Home / Pemuda / Cerpen / Rinai di Ujung Senja  

Rinai di Ujung Senja  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (blogspot.com)
Ilustrasi. (blogspot.com)

dakwatuna.com – Semburat jingga menghiasi atap langit. Semilir angin senja menari-nari di pelupuk mata. Membius setiap mata untuk segera terlelap. Burung-burung terpacu mengepakkan sayap menuju peraduannya, tak peduli dengan riuhnya jalanan yang mulai padat. Lalu lintas penuh dengan mobil, motor, dan kendaraan umum. Tidak kurang-kurang, jeritan klakson yang saling bersautan tak mau mengalah. Betapa kontras antara langit dan bumi kala senja.

Pada perbatasan antara langit dan bumi, terlihat seorang gadis yang duduk termangu di atap gedung. Rambut panjangnya yang lurus terhempas angin senja. Tubuhnya tinggi semampai, dibalut wajah keruh dan lusuh. Pandangannya lurus nan kosong, seakan tidak ada titik fokus yang menjadi pusat perhatiannya. Sejurus kemudian, kedua matanya tertunduk. Mengamati apapun yang ada di bawah kakinya. Ia melihat lalu-lalang kendaraan yang melintas tepat di bawah kakinya. Gedung ini cukup tinggi, desirnya.

Seirama dengan kepalanya yang tertunduk, kedua mata itu telah dipenuhi buliran bening. Semakin lama semakin deras, disusul isak yang sulit diterjemahkan. Siapa yang mengira, buliran bening itu berasal dari sepatah kata dokter sebulan yang lalu.

“Sudah stadium lanjut, kemungkinan sisa waktu hanya 2 bulan.” Kata seorang dokter yang menangani gadis itu. Dan siapa yang tahu, percakapan itu adalah awal dari keputusasaan yang berlarut-larut. Baginya, tak ada lagi hangatnya mentari pagi, harumnya bunga Seruni, lezatnya buah Durian, dan merdunya kicauan burung Perenjak. Yang ada hanya gumpalan mendung, anyir darah yang membeku, dan rintihan hati. Segalanya terasa pahit dan getir. Ia tidak pernah menyangka, jika darah yang sering mengalir secara tiba-tiba dari gusinya merupakan pertanda Kanker Darah.

Sudah sebulan ia tak sempat berbicara. Pikirannya disibukkan dengan gundukan prasangka dan kecewa. Obat dari dokter selama ini sudah ia abaikan. Tuhan, tak dapat lagi aku bernyanyi riang dengan tim paduan suara di kampus, berdiskusi di kelas, dan mungkin pertukaran mahasiswa ke Jepang kemarin adalah perjalanan ke luar negeri terakhirku.

 Gadis ini memutar kembali siluet jejak prestasi yang begitu gilang-gemilang. Apa yang ia inginkan, dengan sekuat tenaga berusaha diraihnya. Seakan selalu mendapatkan lampu hijau dari Tuhan. Namun kini, semua seakan terenggut. Kembali ia menangisi takdir. Mengapa bukan yang lain?

Gadis itu bangkit. Ia pandangi langit yang semakin memudar, mungkin untuk terakhir kalinya. Tak lama, ia mulai memejamkan mata dan mengambil nafas dalam-dalam. Perlahan, jemari kakinya mulai merangsuk ke depan, tepat di bibir atap gedung. Ingin sekali ia merobohkan tubuhnya. Mengakhiri hidup yang tidak adil, menurutnya.

“Rinai!” Tiba-tiba seorang pria jangkung datang dengan nafas yang memburu. Peluh dari dahinya mengembun. Wajahnya terlihat pucat dan karut-marut semakin keruh ketika mengetahui sosok yang dicari berdiri di ujung gedung. Ia tidak berani bertanya apa yang dilakukan gadis itu.

“Rin, sudah sore. Mari kuantar pulang!” kata pria itu.

“Untuk apa? Memintaku makan, minum obat, lalu istirahat?” Buliran bening kembali menggantung di kelopak mata Rinai. “Sudah tidak ada harapan lagi, Fajar! Sebentar lagi aku akan mati.” Air matanya semakin pecah, mengalir di antara pipi yang mulai tirus. Rinai mulai sesenggukan dan tak mampu menguasai diri.

Pria yang bernama Fajar itu hanya membisu. Membiarkan Rinai menangis, menumpahkan segala emosinya. Tanpa dikomando, Fajar duduk di ujung gedung, menggantungkan kedua kakinya dan menunggu tangis Rinai mereda. Sisa nafas yang memburu tak mampu ia tutupi.

