Home / Pemuda / Cerpen / Don’t Worry Girls!!  

Don’t Worry Girls!!  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tidak seperti biasanya, hari ini aku serasa dilindungi oleh ribuan bodyguard. Tapi jangan heran kalau aku dan kamu berpapasan tak akan ada satu bodyguard pun yang kan kau temukan. Yah, tapi memang itulah yang kurasakan saat pertama kali menggunakan jilbab secara syar’i. Jilbab yang benar-benar menutupi auratku yang kupadankan dengan pakaian longgar. Ribet? Awalnya memang iya. Tapi rasa aman dan nyaman mengalahkannya. Sure!

***

“Brinaaaaa……..!!!”

Teriakan Zizi spontan menyuruh otakku untuk secepat mungkin menutup catatan harian yang baru pertama kali kumiliki. Matanya masih terus melotot. Beruntung, ia bermata sipit. Jadi sekuat apa pun tenaganya membelalakkan mata sipitnya tetap saja tidak membuatku berespon. Akhirnya, ia merubah stimulusnya dengan senyum keherenan yang sedikit menggoda. Barulah aku merespon dengan cubitan yang mendarat di lengannya.

“Akhirnya, jilbab itu bertengger juga di kepalamu Na. Terus si Rezi, Alghi, Riky kamu apakan?” Aku tersenyum simpul yang dibalas ledekan oleh Zizi.

“Tumben putri Batak bisa senyum manis begini. Biasanya juga senyum sadis yang mengiris sampe nangis is, is, is, is, hehe.”

“Zi, Zi, lama sudah kita bersahabat, pikir aja sendiri!” Cetusku.

“Mmmm, mulai deh bataknya keluar. Ngomong baik-baik saja seperti berantem. Gimana kalau berantem beneran, ya?” Lagi-lagi dengan terpaksa kusuguhkan senyuman sadisku agar Zizi berhenti berkomentar.

“Ziziku tersayang, yang jelas mereka itu dah out. Lupain ah! Yang jelas kita pada putus dengan lumayan baiklah, hehe.”

“Seriusan baik-baik?” Tanya Zizi dengan penuh selidik.

“Iihhhh, parah! Sahabat sendiri diragukan. Aku dan Rezi itu sudah lama putus Zi. Memang dianya aja yang sering nempel kayak perangko. Kalau Alghi dan Riky, clear!” Terangku dengan lagak A Winner.

Karena bahagia, untuk kesekian kalinya aku tersenyum dengan senyuman yang benar-benar manis. Ingat! Manis bukan sadis. Hingga secara tiba-tiba dengan terburu-buru Zizi berdiri dan langsung pergi meninggalkanku sambil berucap “Ihhhhhhhhhh, benar-benar sadis!”

Ufffhhh senyum semanis ini masih dibilang sadis? Luar biasa rabun si Zizi. Mata sudah empat kok kayaknya masih kurang. Kubuntuti Zizi dari belakang. Upss, ternyata dosen kami sudah masuk.

***

Perkataan Zizi terbukti sudah. Dia selalu mengingatkanku untuk tetap istiqamah dengan ujian yang pasti akan datang. Aku teringat salah satu ayat al-Qur’an yang sering dibacakan Zizi untukku. Bahwasanya Allah akan menguji hamba-hamba-Nya untuk melihat kualitas ketakwaannya. Dan sekarang aku benar-benar merasakannya.

Bukan hanya teman-temanku saja yang mungkin masih sedikit kaget atas perubahan gaya jilbabku sehingga mereka mungkin menjadi merasa tidak enak hati atau segan untuk menegur atau hanya sekedar berbincang-bincang seperti dulu. Bukan hanya Rezi dan Alghi yang terus menerorku dengan sms-sms rayuan ala playboy cap teri. Ya jelas tak mempan lagi, udah kebal. Tapi Ibu, sepertinya shock melihat jilbab ‘lebar’ yang kukenakan. Bahkan untuk memelukku setelah hampir setengah tahun tak berjumpa, sepertinya ibu ragu atau tidak yakin kalau gadis manis di hadapannya adalah aku, Brina Siregar.

Kedatangan ibu ke Medan yang kali ini untuk membesuk anaknya yang berada di perantauan dalam rangka menuntut ilmu ini menjadi lebih berwarna. Ibu lebih banyak memandangiku dari pada memeluk atau menciumiku seperti biasanya. Berbeda dengan Pak Regar, ayahku. Ayah malah lebih bersikap ‘manis’ melihat perubahanku walaupun tidak terang-terangan membelaku.

