Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Skripsi, Dakwah, dan Lingkaran Itu  

Skripsi, Dakwah, dan Lingkaran Itu  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (capital.com.tr)
Ilustrasi. (capital.com.tr)

dakwatuna.com – Malam itu, Senin pukul delapan malam tepat. Saya baru saya usai menutup hari dengan Magrib dan Isya yang menenangkan. Mengistirahatkan tubuh dari penat diri setelah menyelesaiakan pekerjaan-pekerjaan dalam catatan buku harianku hari itu. Saya kembali memeriksa adakah daftar pekerjaan-pekerjaan yang belum tercentang. Mataku menyusuri baris-baris buku agenda harianku satu per satu. Kemudian terhenti pada baris yang tertulis “Liqo’ jam 9 malam.” Kata ini belum tercentang yang menandakan ia belum terlaksana. Ya, ternyata malam itu saya harus liqo tepat jam 9 malam. Cepat-cepat saya mengingatkan ustadz sekaligus menanyakan malam ini lingkaran iman kita dimana. “Di tempat biasa, akh.” Balas ustadz singkat. Khawatir ada yang lupa, jariku dengan cekatan memencet tombol handphone buntutku. Sms seketika terkirim ke semua handphone teman liqo’ yang lain. “Ya, Akh. Syukron.” Jawab salah satu dari mereka.

Rutinitas yang kami rindukan. Saling mengingatkan untuk tidak lupa melengkapi lingkaran yang tak berujung ini. Lingkaran inspirasi ini. Lingkaran yang sudah hampir empat tahun saya ikut menjadi bagian penyusunnya. Lingkaran yang tak akan terlupakan.

Malam itu, saya biasa nebeng pada salah satu ikhwan kembali terulang. Salah satu ikhwan datang menjemputku seperti biasa. “Antum sudah siap, jangan lupa majmu’aturrasailnya.” “Ya akh, sudah di tas”. Motor perjuangan itu melaju kembali mengantar kami melintasi ramainya kota. Sesekali, kami bercengkrama menanyakan kesiapan kehadiran kami di lingkaran kami. “Antum nyetor gak malam ini?” “Ya akh, tapi beberapa ayat saja.” Ya, ini yang hebat dari saudara-saudaraku dalam lingkaran ini. Mereka dekat dengan ayat-ayat al-Qur’an, mengkaji dan menghafalnya walau tak banyak tapi mengena dan teramalkan. Tak jarang, hafalan kami yang seadanya menjadi kidung yang menemani perjalanan kami, sertamerta. Indah.

Karena tidak jauh dari tempat tinggal kami, segera dalam beberapa menit kami sampai. “Assalamu’alaikum, Akh. Antum sehat? Yang lain sudah datang?” “Wa’alikumussalam. Ana sehat akh. Belum akh, sepertinya masih di jalan, ustadz juga sebentar lagi.” Jam digital di handphone memang belum menunjukkan pukul sembilan. “Ya akh, belum jam 9 juga.” Lagi, kebiasaan ini yang saya banggakan dari lingkaran ini, dari dakwah ini. Yang saya tidak temukan di luar lingkaran ini, di luar dakwah ini. Bertemu dengan salam dan jabat tangan yang hangat ditambah dengan sunggingan senyum yang tulus. Saling menanyakan kabar. Bagiku itu sungguh indah, sebuah nikmat ukhuwah yang menenteramkan.

Sebelum pukul sembilan semua sudah kumpul. Lingkaran itu segera tersusun bulat, rapi. Masing-masing duduk dengan tas di depannya. Semua mengeluarkan satu mushaf al-Qur’an, buku catatan, pulpen dan -saya dengan- Majmu’aturrasail cukup tebal. Tak lupa, ustadz kami selalu membawa dan menyuguhkan makanan ringan dan minuman sebagai teman liqo’. Semua sudah siap memulai liqo’ malam itu. Lantunan  merdu ayat-ayat al-Qur’an pun segera menyegarkan telinga dan pikiran kami. Sungguh menenangkan. Sekali lagi, hanya di sini saya menemukannya.

Rangkaian agenda liqo’ pun hampir selesai. Suasana tenang-menenangkan. Kami lega karena kami sudah berbeda. Ruhiyah kami lebih baik. Pemahaman kami juga lebih baik. Pertanyaan-pertanyaan di benak kami malam itu banyak terjawab dengan penejelasan dan taujih dari ustadz. Akhirnya, kami sampai pada agenda yang terakhir, qadhaya rawa’i. Disini, kami saling bercerita bayak hal tentang diri kami, keluarga dan tentang apa saja. Kami sangat sering berbagi kebahagian walau juga tak jarang berbagi sedih yang dialami. Saling berempati dan mendoakan. Saling menyemangati, saling menginspirasi. Tawa dan sedih semua di sini. Saya bangga menjadi keluarga ini, dalam lingkaran ini.

