Home / Narasi Islam / Sosial / Tayangan TV dan Bangkitnya Bangsa yang Cerdas  

Tayangan TV dan Bangkitnya Bangsa yang Cerdas  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Tayangan Televisi (inet) - Foto: kontan.co.id
Tayangan Televisi (inet) – Foto: kontan.co.id

dakwatuna.com – Di Indonesia televisi/TV mulai di perkenalkan pada tahun 1962. Akhir tahun 80-an bermunculan TV swasta karena pemerintah telah mengeluarkan izin untuk beroperasinya TV swasta. Hari ini, pesawat TV sudah hampir ada di setiap rumah penduduk negeri kita. Bahkan ada yang bisa di akses melalui Hand Phone. Maka semakin luaslah aksesnya. Berbicara tayangan TV tak akan pernah ada habisnya. Otak-otak yang bekerja di pertelevisian selalu dipacu untuk menghasilkan tayangan menarik bagi konsumen dan menaikan rating dan tentunya akan menghasilkan pundi rupiah yang banyak untuk perusahaannya.

Salah satu cermin dari majunya suatu bangsa bisa dilihat dari tayangan TVnya. Misalkan di sebuah negara tertinggal atau di negara berkembang program yang bersifat hiburan akan mendominasi tayangan-tayangannya. Berbeda dengan negara maju, maka program-program yang mendominasi adalah tayangan yang bersifat informatif dan edukatif.

Jika saya perhatikan, di Indonesia sangat memprihatinkan. Karena sebagian besar program-program TV kita masih banyak menyuguhkan tayangan yang jauh dari sifat mengedukasi masyarakat (kecuali TV berbayar). Kita wajib peduli terhadap permasalahan ini karena kita tak menutup mata bahwa generasi muda kita hari ini banyak dididik oleh tayangan dari kotak ajaib yang di temukan ilmuan Skotlandia bernama John  Logie Baird di tahun 1920-an itu.

Sebuah bukti ilmiah menunjukkan bahwa bayi yang menonton TV semacam itu memiliki kemampuan berbahasa yang lebih rendah. Selain itu, bila kemampuan anak mengenal huruf dan angka diukur pada usia sekolah, anak yang menonton televisi sebelum berusia 3 tahun memiliki skor yang lebih rendah daripada anak yang tidak menonton televisi sebelum berusia 3 tahun.

Demikian pula, semakin banyak anak menonton televisi sebelum usia 3 tahun, semakin tinggi kemungkinannya mengalami masalah perhatian pada usia 7 tahun. Belum lagi kita menyaksikan berbagai perilaku dan gaya hidup yang diadopsi dari tayangan TV. Yang  menjadi masalah adalah ketika tayangan yang memiliki muatan edukasi hanya berporsi sedikit, maka dampak negatif dari tayangan TV yang bermuatan negatiflah yang akan merasuki masyarakat kita dari anak-anak sampai dewasa.

Kita harus mulai menggeser program-program tayangan yang kurang bermanfaat dengan program-program yang lebih bisa mengarahkan masyarakat menjadi cerdas. Beberapa prilaku pengusaha pertelevisian di negeri kita kurang bijak. Bisanya mengadopsi tayangan hiburan dari negeri lain (paling banyak Amerika). Padahal seharusnya, kita lebih banyak mengadopsi tayangan-tayangan yang mencerdaskan yang telah mewarnai kehidupan masyarakat di negara-negara maju itu.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan diantaranya, kita optimalkan tayangan positif bermuatan edukasi yang sudah ada. Walau akhir-akhir ini tayangan semacam lomba cerdas cermat seperti sudah hilang dari tayangan TV kita. Kita  pun bisa mendorong pemerintah (melalui TV pemerintah atau melalui regulasi) agar mengeluarkan kebijakan yang memperhatikan permasalahan tayangan TV.

Perangkat pemerintah yang kita tahu adalah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang masih banyak bertindak sebagai pagar saja. Misalnya untuk menyensor tayangan-tayangan adegan yang tabu atau rasis. Bolehlah kita menitip harapan melalui KPI agar bisa menjadi tangan yang mempelopori tayangan TV di negeri kita bergeser ke arah tayangan yang cerdas dan mencerdaskan.

Bahkan hal ini turut selaras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi salah satu cita-cita UUD 1945. Begitu pun dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sudah saatnya bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan  Informatika (Kominfo) untuk menggalakan tayangan TV yang mencerdaskan. Setidaknya, pemerintah merekomendasikan bahkan bisa menginstruksikannya kepada pelaku pertelevisian.

Begitu pun dengan pihak swasta yang bergerak di perusahaan chanel TV harus siap berjuang bersama. Tidak hanya memikirkan keuntungan finansial belaka. Namun siap merealisasikan idealismenya sebagai salah satu fasilitator dalam menggiring kecerdasan masyarakat. Masih banyak program edukasi yang jika dikemas dengan kreatif akan tetap diminati masyarakat.

Sudah saatnya kita beranjak menjadi masyarakat yang cerdas dengan menikmati tayangan-tayangan TV yang cerdas. Mudah-mudahan kita bisa menyaksikan, esok generasi kita adalah generasi yang terbebas dari kebodohan. Begitupun dengan budaya negeri kita. Semoga tetap terjaga kearifannya dengan adanya tayangan TV yang cerdas. Anak-anak kita akan mengisi waktu dengan tontonan TV tanpa khawatir anak kita menjadi bodoh atau berbuat kriminal. Indonesia adalah bangsa yang besar dan kita perlu melindungi dan menggiring bangsa ini menjadi bangsa yang terbaik di muka bumi ini.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Haerudin Muhammad Zain
Ketua Yayasan Profetik Muda Indonesia.

Lihat Juga

Berkaca Dari Laporan atau Review Audit Syariah di Berbagai Negara