Home / Pemuda / Cerpen / Surprise Cinta

Surprise Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Waduuuh… Ternyata jadi reporter ribet juga ya?” Keluhku pada Sanjaya, juru kamera yang selalu ada di sampingku. Kemana-mana kami selalu bersama, kalau kata orang nih, kami lengket kayak prangko, hehe.

Inilah aku Alexa Lovato, muslimah yang hijrah secara kaffah1 di waktu kuliah dulu, aku anak Psikologi yang bercita-cita menjadi Psikolog Anak, tapi nyasar jadi reporter. Entahlah, mungkin takdir yang membawaku ke dunia ini, dunia yang penuh dengan tantangan. Semangat!

25 Juni 2009

Inilah hari pertamaku sebagai seorang reporter muda alias junior. Teman-temanku tidak ada yang percaya saat kubilang diterima di salah satu stasiun TV sebagai reporter. Kebanyakan mereka berkomentar soal jilbabku, apa gak gerah dengan cuaca yang amat sangat panas? Apa gak berkibar tuh jilbab kalau lagi lari-lari ngejar sumber  info atau tersangkut di pagar orang pas lagi meliput atau ditarik sama anak-anak dikirain layangan? Banyak deh komentar-komentar aneh yang menggelikan tentunya. Bagiku, semua itu adalah bunga-bunga kehidupan.

7 September 2009

Tugas pertamaku yang bikin nervous bin deg-degkan karena stasiun TV kami satu-satunya yang diperbolehkan meliput kehidupan sehari-hari salah seorang pemain sepak bola nasional. Dia lagi hot-hotnya diperbincangkan masyarakat. Dalam waktu dekat, dia akan mengikuti kejuaraan Internasional. Aku masih belum percaya dikasih tugas sepenting ini. Aku kan masih baru di dunia ini. Tapi bosku bersikeras kalau aku orang yang paling tepat untuk tugas ini. Okelah Bos kalau begitu. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik.

Amanah pertama yang penuh tantangan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi batu loncatan agar bisa lebih kompeten. Liputan ini pasti cukup melelahkan karena aku akan meliput kehidupan sehari-hari seorang atlet yang super sibuk dari terbit sampai terbenam matahari, dari mau tidur sampai tidur lagi,  selama seminggu. Seminggu….!

Duuuhhh…..terasa makin berat saja tugas ini.

9 September 2009

Besok  pertempuran sudah dimulai, ngisi amunisi dulu ah…. Tahajjud dengan bumbu tilawah secukupnya  kurang lebih satu juz. Mudah-mudahan tugasku ini bisa berjalan dengan lancar, aamiin.

10 September 2009

Gak nyangka reporter kelas teri sepertiku ini bisa jadi bahan obrolan teman-teman sekantorku. Bahkan reporter papan atas juga ikutan ngegosipin reporter papan pintu ini! hehe. Heran…heran.

Sebagai wanita berjilbab kain gorden (kata rekan kerjaku dalam guyonannya,hehe) satu-satunya di tempat kerjaku ini, aku hanya menanggapi dengan senyuman. Aku tidak habis pikir bakalan digosipin sama si Bos cuma gara-gara dia memberikan tugas ini.

Aku sich gak apa-apa. Santai saja. Dan memang tidak ada apa-apa. Tapi kasian dengan si Bos. Mr. Zoe, begitulah aku memanggil bosku. Di usianya yang masih cukup muda, 28 tahun, ia sudah ditinggal oleh istri tercinta. Lebih kasian lagi, Kafka, bocah yang baru berumur dua tahun itu sudah tidak bisa merasakan dekapan, lembut belaian, hangatnya ciuman dan perhatian dari ibunya. Uuhh… Jadi sedih, ingat ibu di kampung.

Baru dua bulan yang lalu si Bos ditinggal mbak Ayu, istrinya. Air matanya pun belum kering. Eh, sudah digosipin sama anak-anak, ckckck. Teganya, tega…tega….tega!

