Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Menapak dan Membekas Bersama KAMMI  

Menapak dan Membekas Bersama KAMMI  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Logo Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

dakwatuna.com – 16 tahun setelah reformasi, selain meninggalkan luka dalam bagi bangsa Indonesia, setidaknya melahirkan sebuah harapan baru bagi bangsa Indonesia. Kata bangsa, mempunyai lingkup luas untuk bisa merasakan semangat jiwa-jiwa perjuangan dalam melanjutkan sebuah cita-cita. Organisasi yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) muncul ke permukaan untuk menjadi harapan di dalam masa-masa sulit itu. Tak perlu waktu lama, sejarah mencatat bahwa gagasan untuk meruntuhkan sebuah rezim otoriter dicetus oleh organisasi yang masih belia ini.

 Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. (Pembukaan UUD 1945)

Sebuah Proses

            Perlu dicatat bahwa kata perjuangan dan pergerakan dalam pembukaan konstitusi bangsa Indonesia menjadi motor dalam meruntuhkan kolonialisme bangsa ini. Perlu diketahui, bahwa cara meruntuhkan sebuah kekuatan ini pun terorganisir dengan rapi tanpa memakai sebuah gerakan yang sporadis.

Proses seperti di atas pun dijalankan oleh organisasi KAMMI itu sendiri. Walaupun masih belum sebanding apabila melihat perjuangan para pencetus bangsa ini. Namun, setidaknya organisasi ini semakin hari semakin ingin memberikan kontribusinya untuk bangsa ini. Dari perjalanan untuk mengatasi beragam kondisi yang ada, maka tak jarang program mengabdi, mengajar, dan menulis seringkali terlihat di berbagai daerah. Bersentuhan dengan masyarakat dengan menggarap apa yang bisa diberikan untuk masyarakat sekitarnya. Hal itu mengakar sehingga jaringan yang ada di organisasi ini, ada di setiap daerah di Indonesia. Namun, dalam membangun sebuah pemerintahan yang baik, tidak cukup untuk memberikan sebuah batas dalam hal masyarakat saja. Apalagi konsep mengabdi, mengajar dan menulis sering rapuh dalam hal menciptakannya.

Sebuah makna dalam berjuang tak pernah mengenal kata berhenti. Karena ini merupakan konstruksi dalam bergerak. Untuk apa berjuang selama ini, apabila tidak mengetahui tentang apa yang diperjuangkan? Krisis nasional yang melanda Indonesia peninggalan dari masa kelam, membuat hal inilah menjadi dasar perjuangannya. Maka tak heran, dalam setiap pemberitaan di media, bahwa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi di berbagai sektor ini. Layaknya sebuah pentas nan besar, namun tak terorganisir dengan rapi. Maka yang terjadi tak lebih dari sebuah pentas yang rapuh tak beraturan tanpa ada nilai-nilai yang terkandung.

The rule of game menjadi tak beraturan. Siapa yang menjadi wasit dan siapa yang menjadi pemain. Intervensi menjadi hal biasa dalam mengambil sebuah kebijakan pemerintah untuk rakyatnya. Dari esensi itulah, organisasi ini bergerak dan mengakar untuk menjadi cahaya harapan untuk bangsa Indonesia. Bermodal pedoman hidup yang tak perlu diragukan lagi kebenarannya, organisasi ini tumbuh tegar dalam perkembangannya.

Waktu pun telah bergulir, sudah 16 tahun setelah reformasi organisasi ini berdiri. Apabila melihat dari kancah nasional, maka banyak program yang sering bersinggungan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. Namun hal ini belum bisa mengatasi tingkat kemiskinan yang terus bertambah apabila melihat dari kaca mata bank dunia, ibu yang selalu membawa anaknya untuk meminta-minta dan pengamen yang senantiasa bernyanyi di setiap Ibu Kota, menjadi potret bangsa kita hari ini. Harus diketahui, bahwa ini baru proses panjang yang ingin berbuah cahaya harapan untuk bangsa ini.

