Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yuk Periksa Tauhid Kita

Yuk Periksa Tauhid Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Islam dewasa ini identik dengan keterbelakangan ekonomi, stagnasi intelektual, dekadensi moral, dan pelbagai macam keterpurukan lainnya. Apa yang sebenarnya menyebabkan hal ini terjadi? Mungkin masing-masing dari kita memiliki jawaban yang berbeda-beda. Apakah dasar penyebab dari ini semua? Apakah hal ini berkaitan dengan hati dan ketauhidan kita? Mari kita berefleksi mengenai kondisi ketauhidan umat Islam kini.

Kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah hal paling sentral. Secara etimologis, tauhid berarti mengesakan, yaitu mengesakan Allah. Formulasi pendek dari tauhid yakni kalimat Laa Ilaha Illallah yang berarti tiada Tuhan selain Allah. Kalimat di atas menyiratkan bahwa Allah-lah sebagai satu-satunya Khaliq yang patut disembah oleh manusia. Komitmennya kepada Tuhan pun adalah utuh, total, positif dan kokoh.

Pandangan hidup tauhid itu bukan saja mengesakan Allah seperti diyakini oleh kaum monoteis, melainkan juga meyakini kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntutan hidup (unity of purpose of life) yang semuanya ini merupakan derivasi dari kesatuan Ketuhanan (unity of Godhead). Pandangan hidup tauhid tidak mempertentangkan antara dunia dan akhirat yang alami, antara jiwa dan raga.

Saat ini, Indonesia sedang mengalami beberapa gejala sosial. Diantaranya: makin merosotnya sensitifitas dan solidaritas umat dewasa ini. Sebagai contoh, karena kelemahan kepemimpinan, wawasan, strategi, taktik, dan ukhuwah (bahkan mungkin sekali kelemahan tauhid), umat Islam seperti dicabik-cabik.

Jika kita ingin berefleksi bahwa tauhid berfungsi sebagai mentransformasi setiap individu yang meyakininya dirinya pribadi yang kurang baik menjadi manusia yang lebih berdaya guna, sehingga mampu membebaskan dirinya dari belenggu-belenggu zaman yang memasung. Diantara beberapa ciri manusia tauhid yang diisyaratkan Allah: pertama, ia memiliki komitmen penuh terhadap Tuhannya. Kedua, ia menolak pedoman hidup yang tidak dari Allah.

Ketiga, ia bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas hidupnya, adat-istiadat, dan tradisi dalam hidupnya. Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Ibadahnya, matinya hanyalah untuk Allah semata. Kelima, manusia tauhid memiliki visi yang jelas untuk mencapai keridhaan Allah.

Melihat dari hal di atas, apakah kita sebagai umat Islam di Indonesia sudah mencerminkan atribut manusia tauhid sebagaimana yang disyariatkan oleh-Nya? Tidak heran kemudian jika umat Islam di Indonesia masih berada dalam kubangan keburukan. Tidak hanya di satu aspek kehidupan, namun merata di seluruh aspek kehidupan. Tidak ada kata terlambat untuk segera berbenah dan memperbaiki bersama. Perlahan namun pasti. Yuk, periksa tauhid kita.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi semester 5 jurusan Sastra Arab, Universitas Indonesia. Memiliki ketertarikan terhadap isu-isu politik Timur Tengah. Memiliki cita-cita untuk menjadi Pengamat Politik Timur Tengah dan juga sebagai pekerja sosial, serta turut aktif dalam perdamaian dunia.

Lihat Juga

Perjalanan Para Pejuang Ketauhidan