Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kendalikan Diri, Kendalikan Hati  

Kendalikan Diri, Kendalikan Hati  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pernah dikisahkan, suatu hari setelah usai mengikuti pertempuran yang hebat, Jengis Khan beristirahat sejenak melepas lelah di tepi air terjun kecil ditemani burung rajawali yang selalu mengikutinya. Sengaja ia mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari serdadunya agar bisa beristirahat dengan tenang tanpa diganggu. Beberapa saat kemudian, ia merasa haus dan segera membawa wadah yang terbuat dari tanah liat (kalau sekarang mungkin semacam mangkok atau gelas) untuk menampung air dari air terjun di dekat tempatnya berteduh.

Ketika hendak menampung air dengan tempat airnya itu, tiba-tiba burung rajawali peliharaannya menyambar mangkuk tersebut hingga jatuh. Jengis Khan kaget dibuatnya. Karena hal tersebut tak pernah dilakukan oleh rajawalinya yang setia.

“Hmm, Nampaknya dia hanya ingin bercanda,” pikirnya dalam hati

Diambillah mangkuk yang terjatuhu dan mencoba kembali menampung air dengannya. Untuk kedua kalinya, burung rajawali peliharaannya menjatuhkan mangkuk yang dipegang sang Panglima. Kali ini, sang rajawali menghentaknya dengan sangat keras sehingga mangkuk tersebut terpental cukup jauh. Jengis Khan menjadi jengkel karenanya. Jika sekali mungkin ini bisa dianggap bercanda, namun untuk kedua kalinya maka ini seperti pelecehan baginya. Dengan murka dirinya mengancam akan menyembelih burung rajawalinya jika hal itu dilakukannya lagi.

Lalu Jengis Khan memungut kembali mangkuk yang terbuat dari tanah liat itu untuk mencoba menampung air dengannya. Baru saja ditengadahkan di bawah kucuran air terjun, sang rajawali tanpa terduga kembali menyambar mangkuknya dengan sangat keras hingga terpental jauh dan terpecah.

Tak lagi menahan kesabarannya, diayunkan pedang perangnya ke arah burung rajawalinya hingga putuslah leher sang rajawali dan terlepaslah jiwa dari raganya. Puas melampiaskan kemarahannya, Jengis Khan mencoba menaiki ujung tebing yang merupakan tempat sumber mata air itu berada untuk meminumnya dan sekaligus melihat-lihat keadaan sekitar. Begitu ia sampai di atas, betapa kagetnya ia melihat ada bangkai binatang yang membusuk tergenang tepat di sumber mata air tersebut. Seketika itu, ia menyadari bahwa rajawali piaraannya sejak tadi hendak memberitahukan kepadanya bahwa air yang ingin diminumnya sudahlah tercemar bangkai membusuk dan bukan tak mungkin akan bisa membunuhnya.

Dengan sedih ia menatap ke arah mayat burung rajawali yang baru saja ditebasnya. Betapa sedih dan menyesalnya atas perbuatannya itu. Dihampirinya jasad rajawali, dilepasnya baju perang yang dipakainya untuk digunakan membungkus jasad rajawali dan kemudian dimakamkan dengan terhormat menggunakan upacara kemiliteran.

Sebagai panglima perang, Jengis Khan begitu hebat nan perkasa mengalahkan musuh-musuhnya. Namanya tersohor di seluruh dunia. Bahkan hingga kini sejarah kehebatannya tak lekang dimakan usia. Namun kehebatannya menaklukkan dan menguasai orang lain bukanlah jaminan baginya untuk dapat mengalahkan dan menguasai dirinya. Ia menyadari bahwa sangatlah penting baginya dan seluruh pasukannya untuk dapat menguasai dirinya sebelum menguasai orang lain.

Melalui kisah tersebut, kita belajar tentang pentingnya mengendalikan diri. Karena kebijaksanaan seseorang amatlah terlihat dari sepandai apa ia mengendalikan dirinya. Pengendalian diri merupakan salah satu aspek terpenting dalam hidup, karena musuh terbesar bagi manusia (selain setan laknatullah ‘alaih) bukanlah orang lain atau sesuatu di luar dirinya. Musuh terbesar bagi manusia adalah apa yang terdapat dalam diri, pikiran dan hatinya.

Mengendalikan diri berarti mengendalikan hati dari berbagai noda hitam yang menutupi, mengendalikan pikir dari berbagai macam prasangka negatif yang menghampiri, juga mengendalikan raga dari melakukan segala perbuatan yang berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

Kemampuan mengendalikan diri bukanlah kemampuan yang turun dari langit, yang serta merta dimiliki tanpa adanya ikhtiar untuk mendapatkannya. Kemampuan mengendalikan diri adalah usaha sadar yang dilakukan manusia sejak dini melalui proses panjang nan berliku dan didapatkan dari berbagai hikmah selama berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya juga interaksi dengan Tuhannya.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari cerita Jengis Khan di atas adalah bagaimana pentingnya mengendalikan diri dari berbagai emosi, khususnya terhadap rasa marah. Senang, sedih, marah, takut, kecewa, dan beragam emosi lainnya adalah fitrah yang dimiliki manusia sejak dilahirkan ke dunia. Hal itu tak bisa kita tolak kehadirannya. Namun bukan berarti kita tak sanggup mengendalikannya. Emosi yang muncul seketika dengan kadar sewajarnya adalah hal yang manusiawi terjadi pada setiap manusia. Namun menjadi tak wajar ketika emosi itu mengendalikan diri kita sepenuhnya, menutup akal sehat, mengunci hati nurani, hingga menjerumuskan diri untuk melakukan perbuatan yang dibenci manusia sekitarnya, terlebih lagi oleh Sang Maha Pencipta.

Sangatlah besar hikmah yang akan didapat bagi mereka yang mampu mengendalikan dirinya. Allah swt dan Rasul-Nya menyampaikan hal ini dengan sangat jelas kepada kita.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133-134)

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah pernah mengatakan,

Bukanlah orang yang kuat itu ialah yang selalu menang dalam pergulatan, tetapi orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada Hari Kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” (HR. At-Tirmidzi)

Serta banyak dalil lainnya yang menyatakan besarnya keutamaan bagi mereka yang mampu mengendalikan diri.

Tentunya, mengendalikan diri dari emosi tak hanya terbatas pada aspek mengendalikan emosi kemarahan semata. Ada banyak emosi lainnya yang juga memiliki potensi besar untuk menjadikan diri tak berdaya hingga tak sadar telah melakukan perbuatan yang mengundang murka-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang mampu mengendalikan diri dari segala dosa. Mengendalikan hati dari berbagai noda dan penyakit yang menutupi. Mengendalikan pikiran dari berbagai prasangka negatif kepada Sang Khalik dan makhluk-Nya. Mengendalikan raga dari segala perbuatan yang mampu mengundang murka-Nya dan menjadi penyebab dimasukkanya kita ke dalam neraka.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Komarudin
Pendidik, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Flowing Quran, MC, Pegiat Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Jakarta.
  • Faishal Abdillah

    mantap bang komar,,, hadza i’laanul khoyyiroh

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Sebutir Noda di Hati

Organization