Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Saat Muslim Menjadi Rahmat, Perilaku Ramah Air  

Saat Muslim Menjadi Rahmat, Perilaku Ramah Air  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Islam membentuk umatnya untuk menjadi pribadi yang memiliki nilai lebih, semangat menebar kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya dan motivasi untuk senantiasa berbuat baik seraya mengadakan perbaikan.

Nilai-nilai Islam melingkupi semua aspek kehidupan secara utuh, membentuk umatnya menjadi pribadi yang ideal. Termasuk mengatur hal-hal kecil yang sepertinya sederhana, tak terpikirkan oleh menusia kebanyakan, tetapi ternyata memiliki hikmah yang besar. Tentang pola hidup yang baik, etika, perilaku hidup sehat, menjaga kebersihan, etos kerja dan efisiensi. Upaya mengefektifkan potensi hidup untuk menjadi amal shalih semaksimal mungkin, bahkan agar yang kita kerjakan bisa memiliki manfaat ganda.

Hal-hal kecil yang sepele begitu diperhatikan oleh Islam: memasuki masjid dengan tidak mengkonsumsi bawang sebelumnya, tidak meninggikan rumah sehingga menghalangi rumah tetangga, menyingkirkan duri dari jalan, tidak membiarkan makanan terbuang, atau tidak membuat masakan yang baunya sampai kepada tetangga melainkan berbagi kepadanya.

Contoh lainnya: berbuat sebaik-baiknya, memberi dengan baik, menerima dengan baik, bertamu dengan baik, mengutamakan orang lain, mengikis ego, menempatkan dengan baik hak dan kewajiban, serta memupuk kepedulian dan kesetiakawanan.

Sehingga, seorang muslim memiliki kepekaan sosial, mampu merasakan kesulitan yang dihadapi orang lain, mempermudah bukan mempersulit urusan mereka, serta memiliki keikhlasan untuk berbagi.

Bukan hanya terhadap sesama, binatang dan benda-benda tak bernyawa pun tak lepas dari rahmat yang dibawa Islam. Islam mengajarkan untuk tidak menyakiti binatang, memberi minum binatang yang haus, menajamkan pisau ketika menyembelih agar tidak menyakiti. Islam melarang memubazirkan barang, sekecil apapun agar menjadi sebuah kemanfaatan.

Ikhlas, kunci agar semua amal shalih itu tidak dirasa sebagai beban yang berat, mendapatkan kemudahan untuk melakukan amal shalih, menjalani sebuah fitrah yang lurus, menjadi kebahagiaan dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

Menjadi tantangan bagi kita untuk mewujudkan kesempurnaan Islam, untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Dari persoalan sampah, rokok, lingkungan hidup, hingga persoalan kejujuran dan krisis yang dialami dunia.

Ada yang menarik dari pembahasan mengenai Fikih Air pada Munas Tarjih Muhammadiyah beberapa waktu lalu. Bagian dari upaya mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, menjadi rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya. Berikut hasil Munas Tarjih yang dikutip dari www.Sangpencerah.com.

Pada level individu dan keluarga, perlu pembiasaan untuk membetulkan kran atau sambungan pipa di rumah, kantor, masjid atau pipa irigasi yang bocor. Kemudian tidak membiarkan anak bermain dengan kran atau selang air di halaman atau kamar mandi dan tidak membiarkan kran air terus mengucur pada saat mencuci mobil atau sepeda motor, serta mematikan air bila tidak diperlukan.

Selanjutnya membiasakan untuk mematikan kran ketika sedang menggosok gigi, mandi atau mencuci peralatan rumah tangga dengan sabun atau detergen. Mengganti ukuran kran dengan ukuran kecil sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan air. Menggunakan shower untuk kamar mandi. Sedapat mungkin tidak menggunakan kamar mandi yang banyak menggunakan air (semisal bathtub).

Demikian pula dalam berwudhu, menghindari penggunaan air yang berlebihan. Menyisakan halaman rumah untuk resapan air hujan, dengan tidak menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan (aspal dan beton,) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam tanah untuk menambah cadangan air tanah. Arahkan kucuran air hujan dari atap rumah untuk dapat masuk ke sumur peresapan di halaman rumah, sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan. Memilih tanaman hias, perkebunan atau tanaman pangan yang tidak rakus air.

Selanjutnya, siramilah tanaman di lahan pada waktu pagi, sore, pada waktu suhu udara tidak terlalu panas dan tiupan angin tak terlalu kencang. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kehilangan air melalui evaporasi. Gunakan pupuk organik untuk tanaman daripada pupuk buatan. Pupuk organik disamping lebih sehat, lebih menghemat air untuk prosesnya. Sedangkan pupuk buatan (pupuk kimia/non-organik) prosesnya memerlukan air yang lebih banyak per kilo gramnya dari berat pupuk, merusak tanah dan menjadi sumber polusi.

