Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dunia yang Semrawut; Tantangan Bagi Generasi Muda

Dunia yang Semrawut; Tantangan Bagi Generasi Muda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Abdullah Syarif)
Ilustrasi. (Abdullah Syarif)

dakwatuna.com – “Sejarah tidak bisa diperbaiki, yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan masa depan yang lebih cerah.” Begitulah petuah bijak dilantunkan untuk memacu ketertarikan kita. Terlebih bagi kita yang berdarah muda. Generasi muda adalah harapan terbesar bagi kehidupan masa depan umat dan bangsa ini. Generasi muda seharusnya sudah banyak belajar dari kondisi kehidupan saat ini. Berbagai keadaan yang terjadi, fenomena yang mencuat ke permukaan, berita-berita yang terdengar oleh telinga, dan beban-beban yang bisa dirasakan oleh tubuh seharusnya bisa menjadi bahan bakar yang menggerakkan semangat perubahan.

Maka, selayaknya, cara berpikir kita harus dibenahi sejak sekarang. Sebab mindset yang sehat tentunya akan melahirkan perilaku, kerja-kerja, dan hasil yang insya Allah juga sehat. Semua bermula dari niat.

Cara berpikir yang mengendap dalam diri seorang generasi muda Islam bukan lagi cara berpikir yang egoistis dan tidak peduli terhadap orang lain. Lihatlah betapa banyak orang yang tanpa berpikir panjang melakukan aktivitas-aktivitas membahayakan dan merugikan demi mendapatkan apa yang ia inginkan, tidak peduli seberapa besar kerugian dan bahaya yang akan menimpa orang lain. Bahkan, kalau pun harus memakan banyak korban nyawa, mereka akan tetap meneruskan apa yang mereka rencanakan dan inginkan itu.

Coba pula kita layangkan pandangan pada kondisi kehidupan bernegara kita saat ini. Lihat, jelas-jelas hukum dipermainkan di depan kita. Padahal, dengan gamblang dan serius, negara ini mengaku sebagai rechstaat (negara hukum). Katanya, hukum berada pada tempat paling tinggi, tetapi begitukah kenyataannya? Kalau ya, kenapa masih terlihat kesenjangan perlakuan hukum antara kelas atas dengan kelas bawah? Kenapa?

Perilaku-perilaku tak beradab pun masih terjadi di mana-mana. Hukum sogok-menyogok, misalnya, masih bergentayangan di mana-mana, setiap saat. Ketika ingin masuk ke Lembaga Pendidikan, menyogok. Ketika ingin melamar sebagai Pegawai Negeri, menyogok. Ketika mencalonkan diri menjadi Wakil Rakyat, menyogok. Ketika melanggar lampu merah, konsekuensinya adalah menyogok. Bahkan, ketika hendak mengurus SIM dan KTP, perilaku ini telah membiasa di beberapa tempat.

Seakan-akan kehidupan kita yang seperti ini sudah tidak bisa lagi dirubah. Seakan-akan ini layak dicap sebagai suatu kewajaran. Sehingga orang-orang yang berkeinginan untuk merubah akan dicap asing. Sehingga usaha-usaha yang dilakukan untuk mengentaskan keburukan ini akan dicap kerjaan sia-sia, tidak akan berhasil.

Satu peristiwa miris terjadi di satu daerah. Betapa berani mereka mempermainkan perkara agama. Hampir sebulan yang lalu, seorang calon legislatif menyebarkan uang ke beberapa orang warga, tentunya dengan syarat pada waktu Pemilu kemarin mereka diharuskan memilih si calon. Tetapi, nasib miris menimpa si calon. Suara yang diperoleh tidak sebanding dengan jumlah penerima uang.

Akhirnya, si calon tadi mendatangi rumah-rumah warga yang ia “sawer” dengan menenteng kitab suci al-Qur’an al-Karim. Buat apa? Ia ingin mengajak orang yang ia beri uang itu bersumpah. Bila mereka memang memilihnya, maka uang tetap berada di tangan mereka. Bila ternyata mereka tidak memilihnya, mereka harus mengembalikan uangnya, atau kutukan akan diberlakukan.

Sungguh, kalau hati masih hidup dan sehat, tentunya hati akan bisa melihat betapa tidak berakhlaknya kaum ini. Betapa buruknya mereka. Betapa zhalimnya mereka. Aqidah mereka sudah tidak bisa dikatakan sehat. Sungguh, demi Allah, mereka telah membuang Islam dari hati mereka. Sungguh, mereka telah menginjak iman dengan kaki mereka sendiri.

Di satu sisi, mereka bermegah-megah dengan bangunan masjid di kampung. Seakan-akan yang menjadi ukuran baiknya agama suatu kaum adalah megahnya masjid. Padahal, tidak! Islam tidak pernah mengajarkan bahwa kemegahan adalah patokan.

Tidak hanya itu, dalam dunia bisnis pun tingkah tak berhati ini masih membumbung. Mengahalalkan segala cara demi meningkatkan penjualan adalah tingkah yang terlihat biasa. Curang dalam timbangan. Bersumpah agar dagangannya terjual. Masih banyak lagi.

Mereka lupa pada hadits Rasulullah. Bahwa pedagang-pedagang seperti ini tidak akan dilihat, tidak akan diampuni oleh Allah, dan tidak akan disucikan oleh Allah pada Hari Kiamat nanti. Masya Allah, bayangkan saja, apabila Allah sudah tidak sudi melihat seseorang di Hari Kiamat, pastilah azab Allah amat pedih untuknya.

Wahai generasi muda, ingin kumenyeru kalian wahai saudaraku! Dengan seruan iman! Dengan seruan pembaharuan! Kita harus berubah! Caranya? Sukseskan dirimu. Layakkan dirimu untuk menjadi pemimpin. Tanamkan iman dan ilmu agama dalam dirimu. Jadikan ia bekalan. Jadikan ia sebagai oksigen yang menjadi nafas hidupmu.

Terlebih, mari kita mintakan pada Allah, agar Allah membantu usaha-usaha kita, agar Allah membersamai kita di setiap derap jejak langkah kaki kita. Sebab tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Laa Haula wa Laa Quwwata Illa BilLaah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Fahira Idris, Anggota DPD RI. (pojoksatu.id)

Jakarta Magnet Kepentingan, Warga Jakarta Harus Rasional Pilih Pemimpin