Tega banget sich ngegosipin aku ada hubungan spesial sama Bos? Sampai ada yang bilang Bos memberi tugas ini supaya bisa PDKT. Karena menurut mereka, si Bos sedang mencari ibu baru buat Kafka. Katanya sih, kriterianya tidak jauh-jauh dari mbak Ayu. Meski jilbabnya almarhumah mbak Ayu gak sepanjang jilbabku, tetapi sudah memenuhi kriteria jilbab syar’i. Nah, itu dia alasan mereka.

Pinter banget ya mereka kait-mengkaitkan kondisi orang? Jadi kesal juga nih. Biarkanlah apa kata mereka seperti kata pepatah, “Anjing menggonggong kafilah berlalu.”

11 September 2009

Tidak terasa, dua hari sudah berlalu dengan terus mengikuti kegiatan si pesepak bola. Alghi, biasa ia dipanggil. Tapi aku mulai merasa tidak nyaman. Apa mungkin gosip yang kuanggap murahan itu ternyata benar adanya? Si Bos memang menginginkan aku jadi ibu buat Kafka? Oh, Rabb… (aku kok jadi senyum-senyum begini?).

Gimana gak aku berpikiran sedemikian rupa, habis si Bos tiap hari nanyain biodataku mulu. Dari kegiatanku sehari-hari di luar kerja sampai kondisi lingkungan dan keluargaku. Tidak puas apa si Bos dengan data yang sudah ada di file kantor? Aku jadi GR ney, hehe.

Bingung jadinya, sekarang yang diliput siapa sih? Aku atau Alghi? Kok sepertinya aku yang banyak diinterview sama si Bos. Belum lagi ditambah Alghi nan sombong. Ihhh, geram! Senyum saja gak mau. Aku kan hanya berusaha seramah mungkin. Masa’ pas aku senyumin dia malah buang muka? nyebelin banget kan? Baru jadi pesepak bola nasional, gimana coba kalau dunia Internasional mengenalnya? Tidak bisa kubayangkan!

Sabar, Lex. Sabar…

13 September 2009

Eh….eh…., si Bos makin gencar saja kayaknya. Lama-lama capek juga ladenin pertanyaan si Bos. Gak tahu apa dia kalau aku ini aktivis dakwah? Kalau memang naksir aku, ya sudah, bilang saja langsung sama murobbiyahku2. Tapi si Bos mana ngerti istilah murobbi ya?

Belum lagi dengan Kafka, kayaknya si Bos berusaha keras supaya aku bisa dekat dengan anaknya itu. Masa’ Kafka dibawa ke lokasi shooting dan kalau Kafka ingin ini itu, aku yang disuruh ngurusin. Aku kan reporter yang lagi meliput seorang atlet yang sok cool bukan babby sitter Bos?!

Sebenarnya sih tidak masalah kalau aku disuruh ngurusin Kafka karena memang aku suka banget sama anak-anak seperti cita-citaku yang belum kesampaian menjadi Psikolog Anak. Tapi masalahnya, Alghi si atlet yang tidak mau senyum itu malah sering mentertawakan aku pas ngurus Kafka. Memang, aku suka dan sering berinteraksi dengan anak-anak. Tapi kalau ngurus keperluan seorang anak berusia dua tahun dari A sampai Z aku kerepotan juga. Inikan pertama kalinya bagiku. Dasar atlet tidak punya perasaan?! Aku kan malu kalau sering diketawain begitu. Lihat saja nanti kalau kamu sudah punya anak dan istrimu tidak pernah belajar ngurusin anak seperti aku sekarang ini! Kujamin deh kalian bakalan kerepotan dan gantian aku yang bakalan mentertawakan kamu. Ilmu tendang-menendang bolamu itu tidak berguna untuk urusan yang satu ini. Tenang, Lex, tenang. Don’t be angry!

15 September 2009

Hari ke lima meliput Alghi. Dan hari ke tiga si Bos bawa Kafka ke lokasi. Kayaknya aku sudah mulai sayaaaaang banget sama Kafka. Walaupun baru tiga hari bersama, kami sudah bisa dekat. Aku juga heran, tumben anak kecil seperti Kafka ini bisa cepat ditaklukinnya. Deg, jantungku berdetak, kencang, sedikit menyesakkan, apa ini pertanda?