Di kontrakan kecil seperti ini, suara bisikan pun tetap kedengaran. Aku yang terlebih dahulu masuk kamar untuk istirahat ternyata tidak mampu memejamkan mata. Bukan karena galau atau bimbang. Tapi aku sedang berkonsentrasi penuh mendengarkan diplomasi ayah terhadap ibu mengenai perubahanku disela-sela TV yang masih bercuap-cuap menemani ayah-ibu. Jadi, aku harus konsentrasi untuk bisa mendengarkan mana perbincangan ayah-ibu dan mana perbincangan sinetron dalam TV.

***

Selesai Shalat Subuh, aku masih terngiang dengan perkataan ibu yang mengatakan penampilanku seperti terorislah, aliran sesatlah, yang fanatiklah, blablabla. Waduuh, kepalaku nyut-nyut kalau mengingatnya. Bu, bu, jauh nian pikiranmu.

Hari ini aku membantu ibu belanja oleh-oleh buat adik-adik di kampung. Setelah itu kami akan langsung meluncur ke loket bus ALS. Bus inilah yang  nantinya akan mengantarkan ayah dan ibu sampai ke kampung halaman. Aku sempat mempertanyakan penampilanku pada ibu sesampainya di loket yang penghuninya rata-rata sudah kukenal karena mereka berasal dari kampung yang sama denganku.

Ibu tersenyum saat kukatakan apakah hari aku terlalu cantik sehingga semua mata seolah-olah tertuju padaku? Ibu hanya mengatakan jilbabkulah yang menjadi penyebabnya. Aku positif thinking saja. Segitu mempesonanyakah diriku dengan jilbab ini sehingga semua mata tertuju padaku? Hanya itu yang ingin kutafsirkan. Titik.

***

Baru sebulan aku mengenakan jilbab dengan benar, rasanya benar-benar nikmat berjuang untuk terus mempertahankannya sambil terus memahamkan teman-teman tentang pilihanku ini. Perubahan ini tidak boleh memutuskan tali silaturahim. Tekadku kuat ketika sebulan terakhir ini aku belum juga mampu untuk kembali mengikat tali silaturahim yang mungkin menurut mereka terputus karena perbedaan prinsip kami sekarang. Bersyukur masih ada Zizi yang selalu menguatkan.

….Kau mujahidah al-Khansa di abad ini

Didiklah generasi penerus perjuangan para nabi….

Senandung Nasyid dari Suara Persaudaraan ini menjadi pertanda ada sms masuk.

“Asslkm, Brina. Tadi siang aku dan Rezi iseng jalan-jalan ke kampusmu. Tidak disangka kami melihatmu di pelataran Masjid. Sekarang kami mengerti. Kita masih tetap friend kan? Alghi.”

Secepat kilat kubalas sms Alghi dengan sedikit banyolan.

“Wlslm, Anda orang yang beruntung. Pendaftaran belum ditutup dan anda diterima sebagai teman dari saudari Brina Siregar. Hehe…”

Orang ini. Yang tidak masuk list malah yang duluan mulai menyambung silaturahim. Mmm, tapi syukurlah satu bebanku terselesaikan sudah. Rasa bersalahku terhapus sudah. Teman-temanku? Mungkin mereka hanya perlu beradaptasi dengan perubahan ini dan aku juga sedang beradaptasi dengan perubahanku sendiri, aku mengenakan simbol seorang muslimah sekarang. Aku tak ingin dikatakan beragama Islam tapi tak muslim.

Ujian Akhir Semester sudah selesai. Saatnya pulang kampung. Dalam bus ALS yang kutumpangi, nasihat dari guru ngajiku terus terngiang-ngiang, “Brina, berbuatlah sebelum berbicara. Itulah dakwah sesungguhnya.” Itu artinya, aku harus menunjukkan action dulu sebelum bercuap-cuap.

Udara dingin mulai menusuk tulang belulangku. Ini pertanda, sebentar lagi aku akan sampai ke tujuan, kampungku yang membekukan. Seperti biasa, aku disambut gembira oleh adik-adikku. Tetapi lebih tepatnya oleh-olehku yang mereka sambut. Dasar anak ABG. Tapi kali ini, mereka sempat tercengang melihat jilbab yang kukenakan sama seperti ibu ketika pertama kali melihatku.

Seperti strategi Rasulullah yang menawarkan Islam langsung ke raja-raja atau penguasa, maka akupun menjadikan ibu sebagai target utama. Karena ketika ibu sudah sepaham dan menerima prinsip yang kupegang, maka ibu akan mendorong adik-adik untuk sama seperti aku. Maka kuberazam akan memulainya dengan perbuatan, baru kemudian perkataan.