Bekas Melangkah

            Bermacam-macam demokrasi sudah bangsa ini coba. Dari demokrasi parlementer, terpimpin, pancasila sampai demokrasi yang bebas seperti sekarang ini. Pada hakikatnya, tidak ada negara yang menggunakan demokrasi yang murni. Susunan dalam sistem ketatanegaraan itu haruslah mencari susunan kombinasi yang tepat. Puluhan tahun sudah kita habiskan untuk mencari kombinasi itu, hingga reformasi pun bergulir.

Namun kita harus sepakat terlebih dahulu, bahwa bangsa ini baru sampai mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia. Pintu gerbang inilah yang menandakan bahwa kita masih belum maju dan sering berjalan tanpa mengetahui cita-cita. Kemudian kembali lagi, terjebak lubang yang sama lagi, seterusnya kembali lagi apabila salah jalan dan kembali lagi di depan pintu gerbang itu.

Organisasi ini pun membawa sebuah cita-cita untuk membangun bangsa ini. Membawa sebuah visi untuk melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mengatasi permasalahan bangsa. Tentu saja, basis utamanya adalah Islam. Dari perjalanan menempuh DM (Daurah Marhalah) 1 sampai DM 3 adalah proses untuk mengakarkan sebuah ideologi yang berbasis Islam.

DM itu sendiri merupakan langkah dalam jenjang keanggotaan. Organisasi ini melihat bahwa sejarah Islam bukan hanya menjadi dongeng di abad ini tanpa mengerti hakikat dari nilai perjuangannya. Sejarah Islam merupakan sumber lautan ilmu pengetahuan yang luas, menjadi air kala dahaga sedang terkena gersang gurun pasir. Karena sejarah sudah bercerita. Maka buku wajib baca untuk organisasi ini pun sarat dengan semangat perjuangan Islami.

Membawa sebuah visi yang besar di usia yang belum dewasa, seharusnya menjadi transformasi untuk membangun negeri untuk menyentuh keseluruhan. Hanya saja, organisasi ini masih berjalan untuk menuju cita-cita itu. Untuk menghadapi fenomena yang kusut di bangsa ini membutuhkan sebuah inti benang yang bisa mengeluarkan permasalahan yang mengikat. Terkadang, proses di organisasi ini pun (kala menciptakan sebuah proses menjadi pemimpin atau menjadi inti) kandas ditelan permasalahan yang lain.

Namun sebuah kekuatan yang tak mengenal harga terkadang muncul hanya berupa kata. Kata ini pun tak lebih ialah percayalah. Sebuah entitas untuk mengakui bahwa mereka yang terjatuh, tergelincir dan terbelok dari organisasi pada awalnya sudah menapaki di jalan ini. Sebuah kredo, sebuah prinsip, dan sebuah visi akan mengantarkan mereka untuk berjuang kembali memperbaiki bangsa. Dengan sebuah visi yang lebih besar untuk berkontribusi kepada bangsa ini.

Berlian walaupun di lumpur hitam yang kotor, masih tetap sebuah berlian. Faktor kemurnian inilah yang membawa berlian mempunyai nilai yang tinggi dibanding lainnya. Begitu pun juga dengan pemimpin sejati. Kala sudah menjadi inti, maka yang terjadi harus bisa memperbaiki permasalahan. Sebuah konsep ketika anggota organisasi ini sudah menjadi pemimpin inti untuk bangsa ini, maka perubahan untuk menjadi yang lebih baik adalah harga mati.

Terlepas dari skalanya, pun hanya tingkat kepala desa, apabila dari Sabang sampai Merauke maka ceritanya akan berbeda. Sebuah cerita untuk membangun negeri dengan melahirkan pemimpin-pemimpin dengan berkontribusi untuk Indonesia. Semoga kelak cita cita ini akan terwujud pada masa yang akan datang dengan kontribusi yang lebih besar. Aamin

Senantiasa berkontribusi untuk negeri, sampai batas waktu itu berhenti. #UntukIndonesia

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agung Pratama
Mahasiswa aktif di Fakultas Hukum Unsri, aktif di KAMMI al-aqsho Unsri di department Kebijakan Publik. Menjadi manusia pembelajar dalam mengarungi dunia kampus, untuk menuai hasil besar.

Lihat Juga

Peta Papua (papuaweb.org)

KAMMI Tuding Jokowi Tidak Serius Urus Papua

Figure
Organization