Ini memang memperkuat dugaanku tentang si Bos. Apa iya si Bos bakal jadi teman hidupku? Jadi orang yang selalu ada di sampingku? Aku tidak menyangka bakal langsung punya anak umur dua tahun. Ini berarti doaku tiap malam untuk ditemani oleh seorang hamba Allah yang aktifis dakwah nan tangguh, seorang yang akan menuntunku untuk lebih dekat dan mencintai Rabbku tidak diijabah?3 Dan kalau si Bos, kayaknya malah aku yang harus menuntun dia untuk mengenal dakwah. Hikz….hikz.

Tapi kalau dilihat-lihat, si Bos rajin juga sholatnya. Malah pernah menjadi imam sama Alghi. Si atlet arogan itu rupanya juga sholat. Keren, keren. Kan jarang ada atlet yang menyempatkan sholat di tengah-tengah latihannya.

17 September 2009

Hari perpisahan kami dengan Alghi. Tapi sepertinya, aku belum mendapat kesan positif darinya. Bagaimana mau membuat laporan semenarik mungkin tentang Alghi? Kemarin saja, kertika aku bertanya ini itu tentang kesehariannya dan ini masuk dalam salah satu tugasku sebagai reporter, dia cuma menjawab dengan sangat-sangat singkat dan tanpa ada ekspresi. Kirain dia sudah jadi mayat hidup yang baru dikeluarin dari kulkas saking sok coolnya.

Dan yang membuat aku terkejut, pas perpisahan tadi Alghi nyamperin dan minta maaf. Aku juga diberi bonus senyuman. Meski tidak manis-manis amat, tapi lumayanlah dari pada dia nunjukin muka tanpa ekspresinya. Ih… kan serem?!

Aku jadi lega, kukira aku cuma mendapat pengalaman buruk saja selama meliput Alghi. Tapi Alhamdulillah, masih ada pengalaman bagusnya meskipun di detik-detik terakhir. Jadi, sekarang aku sudah bisa membuat laporan yang menarik tentang seorang atlet bernama Alghi.

25 November 2009

Tulilit, tulilit. Sepertinya ada sms. Uups, dari kak Mashitoh, murobbiyahku. Tumben ini kak Mashitoh nyuruh aku menemui dia dan harus sendirian.

Sendirian? Kata orang, kalau murobbi ingin jumpa mutarobbinya4 sendirian, biasanya sebentar lagi bakal ada walimahan. Duh, aku jadi gugup nich. Sepertinya feeling aku benar. Soalnya dari kemarin, si Bos makin ramah saja. Sering nyapa sambil senyum-senyum gak jelas lagi. Tapi si Bos, mana mungkin ya? Dia kan tidak mengerti apa itu murobbiyahku, tata cara mengkhitbah5 dengan syar’i, dll. Jadi siapa?

***

27 November 2009

Waduuuh, makin penasaran saja. Walaupun tadi jantungku sempat mau copot, nafasku seakan berhenti dan aku serasa melayang pas kak Mashitoh bilang kalau ada ikhwah yang mau mengkhitbahku, tapi siapa? Kak Mashitoh tidak mau memberi tau, dia hanya bilang kalau aku sudah kenal dan dia hanya ingin memastikan kalau aku sudah siap atau belum untuk melaksanakan ta’aruf6. Umurku sekarang 24 jalan 25 tahun. Aku sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari karena hal ini memang sudah kunanti dari usia 23 tahun. Hehe.

1 Desember 2010

Semalaman aku tidak bisa tidur, kutenangkan batin dan hatiku yang lagi kacau balau dengan menjumpai Robbku di pertiga malam.

2 Desember 2010

Assalamualaikum, Kak. Sepertinya Lexa sedikit terlambat karena jalanan macet, ‘afwan7”, kukirim via sms ke nomor handphone kak Mashitoh.