Bila memungkinkan, buatlah lubang-lubang pembuangan sampah organik di halaman rumah. Sampah organik bisa memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan air hujan meresap ke dalam tanah serta memperbaiki kesuburan tanah. Apabila di dalam rumah terdapat kolam renang, maka tutuplah kolam renang dengan penutup dari lembaran plastik pada saat tak digunakan, hal ini akan bisa menghambat penguapan air. Gunakan air kolam renang yang kotor untuk keperluan menyiram tanaman atau disalurkan ke kolam atau media lainnya sehingga tidak langsung terbuang.

Demikian pula tampungan air kucuran kran dan bekas air wudhu. Air ini masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau untuk memelihara ikan di kolam dan keperluan lainnya. Gunakan peralatan dapur yang terbuat dari bahan alami (kayu, bambu, daun tanaman dan sebagainya) daripada menggunakan bahan yang terbuat dari plastik. Pilihan ini disamping lebih berwawasan lingkungan juga lebih sehat dan menghemat air. Bahan-bahan peralatan dapur dan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik memerlukan air yang cukup banyak per kilo gram dari bahan dalam proses pembuatannya. Jika berbelanja ke pasar, supermarket atau toko, usahakan membawa keranjang atau tas belanja dari rumah utnuk mengurangi pemakaian tas plastik (tas kresek). Tas plastik dalam proses pembuatannya memerlukan banyak air dan tidak bisa didegradasi sehingga menjadi bahan polusi lingkungan. Pilihlah bahan makanan dan minuman yang proses pembuatannya tidak memerlukan banyak air untuk memprosesnya.

Pilihlah untuk membuat jus buah sendiri daripada membeli jus buah siap saji. Cara ini disamping lebih sehat juga bisa menghemat air. Pada waktu mencuci pakaian (pakai tangan atau pakai mesin cuci) atau peralatan dapur, pilihlah deterjen yang ringan dan ramah lingkungan, sehingga tidak memerlukan banyak air untuk membilas. Untuk membilas deterjen kuat, diperlukan lebih banyak air dibandingkan dengan deterjen ringan. Hindari tumpahnya minyak (goreng atau minyak lain) ke dalam tampungan atau sumber air. Hal ini karena untuk memurnikan atau membilasnya memerlukan banyak air.

Pada level masyarakat, kegiatan pengelolaan air berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Tingginya tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini, diharapkan menjadikan daerah tangkapan hujan di hulu semakin berfungsi sebagai hutan lindung yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Wilayah hulu semakin produktif dengan basis jasa lingkungan wilayah hilir dan kawasan perkotaan terbebas dari ancaman daya rusak air, antara lain bencana banjir dan kekeringan.

Melakukan sistem pengolahan limbah domestik di kawasan pemukiman sehingga dapat menjaga kualitas air. Misalnya, pengolahan limbah domestik cair dan sampah untuk kompos. Juga bisa melalui teknologi tepat guna untuk membuat air berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di kawasan lingkungan dengan kualitas air rendah. Melakukan upaya penampungan air hujan (Rainwater Harvesting/RWH) untuk irigasi, mencuci, bilasan toilet, peternakan, dll. Upaya ini bisa melalui penggunaan ember atau lainnya. Melakukan irigasi tetes atau sprinkler atau alur yang lebih hemat air daripada cara irigasi dengan penggenangan (basin). Mewujudkan gerakan Shadaqah Air bagi masyarakat yang minus air secara langsung atau melalui penggalangan dana untuk pembuatan saluran air bersih.

Pada level dunia usaha, perlunya sinergitas pelestarian air antara dunia usaha dan masyarakat melalui CSR (Corporate Social Responsibility). Mewujudkan usaha-usaha produktif yang berbasis pada penghematan air, menciptakan lingkungan kerja yang ramah air melalui edukasi, ceramah, kampanye pelestarian lingkungan, poster, cek rutin sarana air serta audit lingkungan sekitar perusahaan.

Pada level pemerintah, perlunya kontrol pelestarian air dan lingkungan sesuai aturan yang berlaku. Upaya penegakan hukum (law inforcement) terhadap perusahaan atau warga yang tidak ramah air dan lingkungan. Upaya membangun sinergitas pengelolaan sumberdaya air antar sektor dan wilayah pemerintahan setempat, pengembangan sistem pembiayaan pengelolaan air sesuai prinsip cost recovery maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada.

Demikianlah sebagian kecil dari luasnya rahmat yang dibawa Islam. Diriwayatkan dari Jabir, Rasulullah saw bersabda, ”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dari Ibnu Umar, bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah, dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab, ”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi hutang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menunaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini (yaitu Masjid Madinah) selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada Hari Kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu, maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (Hari Perhitungan).” (HR. Thabrani, Hadits ini dihasankan oleh Syeikh al-Albani di dalam kitab at Targhib wa at Tarhib, 2623).

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Model Dewan Pengawas Syariah di Negara Muslim