Home / Pemuda / Cerpen / Kekuatan Tulisan

Kekuatan Tulisan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Di depan meja belajarnya, Nurimah sedang asyik membalik-balikkan buku bacaannya. Dia sepertinya sedang menekuni bacaannya tersebut, tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Tanpa ia sadari, ternyata telah mendekati acara makan malam keluarganya. Dari meja makan, Ibunya telah menyiapkan acara makan malam mereka, sambil menunggu yang lain datang. Ibu mengambil beberapa piring dan gelas ke dapur. Beberapa lama menunggu, semua telah tersedia di atas meja makan. Ayah telah mengambil tempat disamping Ibu, sedangkan Kak Fadhil mengambil tempat di depan Ibu. Setelah semuanya duduk dan akan makan, Ibu tidak melihat wajah Nurimah, anak bungsunya itu.

“Imah, kenapa belum juga keluar dari kamarnya, Pak?” Tanya Ibu.

“Tidak tahu juga Bu, apakah dia sedang sakit Bu?”

“Setelah pulang sekolah tadi, dia kelihatan sehat-sehat saja, Pak,” Ibu mencoba memberi penjelasan.

“Coba Ibu lihat dulu ke kamarnya, Pak,” sambil berjalan ke kamar anaknya.

“Iya Bu,” sambil mengangguk kecil.

Beberapa saat Ibu berjalan ke kamar Nurimah, terlihat suasana sepi dari dalam kamarnya. Sambil batuk kecil dan mengetuk pintu kamar anaknya.

Tok…tok…tok, Imah? Buka pintunya, Nak?” Suara Ibu dari depan kamar.

Beberapa saat hanya terdengar hening dari dalam kamar Nurimah. Ibu mencoba memanggilnya kembali.

“Imah, makan malam dulu, Nak? Ayah dan Kakakmu sudah menunggu di meja makan.”

Baru ada suara dari dalam kamar tersebut, ternyata Nurimah sedang asyik membaca sebuah buku, dari tadi. Tanpa ia sadari, ternyata Ibunya sudah memanggil-manggilnya dari luar. Setelah dia sadar bahwa Ibunya sedang memanggilnya dari luar, baru ia menjawab suara Ibunya.

“Iya Bu, sebentar,” sambil meletakkan buku bacaannya dan membukakan pintu.

“Sedang apa Nak? Kayaknya sedang serius dengan kegiatannya. Hingga suara Ibu tidak terdengar?” Tanya Ibunya sambil tersenyum.

“Maaf Bu, hanya membaca-baca buku saja. Eeh.. Ternyata Ibu sudah ada di depan pintu,” mencoba memberikan penjelesan dan membalas senyuman Ibunya.

“Kita makan bersama dulu ya, Nak. Nanti lanjutkan lagi belajarnya setelah makan. Kasihan Ayah dan Kakakmu telah menunggu di meja makan,” sambil merangkul anaknya ke meja makan.

“Iya, Bu,” jawabnya singkat.

Beberapa saat mereka telah berada di meja makan dan siap untuk memulai acara makan bersama lagi. Setelah Ibu mengambilkan nasi untuk Ayah baru Kak Fadhil dan aku mengambil nasi. Suasana hangat sangat terasa dalam keluarga kecil ini, walaupun hanya hidangan biasa. Akan tetapi menjadi luar biasa di saat semuanya merasakan kebersamaan malam itu juga. Berselang beberapa menit, terlihat suasana hening dalam acara makan bersama tersebut. Setelah semua selesai makan, aku membantu Ibu mengantarkan piring serta yang lainnya ke dapur. Terlihat meja makan telah bersih kembali, kami duduk kembali di tempat semula.

“Ayah besok akan pergi bersama Ibu ke sawah, Fadhil tolong jaga Adikmu selama kami pergi,” membuka pembicaraan.

“Iya Yah, besok pulangnya jam berapa, Yah ?” sambil menggeser duduknya.

“Kira-kira menjelang Magrib,” sambung Ibu.

Setelah perbincangan itu selesai, Nurimah kembali ke kamarnya. Sedangkan Kak Fadhil megerjakan tugas sekolahnya. Ayah dan Ibu menonton Tivi di ruang keluarga. Nurimah yang masih penasaran dengan buku bacaannya tadi menyambung membaca kembali, karena besok dia tidak ada tugas sekolah. Malam itu, dia mencoba menamatkan sebuah buku. Semakin dia membaca, semakin besar keingintahuannya untuk mengetahui isi semua buku tersebut. Semua lampu telah mati kecuali satu lampu meja belajar Nurimah yang masih menyala. Kelihatannya, dia benar-benar ingin membaca semua buku itu.