Aku memasuki rumah kak Mashitoh dengan zikir tanpa henti (kayak mau jumpa jin saja, hehe). Dan waktu kakiku menginjakkan teras kak Mashitoh, aku mendengar suara khasnya si Bos, “Ya Robb, kupasrahkan semua pada-Mu. Kalau si Bos memang jodohku, berikanlah ia hidayah untuk menjadi seorang da’i yang tangguh.” Gumamku dalam hati.

Setelah mengucapkan salam, kak Mashitoh mempersilahkan aku untuk duduk. Aku terlambat 20 menit dari perjanjian. Kulirik orang di sekitarku, kudapati si Bos sedang melihat ke arahku sambil tersenyum simpul. Mata kami bertemu, nyessssss. Rasanya aku mau pingsan. Aku juga merinding bukan karena senyumnya Mr.Zoe, horor. Tapi mungkin hormon di badanku ikutan grogi sehingga tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Tiba-tiba, Alghi si atlet arogan yang sedikit baik itu nongol dari belakang dengan muka dan kedua tangan yang basah. Sepertinya dia baru selesai mengambil air wudhu. Duuuhhh, ngapain juga itu anak ada disini?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Salam si Bos menghentikan otakku yang sedang berspekulasi sendiri dengan dunianya. Panjang lebar bos bercerita tentang awal dia jumpa aku di kantor, tentang bagaimana cara dia mengetahui kepribadianku, dan cara dia ngetes aku apakah sudah pantas untuk jadi istri seorang atlet dan jadi seorang ibu yang baik. “Stop. Tiba-tiba otakku menggaris bawahi kata ‘seorang atlet’, seorang atlet?”.

Jadi ikhwah yang dimaksud kak Mashitoh bukan Mr.Zoe, tapi si atlet arogan itu. Tapi jujur, sejak pertama kali jumpa sama Alghi aku memang merasakan suatu bentuk baru dari kebahagiaan. Dan satu hal lagi, nyaman dan damai banget apalagi kalau lagi ngobrol atau lebih tepatnya wawancara sama dia. Tapi semua rasa itu sebisa mungkin kutepis, apalagi melihat dia yang seorang atlet dan yang kukira bukan seorang aktivis dakwah. Dan sekarang semua sudah jelas, si Bos ternyata teman semasa kuliahnya mas Taufik, suaminya kak Mashitoh. Dan Alghi teman semasa SMAnya si Bos. Dan liputan itu adalah sebuah kesengajaan. Skenario yang indah  tapi sedikit menyebalkan rancangan si Bos.

Dan ketiganya merupakan aktivis dakwah. Bahkan Alghi yang kuanggap oon dakwah mengisi dua kelompok halaqoh8 di sela-sela aktifitasnya sebagai atlet sepak bola. Salut deh buat calon suamiku tersayang, hehe.

9 Februari 2010

Ijab Qabul sudah diucapkan, Alghi yang sudah menjadi suamiku semenit yang lalu terus menatapku. Bukan karena aku dandan cantik, tapi karena sebelum dan sesudah ijab qabul mataku tidak mau berhenti mengeluarkan air mata kebahagiaan. Alghi suamiku yang merupakan seorang atlet adalah surprise terindah dari Allah yang kutemukan di jalan dakwah ini. Syukurku selalu dalam hati atas surprise cinta dari Allah, Robbku tercinta.

Catatan Kaki:

1Kaffah:secara menyeluruh

2Murobbiyah:ustadzah/pendidik

3Diijabah:dikabulkan

4Mutarobbi:yang dididik

5Khitbah:lamaran

6Ta’aruf:proses saling kenal untuk menuju jenjang pernikahan

7Afwan:maaf

8Halaqoh:Kelompok pengajian

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 8,15 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Junkusay
Alumni Psikologi UMA. Aktivis KAMMI. Bercita-cita jadi Psikolog Anak. Pecinta dunia Traveling, photography, tulis menulis and ODOJers 63.
  • hiba maziyyah

    subhanallah,,,indah sekali…

  • Sri Fatimah

    bacanya, jadi senyum senyum sendiri hhe..
    Maha Suci Alloh, yg telah menciptakan kita berpasangan pasangan :)

Lihat Juga

Prabowo: Aktivis Islam Harus Warnai Politik