“Baca catatan ini!” perintah Fajar sambil menyodorkan sebuah buku tulis lusuh berwarna hijau yang ia keluarkan dari tas punggungnya. Dengan hati-hati Rinai membuka buku itu. Kini Rinai berada tepat di samping Fajar. Duduk menggantungkan kakinya. Gampang sekali membujuk gadis ini. Gumam Fajar dalam hati, bibirnya mengulum tanpa ia sadari.

Pada halaman pertama, Rinai menemukan deretan angka 1 sampai 25.  Peta Hidupku, itulah judulnya. Sebuah mimpi-mimpi Fajar yang divisualisasikan dengan tulisan. Mulai tahun 2003 hingga tahun 2072 Fajar menuliskan cita-cita yang akan dia capai. Deretan tulisan itu berbunyi S2 di Jepang, pergi haji dengan kedua orang tua, memiliki motor, menikah di usia 25 tahun, umrah di bulan Ramadhan, mendirikan panti jompo, hafal al-Quran, mempunyai mobil, dan masih ada 50 angka yang berbaris pada halaman berikutnya. Tanpa sadar, bibir Rinai tersungging, saat melewati nomor yang berbunyi, “Bisa memasak gule kambing.”

“Aku tidak ingin mati sebelum semuanya terwujud!” Ungkap Fajar.

“Setidaknya kau tidak sakit.” Kata Rinai seakan membuat pembelaan.

“Bahkan aku dan kamu pun tak pernah tahu kapan menemui Tuhan.” Sergah Fajar. Mereka berdua hanya diam dan menyelami pikirannya masing-masing. Tak ada  diskusi hangat seperti yang biasa mereka lakukan.

Sayup-sayup adzan Maghrib berkumandang. Rinai memandangi pria yang ada di sampingnya. Dilihatnya wajah itu lekat-lekat, seakan ia tidak akan menjumpai pemilik wajah manis ini. Fajar hanya terdiam. Wajahnya tertunduk dan mulutnya berkomat-kamit di akhir adzan.

“Sudah cukup kau memandangiku?” Tanya Fajar masih dalam tunduknya. Rinai hanya bisa gelagapan saat Fajar tahu apa yang dilakukan sahabatnya itu.

“Entahlah, aku masih belum rela.”

“Aku tidak memintamu untuk menyimpulkan perkataanku.” Kata Fajar sambil bangkit dari duduknya. “Jika ingin tenang, ikut aku ke sana.” Sambil menunjuk bangunan putih nan megah dari tempat ia berada. Tidak ada penolakan pada diri Rinai. Dari belakang, gadis ini mengikuti langkah Fajar. Perlahan tanpa ada dialog, hingga langkah keduanya bermuara pada sebuah bangunan berkubah.

Seluruh tubuhnya masih terbalut kain putih yang menyisakan raut wajah. Kedua telapaknya tetap menengadah penuh harap. Buliran bening tak henti-hentinya keluar dari kedua matanya. Selalu ia melakukannya, namun tak seperti kali ini. Ada sesuatu yang berbeda. Namun begitu sulit ia menafsirkannnya. Yang jelas, ia menumpahkannya dengan air mata yang tulus. Dia tak lagi bertanya tentang keadilan.

Kini, ia membalikkan tubuh ke arah pintu masjid. Pandangannya menyapu sekitar bangunan beratap emas ini. Dilihatya Fajar yang sudah berdiri di luar pagar.

“Maaf, membuatmu menunggu lama.” Kata Rinai saat berjalan menghampiri pria itu. Keduanya berjalan bersama di trotoar, sambil menikmati jalanan yang mulai lengang.

“Tidak apa-apa.” Jawab Fajar ringan.

“Kenapa ingin bisa memasak gule kambing?” Rinai mencoba mengungkap rasa penasarannya.

“Di Jepang tidak ada gule kambing.” Keduanya kini tertawa. Jawaban yang cukup beralasan memang.

Fajar, pria dengan guratan wajah tegas namun hangat. Tak pernah sedikitpun Rinai menyangka, diskusi tentang seminar kepemimpinan di kampusnya dua tahun silam, telah membawa keduanya pada diskusi-diskusi yang lain. Bukan lagi menyoal kepemimpinan, melainkan merambah pada tema pendidikan, isu politik terkini, sampai pada film yang sedang beredar di bioskop. Keduanya seakan menemukan persamaan titik.