Telihat jam di dinding telah menunjukkan pukul dua dini hari. Matanya masih terlihat terang seperti tidak pernah lelah. Hanya menyisakan beberapa lembar saja, Nurimah masih membaca buku itu. Baru setelah semua selesai, rasa ingin tahu Nurimah terbayar sudah. Kemudian mencoba memejamkan matanya untuk istirahat. Hanya beberapa detik, matanya tetutup dan tertidur di atas meja belajarnya.

Paginya, setelah mandi dan mempersiapkan semuanya, begitu juga dengan Kak Fadhil yang akan pergi ke sekolah telah terlihat rapi dan wangi sekali, setelah selesai sarapan pagi dan berpamitan dengan Ayah dan Ibu kami berangkat bersama-sama ke sekolah. Sekolah kami tidak begitu jauh dari rumah dan dengan berjalan kaki sebentar juga sampai.

Tanpa terasa, bel pulang pun terdengar dan kami pulang ke rumah. Nurimah masih terbayang-bayang dengan buku bacaannya semalam, ternyata bacaan yang dia berusaha untuk menamatkannya adalah buku karangan R.A Kartini dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dia merasa termotivasi dengan buku bacaan tersebut karena perannya sekarang ini masih dianggap lemah oleh Kakaknya dan juga teman-teman sekelasnya. Walaupun dia seorang perempuan akan tetapi dia tidak pernah memperlihatkan kalau dia lemah dan tidak bisa. Justru dengan buku yang dia tamatkan itu membawanya kepada jalan yang diinginkannya.

Dia mencoba memulai sedikit demi sedikit dan memperlihatkan kepada orang lain bahwa dia juga bisa. Beberapa kali, terdengar suara yang tidak asing lagi dari teman-temannya.

“Jangan mimpi untuk menjadi seperti kami Nurimah. Kamu itu hanya seekor semut merah, kecil, dan tidak berdaya sama sekali. Benda-benda yang berat pun kamu tidak akan pernah bisa membawanya. Lagipula, kamu akan merasakan tanganmu patah juga akhirnya,” ejekkan teman-teman laki-lakinya.

“Aku ingatkan kepadamu bahwa perempuan juga bisa seperti laki-laki,” dengan suara mantap dan bersemangat.

Tanpa mempedulikan ejekkan teman-temannya lagi, ia berusaha mengerjakan pekerjaan Ibunya dan beberapa pekerjaan laki-laki. Entah kemana Kakaknya pergi, dia tidak melihatnya setelah sepulang sekolah tadi. Jadi, terpaksa dia yang membawa kayu tiga kali berat badannya. Walaupun begitu, ternyata dia sanggup membawa beban berat tersebut. Memang luar biasa kekuatan seekor semut merah. Walaupun semut perempuan sekalipun, meskipun itu adalah pertama kalinya dia mengangkat beban yang berat. Akan tetapi, itu tidak terlalu menjadi masalah baginya. Karena kekuatan semua semut memanglah kuat.

Selama ini, ejekkan dari teman-temannya yang datang bertubi-tubi, dia tetap semangat dan membuktikan kepada mereka bahwa seorang perempuan bukan hanya bekerja di dapur saja. Akan tetapi juga bisa bekerja yang lainnya, inilah yang yang disebut dengan emansipasi wanita yang telah diungkapkan oleh R.A Kartini dulu. Dia adalah Kartini pada zaman sekarang bukan Kartika pada zaman dulu. Dia mencoba membuktikan semua itu kepada semua orang.

Dalam segi belajar sekalipun, dia membuktikan bahwa dirinya juga bisa mendapatkan juara I. Akhirnya, semua itu terbukti bahwa dia bisa melebihi laki-laki sekalipun. Baik dalam masalah kepintaran dan masalah yang lain juga bisa ditangani. Semua teman-temannya hanya mengacungkan kedua jempolnya kepada Nurimah.

“Nurimah, kamu memang hebat. Tidak salah kamu meminjam buku itu di perpustakaan seminggu yang lalu,” sambil bersalaman.

“Terima kasih, Van. Aku hanya ingin menunjukkan kepada setiap perempuan bahwa kaum perempuan juga bisa melebihi apa yang dimiliki seorang laki-laki,” dengan suara bersemangat.

