Home / Berita / Opini / Menghindarkan Anak dari Kejahatan Seksual  

Menghindarkan Anak dari Kejahatan Seksual  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Waspadai perubaha prilaku pada anak (ilustrasi) - (Foto: worl-in-news.com)
Waspadai perubaha prilaku pada anak (ilustrasi) – (Foto: worl-in-news.com)

dakwatuna.com – Dalam minggu ini kita dikejutkan dengan pemberitaan yang memilukan sekaligus memalukan terkait dengan tindakan kejahatan seksual yang menimpa seorang siswa TK di Sekolah Internasional Jakarta (JIS). Kejadian ini dilakukan justru oleh “orang dalam”  yaitu petugas kebersihan  sekolah (cleaning service) di toilet sekolah . Tragisnya, pelakunya tidak hanya satu namun sampai enam orang. Satu diantara mereka adalah wanita. Mereka bekerja sama melakukan tindakan keji ini sebagai bentuk pelampiasan nafsu syaithoni yang telah merusak diri korban dan masa depannya. Kasus ini sedang ditangani oleh Polda Metro Jaya  dan kita berharap, agar kasus ini dapat diungkapkan secara terang benderang sehingga “kegelapan” yang menyelimuti sekolah itu dapat terkuak demi nama baik sekolah di masa yang akan datang. Sejatinya, sekolah harus memberikan perlindungan dan rasa aman pada siswa-siswanya bukan menjadi tempat penghancuran masa depan diri  seseorang.

Kesedihan dan kegelisahan yang mendalam tidak hanya dirasakan oleh korban dan keluarganya, akan tetapi semua orang tua yang memiliki buah hati yang sedang merakit masa depan dengan belajar di TK. Bahkan orang tua yang anaknya sudah bersekolah di tingkat lebih tinggi juga merasakannya. Kejadian pelecehan seksual ini, bukan kejadian pertama di JIS. Diduga, masih ada korban lain yang harus ditelusuri oleh Polda Metro Jaya.

Belakangan tersiar kabar  seorang mantan  guru JIS bernama William James Vahey  yang pernah mengajar di sekolah ini  selama sepuluh tahun (1992-2002) dan sekolah internasional di Negara lain telah melakukan kejahatan seksual puluhan kali seperti yang dirilis FBI.  Sayangnya, sebelum kasus Pedofilia ini dapat diungkap dengan jelas, yang bersangkutan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri sehingga  kejahatannya menjadi misteri.

Pelecehan dan kejahatan seksual (pemerkosaan) bisa terjadi di mana-mana. Baik di sekolah, luar sekolah bahkan bisa saja terjadi di rumah sendiri dari orang-orang yang dekat dengan korban. Maka oleh karena itu, orang tua harus ekstra hati-hati melindungi anak-anaknya sehingga terhindar dari musibah kejahatan seksual.  Dalam hal ini, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh orang tua pada anak-anaknya:

Pertama, memberikan pendidikan seks pada usia dini. Maksudnya, orang tua harus memperkenalkan pada anak-anak pada usia dini tentang wilayah tubuh yang harus dijaga dengan seksama dan tidak boleh digangu (diraba) oleh siapa saja. Hal ini tentu disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh anak. Anak dibimbing untuk selalu menjaga  tubuh dan pakaiannya agar jangan mudah terbuka. Ketika mau buang hajat harus di tempat tertutup (toilet) yang  aman dari orang banyak. Sering terjadi pelecehan seksual dikarenakan anak merasa tidak terganggu ketika bagian tubuh yang vital itu diraba atau diganggu orang lain. Disinilah pentingngnya pemahaman anak terhadap dirinya dan usaha menjaga bagian tubuhnya sehingga mereka terhindar dari kejahatan seksual.

Kedua, menjaga pakaian anak. Artinya anak harus berpakaian dengan rapi dan Islami.  Anak yang berpakaian  tertutup rapi  atau tidak seksi akan menjaga diri anak dari rencana jahat dari orang bejat. Kesalahan yang dilakukan oleh orang tua  tanpa disadarinya adalah  ketika mendandani anak kecilnya dengan pakaian seksi yang katanya supaya kelihatan indah dan modern. Padahal ini sangat membahayakan anaknya. Semenjak kecil, sebaiknya anak sudah dibiasakan berpakaian muslimah (dengan berjilbab) sehingga tetap setia  dalam menghiasi dirinya  ketika  usia remaja dan dewasa.

 

Sering terjadinya tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap remaja dikarenakan rangsangan yang muncul dari pakaian seksi  yang dikenakan korban.  Apabila seseorang ingin lepas dari rencana jahat dari orang bejat, maka pakailah pakaian yang menutup aurat sehingga dirinya akan terjaga karena tidak  ada pesona tubuh yang dipamerkan pada mereka.

Ketiga, memakai pakaian pengaman. Yaitu celana panjang dalam (legging) yang  dipakai sebagai pengaman dari tindakan kejahatan seksual. Dengan memakai celana ini, tentunya akan mempersulit orang-orang yang berniat salah untuk mengangu anak-anak kita. Bagi remaja, selai berfungsi sebagai celana pengaman juga membuat kenyamanan remaja dalam bergerak dan beraktivitas.

Keempat, berani melawan. Orang tua harus memberikan pemahaman pada anak agar berani melawan pada orang-orang yang berniat untuk melakukan kejahatan seksual. Perlawanan yang dilakukan korban pada pelaku akan dapat menyelamatkan dirinya dari tindakan keji ini. Dari pengakuan pelaku tindakan kejahatan seksual di JIS itu pada anak yang bersangkutan karena tidak adanya perlawanan dari sang anak. Anak diam dan membiarkan saja ketika diganggu sehingga memudahkan pelaku melakukan aksi bejatnya. Bagi remaja yang memiliki keterampilan beladiri akan dapat digunakan untuk menghadapi mereka yang berusaha melakukan kejahatan seksual. Tidak jarang terjadi, tindakan pemerkosaan gagal karena keberanian remaja untuk melawan sekalipun harus menerima akibat luka badan.

Kelima, menjaga pergaulan anak remaja. Orang tua harus memperhatikan pergaulan anak-anaknya dan tidak membiarkan mereka berpacaran. Karena pacaran merupakan pintu awal terbukanya zina dan pemerkosaan. Banyak kita dengar berita yang menyedihkan seorang gadis remaja diperkosa oleh pacarnya sendiri atau perbuatan asusila itu terjadi  atas suka sama suka (zina). Ketika hal ini terjadi, maka masa depan si anak akan hancur seketika, putus sekolah dan dikucilkan orang lain. Yang menangung malu tidak hanya  gadis yang bersangkutan saja tetapi juga keluarga besar. Dari perzinaan ini akan lahir lagi kejahatan berikutnya seperti tindakan aborsi atau pembuangan bayi bahkan pembunuhan  terhadap bayi yang tidak diingini kehadirannya.

Oleh karena itu, orang tua yang baik adalah orang tua yang menjaga pergaulan anaknya sehingga dengan demikian hidup anaknya akan selamat dunia sampai ke akhirat.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November