Fajar yang merupakan mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual dan Rinai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia. Keduanya sering bertemu karena memang satu fakultas. Fajar kerap menjadikan Rinai dan teman-teman paduan suaranya menjadi objek fokus lensa LSRnya. Rinai juga tidak berkeberatan saat Fajar membantu mendokumentasikan tugas parade puisinya. Terlebih, betapa senangnya Fajar mengetahui sekembali Rinai dari Jepang saat pertukaran mahasiswa. Segala pesanan mulai dari beragam Manga hingga setangkai bunga Sakura lengkap dengan daun kecilnya ia berikan untuk Fajar.

Dan siapa mengira, tak berselang lama dari Jepang, Rinai sering mengalami pusing begitu hebat. Tak terhitung ia absen dari kuliah. Hingga pertemuannya dengan dokter, telah membawanya pada kubang ketidakadilan versinya.

“Aku jadi ingin punya peta hidup.” Ungkap Rinai. Pria yang diajak bicara hanya diam, menyembunyikan senyum penuh arti. Hobi baru keduanya, segera terdiam. Menyelami pikiran masing-masing.

Kini langkah Fajar terhenti, memperbaiki tali sepatu yang terburai. Bukannya Rinai tidak tahu dengan persoalan itu, malah dia cukup hafal dengan perangai Fajar yang selalu sibuk dengan sepatunya. Pernah ia membujuk agar Fajar membeli sepatu baru. Namun Fajar menolaknya dengan alasan masih ada dua sepatu baru pemberian ibunya yang belum dikenakan. Sampai kapan pun, Fajar tak akan melepas sepatu yang tak tahu apa warna aslinya dulu. Baru-baru ini Rinai mengetahui bahwa sepatu itu pemberian almarhum ayahnya.

Rinai masih saja berjalan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Terdengar decitan mobil yang berusaha menghentikan lajunya yang tak terkendali. Suara benturan benda tumpul begitu keras, membuat Rinai membalikkan tubuhnya. Di hadapannya, mobil melaju dengan cepat tanpa terkendali sehingga menerobos trotoar di bahu jalan. Tidak ada yang menyangka, mobil semakin melaju tanpa ampun, menyapu apapun yang ada di depannya. Dan sebuah takdir sudah tergaris jelas. Tidak ada yang bisa menghindar. Tidak terkecuali Fajar dan Rinai. Kini yang terlihat darah membanjiri trotoar.

….

Nisrina Syahirah. Jika dilogika, seharusnya nama itulah yang terukir pada sebuah nisan. Hasil prediksi yang diciptakan manusia. Namun garis Tuhan tidak bisa digugat. Nama Fajar Tadhiyah yang kini melekat pada batu  itu. Rinai tidak tahu jika senyum pada bibir Fajar yang lalu, adalah senyum yang terakhir dilihatnya. Rinai berdiri di dekat gundukan tanah yang masih basah dan mulai sepi dari pelayat. Senja hari ini dan senja kemarin benar-benar tidak bisa ditebak.

“Seharusnya kau tak perlu menjemputku di atap gedung. Seharusnya kau tak perlu berjalan di trotoar itu. Dan sudah kuperingatkan jangan memakai sepatu butut itu!” Protes Rinai dalam hati. Langit tiba-tiba mendung, seakan ikut merasakan kehilangan.

“Dan bagaimana pun aku membela diri, pada akhirnya kau memang benar. Bahkan kau dan aku pun tak pernah tahu kapan menemui Tuhan.” Kini Rinai menghapus air mata. Sudah cukup banyak ia menangis. Dalam hati ia berbisik, tak akan pernah menangis.

Senja kali ini, Rinai memang tidak ditemani Fajar. Namun buku hijau lusuh yang belum sempat ia kembalikan, dirasa cukup menggantikannya. Tak ingin berlarut-larut, Rinai membalikkan tubuh dan mengubur kenangan indah bersamanya. Di langkah ke keenam, sebelum dua malaikat berbisik pada tubuh beku itu, ia berhenti. Kembali memandangi pusara pria yang telah bersamanya sejak dua tahun lalu. Seakan meminta izin melanjutkan Peta Hidup milik Fajar. Baginya, gerimis yang mulai membasahi tubuh layunya adalah pertanda Fajar tak akan pernah keberatan. Dengan senyum yang tersungging, Rinai kembali melangkah dengan harapan hidup yang lebih bermakna.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,79 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Diyah Azzalea
Alumni Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Wanita biasa yang berusaha terus belajar, berpikir, berkarya, dan bermanfaat.
  • mujahidah muda

    subhanallah keren……………….

Lihat Juga

Ilustrasi (dakwatuna)

Semangat di Tempat Kerja

Organization