“Serius, Nurimah memang Kartini-nya zaman sekarang yang jauh lebih modern dan jauh lebih mempunyai pemikiran yang luar biasa hebatnya. Maafkan kami yang salah sangka kepadamu?” Sambil menundukkan kepala.

“Sekali lagi, terima kasih atas semua pujianmu Van, aku sudah lama memaafkanmu dan juga teman-temanmu saat itu. Dengan itu aku sadar, bahwa seekor semut perempuan juga bisa. O…iya aku harus mempersiapkan beberapa karangan bunga untuk Ibuku nantinya.”

“Buat apaan Nurimah?”

“Kamu ingat sekarang tanggal berapa?”

“Tahu, tanggal 21 April. Memangnya kenapa Nurimah?” Terlihat raut penasaran di wajahnya.

“Masih belum tahu juga ya Van, baiklah aku akan mempersiapkan karangan bunga spesial untuk Ibuku, sebelum Ibuku pulang nantinya. Hari ini adalah Hari Kartini atau hari lahirnya emansipasi perempuan. You know ?”

“O…iya aku juga lupa ternyata sekarang Hari Kartini, ya?”

“Ok, aku harus bersegera sebelum Ibuku pulang,” sambil berjalan meninggalkan temannya.

Beberapa saat dia berjalan ke toko bunga dan membeli beberapa bunga dan beberapa peralatan lainnya di toko itu. Di rumah, dia mencoba merangkai beberapa bunga dan memberinya plastik agar terlihat indah dan cantik. Tanpa terasa, matahari telah pulang ke peraduannya dan sedikit demi sedikit cahaya merah mulai terlihat. Langit semakin gelap dan mulai menyelimuti alam. Akhirnya Nurimah berhasil juga menyelesaikan karangan bunga dan siap untuk memberikan karangan bunga itu kepada Ibunya.

Dia telah mempersiapkan makan malam untuk Ayah, Ibu, dan Kakaknya. Semua makanan dan yang lainnya telah tersedia di atas meja makan tanpa kurang sedikitpun. Beberapa saat menunggu, akhirnya Ayah dan Ibunya mengetuk pintu dari luar. Setelahnya, Nurimah membukakan pintu dan menyalami kedua orang tuanya dan terlihat letih. Akan tetapi, melihat anaknya seketika rasa letih itu hilang dan senyuman manis memancar di kedua wajah orang tuanya.

Sambil menunggu kedua orang tuanya beberapa saat, Nurimah mencoba menceritakan kejadian yang dialaminya tadi di sekolah dan hari-harinya yang penuh dengan ejekkan berubah dengan sanjungan dan pujian. Kakaknya hanya tersenyum dan mencoba memberikan semangat kepada adiknya agar lebih baik lagi dari hari sebelumnya.

Akhirnya, semua sudah mengambil posisi makan di tempat masing-masing. Seperti biasa, Ibu memulai dengan mengambilkan nasi untuk Ayah. Setelah itu, baru giliran kami. Kami makan dengan lahapnya. Apalagi seharian ini, Ayah dan Ibu bekerja pasti lelah dan capek. Makanya Nurimah sengaja membuatkan yang lebih istimewa dari hari-hari biasanya. Beberapa menit makan malam telah selesai. Seperti biasa, giliran Ibu dan Nurimah membersihkan meja makan.

“Kelihatannya Ibu merasa hal yang tidak biasa dari hari-hari sebelumnya, apakah yang terjadi Imah?” Tanya Ibunya.

“Iya Bu, hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi Ibu karena hari ini bertepatan dengan tanggal 21 April. Maka, Selamat hari Ibu, Bu…,” sambil mengulurkan karangan bunga ke depan Ibunya dan tersenyum lebar.

“Terima kasih ya Nak, Ibu tidak mengangka akan ada karangan bunga buat Ibu hari ini,” sambil mengambil dan mencium kening anaknya.

Semua yang ada di sana merasa terharu dengan momen spesial tersebut dan merasakan kehangatan yang luar biasa dalam rumah tangga tersebut. Walaupun hanya kecil yang dilakukannya, akan tetapi hal yang kecil akan menjadi luar biasa jika dilakukan dengan sepenuh hati dan waktu yang tepat.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Tinggal di Batusangkar. Sekarang ini sedang kuliah di STAIN Batusangkar jurusan Akuntansi Syariah.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Keluarga, Belakang Panggung Sandiwara

Organization