Yang dulunya Subuh hampir selalu kesiangan, sekarang aku harus bisa bangun lebih dulu dari ibu. yang dulunya harus menerima perintah dari ibu baru kumulai bekerja, sekarang tanpa disuruh pun aku mulai bekerja. Dari cuci piring hingga cuci piring kembali. Begitu setiap hari. Ternyata, jadi anak baik itu menyenangkan. Disamping mendapat pahala, aku juga diamanahkan menjadi asisten ibu selama libur semester ini. Aku diajari cara me-manage uang belanja keluarga bahkan sekarang pendapatku sangat dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan yang bersangkutan langsung dengan keadilan dan kesejahteraan keluarga ini. Prestasi yang luar biasa!

Selidik punya selidik, ibu sepertinya mulai menghapus pikiran-pikiran negatifnya mengenai jilbabku. Malah ibu sempat memujiku di depan adik-adik. Kata Dhika adikku, ibu bilang aku semakin dewasa dengan jilbab. Semakin sabar menghadapi kenakalan Dhika CS. Dan semakin mengerti kewajibannya sebagai anak, blablabla. Dhika sampai lupa apa-apa saja yang dikatakan ibu karena panjangnya komentar dan nasihat yang ibu berikan. Kebiasaan ibu memang tidak pernah berubah. Sekali berkhutbah di depan anak-anaknya, bisa sampai sejam. Ibu yang luar biasa.

Tidak terasa, libur panjang selama sebulan lebih sudah berakhir. Kuciumi adik-adikku satu persatu. Kupeluk ibu dan ayah sesaat sebelum kulangkahkan kaki menuju bus ALS. Ternyata, ibu menangis. Dengan suara parau ibu berpesan, “Nanti ketika adikmu sudah kuliah di Medan, ajak dia untuk ikut ngaji agar dia bisa seperti kamu.” Tanpa menunggu aba-aba dari yang empunya, air mataku berjatuhan dengan derasnya.

Ayah hanya tersenyum melihat dua wanita yang ia cintai saling tangis menangisi. Kupeluk ibu erat. Rasanya tak ingin kembali ke perantauan. Senja itu adalah senja terindah dalam hidupku. Kudapat restu dari ibu dan ayah. Aku semakin yakin dengan pilihanku untuk menggunakan jilbab sesuai syariat-Nya. Aku sungguh mencintai-Mu Rabb, teriakku dalam hati.

Hari yang cukup melelahkan setelah semalaman dalam perjalanan. Hari ini ingin kuhabiskan waktu di rumah saja. Selain bersih-bersih, aku juga tak ingin beraktivitas terlalu banyak. Ingin tidur lebih awal agar aku bisa menemui-Nya di sepertiga malam nanti. Sungguh, aku benar-benar ingin menemui-Nya. Mengucap syukur dan melepaskan tangis bersama-Nya. Mengucap syukur atas kemudahan dan kekuatan yang diberikan-Nya. Mengucap syukur atas hidup sebagai seorang muslimah yang baru.

Semester baru dan baju biru yang kukenakan cukup matching untuk suasana hatiku yang lagi haru biru karena bahagia. Zizi menjadi orang pertama yang mendengar berita bahagia ini.

“Tapi, ingat ya Brinaku sayang. Semakin tinggi pohon, maka anginnya pun semakin kencang. Semakin tinggi keimanan seseorang, maka ujiannya pun akan semakin berat. Itu untuk membuktikan akreditasi keimanan kita,” ucap Zizi dengan gaya ala penyair yang berapi-api.

“Iya, iya, ” jawabku ketus yang dibalas Zizi dengan tawa kecilnya.

…kau mujahidah al-Khansa di abad ini

Didiklah generasi penerus perjuangan para nabi….

Lagu kesukaanku mulai terdengar, tanda ada sms masuk.

Private Number? Siapa ya?” Batinku.

“Assalamualaikum ukhti Brina yang shalihah, sungguh engkaulah wanita dengan sejuta pesona itu. Semakin mempesona dengan jilbab yang kau kenakan sekarang. Ana hanya ingin mengatakan, uhibbuki fillah. _Your Secret Admire_”

Gubraaaaaaak, buaya dikadalin? Ya, ndak mempan! Laki-laki memang sama saja. Tukang gombal hanya beda redaksinya saja. Substansialnya sama, gombaaaaaaaaal!

Tapi kok sepertinya hatiku cenat-cenut, inikah ujian selanjutnya? Don’t worry Brina, Allah selalu bersamamu.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Junkusay
Alumni Psikologi UMA. Aktivis KAMMI. Bercita-cita jadi Psikolog Anak. Pecinta dunia Traveling, photography, tulis menulis and ODOJers 63.
  • wita

    Keren kk junkusay.. lanjutkan. Di tunggu cerpen selanjutnya.. (y)

Lihat Juga

Nonton Bareng Dan Pengajian Hijrah Ala Fokma Perak