Malam itu, satu hal yang berbeda. Kami diminta untuk bercerita tentang Skripsi masing-masing. Sebenarnya, hampir setiap minggu kami saling menyemangati tentang ini. Tapi malam itu berbeda. Sepertinya, malam itu kami lebih banyak disadarkan. Tentang studi kami dan skripsi, semester dan skripsi, usia dan skripsi, pekerjaan dan skripsi, perjuangan orangtua dan skripsi, skripsi dan masa depan, juga tentang dakwah dan skripsi.

Malam itu menjadi momen penyadaran betapa pengabaian skripsi tidak boleh terjadi dan tidak boleh lagi terjadi. Kami disadarkan bahwa tidak boleh lagi ada dari kami aktivis dakwah kampus yang mengkambinghitamkan lingkaran dan dakwah ini untuk menunda skripsi. Tidak boleh lagi ada istilah drop out fi sabilillah. Mulai sekarang, tidak ada lagi skripsi yang tidak dikerjakan karena alasan amanah dan dakwah. Cukup sudah dakwah ini dipersalahkan untuk menutupi kemalasan. Cukup sudah!

Tiba-tiba suasana berubah hening. Kami terdiam walau hati tersentak. Hati tersentak mendengar ustadz menanyakan dan menasehati kami tentang skripsi. Nasehat yang lembut namun menghasilkan hentakan suara diri yang tegas. Membuat kami berpetuah pada diri sendiri. Petuah tentang diri dan skripsi.

Malam itu, memang saya yang paling junior. Tapi bagaimana pun saya juga sudah semester akhir, semester delapan. Semua kami semester akhir. Tak ada semester lagi setelahnya untuk ukuran studi normal. Saya harus segera selesai, selesai skripsi dan studi ini. Segera mengundang orangtua dan keluarga untuk hadir di acara wisuda. Membahagiakan mereka yang berjerih payah-bekerja keras untuk studi saya. Mengenakan toga yang membahagiakan. Tersenyum ber-fose bahagia. Ah, akan sangat indah ketika melihat senyum atau mungkin tangis bahagia ibu tercinta dan kakak-kakakku. Ibu yang sejak saya masih belia kelas empat SD sudah harus memikirkan hidup, sekolah dan masa depan saya sendirian.

Suatu saat nanti, saya akan sangat bahagia mengatakan kepada mereka semua, saudara seperjuanganku, “Akhi, akhirnya saya wisuda. Terimakasih telah mejadi saudara yang luar biasa di jalan ini. Sungguh saya bahagia, Allah menakdirkan saya bertemu dengan antum semua di jalan ini. Mari tetap saling mendoakan, semoga Allah tetap memberikan keistiqomahan untuk kita supaya terus berada di jalan dakwah ini. Selamat tinggal sahabat, teruslah berjuang”. Sungguh saat itu akan menjadi momen yang luar biasa. Momen yang tak biasa.

Sesungguhnya, tentang cita dan harapan ini, saudara-saudara saya di lingkaran ini, mereka juga menyadari ini. Mengharap kebahagian itu. Tapi entahlah, kenapa status kami begini. Dari kami, ada yang satu tahun sudah terlewat dari ukuran studi normal. Ada juga yang hampir dua tahun. Bahkan mereka dalam lingkaran tetangga. Masih ada cerita tentang dia yang telah melampaui jatah maksimal semester, drop out fi sabilillah. Nau’udzubillah.

Saya juga hendak bercerita. Malam itu, saya melihat ada gurat kekesalan dari wajah ustadz kami, mungkin karena terlalu sering menasehati kami tentang ini, tentang skripsi dan studi kami. Malam itu, ustadz seolah mendesak supaya kami segera dan fokus dengan skripsi. Dengan berhati-hati ustadz menyarankan, “Akh, antum bisa gak kalo ana minta supaya berhenti kerja di situ? Soalnya antum butuh fokus akhi.” Terlihat jelas perhatian yang tulus di lingkaran ini kepada kami, bukan hanya dalam hal ini dan itu. Tapi tentang semuanya. Ini juga yang membuat kami bertahan di sini.

Akhirya, malam itu jam menunjukkan pukul 11.30 tengah malam. Kami bersiap untuk pulang. Liqo’ kami sudah selesai dengan sejuta manfaat dan penyadaran. Liqo’ yang memberi pelajaran berharga tentang iman dan amal, ukhuwah dan kepedulian, nikmat dan ujian. Di lingkaran ini juga ada dakwah dan skripsi.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Saya adalah mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mataram angkatan 2010. Aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Al-Iqtishad Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI