmu yang kita miliki.

Maka, mari memohon kepada Allah akan kebaikan hati kita. Sehingga dengan itu, kita akan tetap bisa berbuat baik dalam kondisi apa pun. Dapat berbagi kebaikan dalam keadaan seterbatas apa pun, dalam situasi sesulit apa pun. Apatah lagi jika keadaannya serbalapang, serbamudah dan serbamemungkinkan. ”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265). Wallahu a’lam bish-shawab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ayah dari tiga orang puteri (Asma, Waffa, dan Aisyah). Lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kini tinggal di Bogor.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Akhi, Jangan Terlalu Baik Padaku Please!