Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Semua Sisa untuk-Nya  

Semua Sisa untuk-Nya  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Bismillah. Tadi sore (Ahad tanggal 4 Mei 2014, red.) mendapat taujih dari group ODOJ (One Day One Juz). Taujih tersebut dikirim setelah Ashar dan baru bisa kebaca setelah Maghrib sebab sesampainya dirumah tiba-tiba seluruh tubuh mengigil. Mungkin rendahnya suhu tubuh dipengaruhi seharian di ruangan ber-AC. Selama dalam ruangan sangat adem tanpa menggunakan jaket, dan biasanya berada di suhu dingin harus menggunakan baju tebal. Taujih tersebut diperoleh dari ustaz kondang dari Tanah Pasundan (KH.Abdullah Gymnastiar) yang menjelaskan mengapa manusia banyak memberi “sisa” pada pemilik jiwa manusia.

Sholat hanya sisa kesibukan. Sedekah sisa belanja dan jajan. Zikir sisa ngobrol. Membaca al-Qur’an sisa SMS/BBMan. Mencari ilmu sisa main dan jalan-jalan. Pokoknya serba sisa, sisa, sisa! Sungguh kita terlalu bersikap seperti itu.

Perlu kita bertanya dengan diri sendiri. Perlu komunikasi dengan diri sendiri dan ada apa dengan kita sehingga teruntuk Allah selalu kebagian sisa? Sedangkan yang berkaitan dengan dunia selalu diutamakan, diprioritaskan dan selalu tepat waktu. Apakah benar jiwa kita sudah dipenuhi tujuan dunia? Apakah benar uang adalah segalanya? Apakah benar jabatan dan pekerjaan membuat kita lupa untuk memuji-Nya? Tanyalah dengan penuh kekhusyu’an, ketenangan dan rasa menyesal, “Mengapa hanya memberi sisa teruntuk-Nya?!”

Padahal Allah mengaruniakan segala yang terbaik untuk kita siang dan malam. Padahal kebahagiaan, keselamatan, dan kemulian sepenuhnya ada dalam genggaman-Nya. Jika Allah sudah berkehendak begitu, mudah mengatakan Kun, maka pasti terjadi. Bukankah bumi dan seisinya adalah tentara Allah? Padahal musibah dan kematian kian dekat. Padahal segalanya pasti diperhitungkan, apa yang telah kita kerjakan dan pasti ada balasannya yang setimpal.

Apakah kita tidak rindu mendapat keberkahaan dari-Nya? Apakah kita tidak ingin dimuliakan oleh Allah dunia dan akhirat? Apakah kita tidak menginginkan surga-Nya yang berlimpah kenikmatan tidak sebanding dengan kenikmatan dunia? Apakah kita tidak  ingin ketenangan jiwa dengan berbanyak mengingat-Nya? Apakah kita tidak berharap menjadi golongan yang diselamatkan nanti di Yaumil Akhir? Apakah tidak rindu untuk bertemu dengan Rasullah saw?

Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada kesempatan, dan mumpung badan masih sehat, mari perbaiki itu semua. Utamakan waktu untuk beribadah pada-Nya. Utamakan waktu untuk terus menambah ilmu pengetahuan. Utamakan waktu untuk membantu sesama.

Ya Rabbi, jangan jauh dari hamba yang sangat membutuhkan-Mu di setiap detak jantung, kaki melangkah, dan mata memandang.

Ya Rabbi, maafkan karena begitu terlena dengan dunia, terlalu sibuk dengan hal yang tidak berkepentingan, terlalu sibuk menghabiskan waktu yang membuat diri semakin jauh dari-Mu.

Ya Rabbi, jika diri terlalu jauh dari-Mu, berikan ujian agar bisa dekat dengan-Mu. Agar bisa khusyu’ bersujud pada Engkau. Agar ketika berdoa pada-Mu mampu meneteskan air mata taubat. Agar mulut selalu melantunkan nama-Mu dan agar kaki ini melangkah pada tempat Engkau Ridhai.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

Mobile Masjid Diserbu Pengunjung Pentas Seni

Mobile Masjid Diserbu Pengunjung Pentas Seni