Home / Berita / Opini / Surat Cinta untuk Guru Indonesia  

Surat Cinta untuk Guru Indonesia  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Assalammualaikum wr wb.

Bagaimana kabarnya wahai saudaraku,  para guru di manapun berada?  Semoga selalu dalam limpahan rahmat dan kurnia Allah Swt.  Kita bersyukur pada Allah Swt,  atas segala nikmat dan karunia-Nya, termasuk  kesempatan berharga yang diberikan Allah  pada kita menjadi seorang guru sebagai profesi yang akan melapangkan jalan untuk meraih keridhaan-Nya menuju surga yang indah. Selawat salam buat junjungan Nabi Besar Muhammad Saw, yang telah memerankan tugas keguruan  dengan baik dan benar sehingga dapat mengambil hati para sahabat dan umatnya sampai akhir zaman. Sekalipun beliau sudah tiada, namun nama dan jasanya tetap terkenang sepanjang masa sampai dunia menutup usia.

Saudaraku yang berbahagia

Pada momen penting ini, peringatan Hari Pendidikan Nasional yang telah kita lewati. Saya sengaja menulis surat khusus ini sebagai bentuk cinta tulus saya pada saudara para guru di manapun berada. Bagi saya dan juga kebanyakan orang,  merasakan  sekali keberadaan penting guru dalam kehidupannya. Maka perkenankanlah saya menyapa kita semuanya di seluruh penjuru Nusantara, sekalipun tidak bisa berjumpa dan bertatap muka.

Saudaraku yang Dimuliakan,

Menyapa guru sama hal dengan menyapa orangtua. Karena guru merupakan orangtua kedua setelah ayah dan bunda di rumah . Banyak peran dan tugas wajib ayah bunda dikerjakan oleh para guru . Tidak ada satu pun manusia di atas dunia ini yang lepas dari sentuhan tangan, pikiran dan hati seorang guru. Kita hari ini, menjadi guru juga merupakan hasil kerja keras dan usaha maksimal guru-guru kita. Untuk itu,  ingatlah selalu jasa-jasa mereka, hormatilah mereka sebagaimana kita menghormati ayah bunda. Cintailah mereka sepenuh hati sebagaimana mereka telah mencintai kita sepenuh jiwa tanpa pamrih. Apabila ini telah kita lakukan, maka perlakuan yang sama juga akan diterima dari anak didik kita .

Saudaraku yang Mulia,

Menjadi seorang guru merupakan sebuah kemuliaan. Karena guru mengerjakan tugas mulia untuk memuliakan manusia agar menjadi makhluk yang mulia. Orang yang mampu untuk mengemban tugas mulia ini adalah orang-orang mulia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Allah Swt. memuliakan seseorang guru  dengan mengangkat derajatnya karena tugas mulia yang diperankannya sepenuh hati. Sebagaimana termaktub  dalam kitab-Nya.

Saudaraku, Banyak orang yang kagum melihat sesorang pengusaha sukses mengendalikan usaha bisnis yang menggurita sampai  ke mancanegara. Kagum melihat seorang  Sarjana Arsitek,  membangun gedung  bertingkat yang indah dan mempesona. Salut dengan kemampuan seorang Ahli Geologi dan Geofisika yang mampu memprediksi gejala alam, sangat berguna untuk kehidupan manusia. Banyak lagi orang-orang sukses yang kita kenal. Mulai Dokter Spesialis, Insiyur, Ahli Metrologi, Ahli Pertambangan, Sastrawan tenar, Olahragawan, para Jendral sampai  pada Presiden .

Semua mereka itu adalah hasil karya para guru yang bisa saja diantara mereka adalah anak-anak didik yang  pernah bersama kita. Apakah kita tidak bahagia melihat anak didik kita bahagia karena berhasil meraih cita-citanya? Apalagi diantara mereka, ada yang  shaleh atau shalehah dan menjadikan profesinya sebagai sarana untuk mengharapkan ridha Allah Swt. Mereka sekarang menjadi orang yang mulia, dibanggakan makhluk bumi dan juga dimuliakan oleh makhluk langit. Maka gurulah yang berhak memetik hasil kemuliaan ini. Karena telah berhasil mengantarkan anak didik  menjadi orang yang mulia.

Saudaraku yang tengah Berjuang,

Menjadi seorang guru berarti  melanjutkan tugas dan peran Nabi dan Rasul Allah. Dia mengutus Nabi dan Rasul sebagai orang pilihan untuk mendidik, membimbing dan mengarahkan umatnya pada jalan kebenaran dan kebaikan. Setiap umat atau kaum ada gurunya masing masing yaitu Nabi dan Rasul Allah . Orang Islam guru utamanya adalah Rasulullah Saw yang telah memberikan format yang jelas menjadi seorang guru yang dicintai. Oleh karena itu wahai saudaraku, telusurilah sejarah panjang perjuangan Rasulullah Saw. niscaya kita akan memperoleh banyak mutiara hikmah dalam melaksanakan misi mulia ini.

Saudaraku yang Beruntung,

Tidakkah kita ingat bahwa tugas yang kita emban ini merupakan investasi akhirat? Luar biasa. Sekalipun kita sudah tiada, namun pahala akan tetap mengalir untuk menerangi kubur  dan meringankan beban kita di akhirat. Mari kita sempurnakan kerja, berikanlah usaha yang terbaik dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa dan murnikanlah keikhlasan  pada Allah Swt. sehingga setiap kerja kita bernilai ibadah dan menghasilkan pahala.

Saudaraku, banyak sekali karunia Allah Swt. yang diberikan pada kita. Di dunia dan akhirat  sana, yang tidak dimiliki oleh orang–orang yang berprofesi lain. Apalagi yang saudara  bimbangkan dalam melaksanakan tugas ini? Kenapa kita masih belum maksimal dan optimal dalam mengerjakan peran ini? Kenapa semangat kita  melemah? Melihat beratnya tugas, sulitnya medan dan banyaknya rintangan yang datang silih berganti. Ketahuilah wahai saudaraku, semakin berat perjuangan dan besar pengorbanan semakin berat timbangan kebaikan dan besar pahala yang akan diperoleh.

Secara jujur diakui, bahwa kita belum maksimal melaksanakan tugas besar ini. Masih ada di antara guru yang belum bersungguh-sungguh menunaikan kewajibannya. Bahkan ada di antara guru yang justru melakukan tindakan dan perbuatan yang bertentangan dengan misi suci ini. Seandainya ini terjadi atau telah terjadi, mana mungkin harapan besar yang tertopang di pundak kita untuk mencetak kader bangsa yang berkualitas akan dapat dipenuhi? Marilah kita renungi posisi yang luar biasa ini. Jangan sampai kesempatan emas ini kita sia-siakan.  Kembalilah pada khittah awal  untuk menjadi teladan bagi anak didik  dengan cara mengambil hatinya sehingga kita berhak menjadi guru yang dicintai sepanjang masa.

Wahai saudaraku, terpikul tanggungjawab besar dari diri kita dalam menyongsong masa depan agama, bangsa dan negara yang lebih baik dengan mengisi hati dan pikiran anak didik kita. Sehingga kelak menjadi pemimpin yang adil, amanah dan dapat mensejahterakan rakyatnya.

Demikianlah surat cinta ini saya tujukan pada seluruh guru di manapun berada.  Semoga sapaan  ini akan memberikan secercah manfaat dan harapan agar kejayaan para guru terulang kembali, sebagaimana guru-guru terdahulu yang telah mengukir prestasi pada masanya.  Atas perhatian dan penghargaanya, saya ucapkan terima kasih. Dan balasan surat ini,  dari sahabat guru yang lain, sangat diharapkan guna menjalin silaturahim di antara kita. Wassalam.

Batusangkar,  Mei 2014

Dari Sahabatmu,

Drs. Dedi Irwan

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Hidayat: Guru yang Menegakkan Disiplin Tidak Dapat Dipidanakan