Home / Pemuda / Cerpen / Kiya Galau

Kiya Galau

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Taburan bintang terhampar indah di langit-Nya. Tasbih pun tak hentinya dilantunkan. “Malam yang romantis” gumam Kiya. Sudah menjadi rutinitasnya memandangi lukisan malam itu. Terlebih akhir-akhir ini, matinya lampu di desa semakin menambah suasana menjadi syahdu. Tapi rasanya, masih ada yang kurang lengkap. Pendamping? Mungkin. Ya. Kiya merasa kesepian. Mungkin bintang-bintang itu sudah bosan melihatnya sendiri menikmati kerlap-kerlipnya. Ah, sudahlah. Kiya tak mau ambil pusing dengan masalah itu.

Berkali-kali Kiya ucapkan tak mau pusing, tapi tetap saja harapan untuk segera menggenapkan dien itu menggebu-gebu dalam dadanya. Sahabat-sahabatnya sudah menikah. Tinggal dia sendiri yang belum. Sekalipun ada yang masih sendiri, tapi ia sedang dalam proses menuju pelaminan. Lagi-lagi, Kiya hanya bisa menghela nafas.

Beberapa rekan Kiya, bahkan murobbi pun tak luput dari targetnya untuk minta dicarikan sang pengeran hati. Namun, usahanya tak kunjung berbuah indah. Ada yang sudah merekomendasikan, tapi setelah digali info tentang ikhwan tersebut, ternyata sedang proses dengan akhwat lain. Tak jarang, teman pun ikut bingung mencarikan karena dia sendiri masih single. Bahkan ada teman yang bilang “stok” ikhwan sedang langka. Bukan langka karena tidak ada, tapi langka yang sudah siap menikah.

***

Gimana? Lanjut?” Tanya Mbak Tantri di ujung telepon. Mba Tantri adalah rekan kerja Kiya yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.

“Kiya belum yakin, Mba.” Jawaban singkat Kiya membuat mbaknya menghela nafas panjang.

Sudah seminggu ini Kiya menyimpan sebuah amplop berisikan biodata seorang ikhwan. Tapi keraguannya selalu muncul. Padahal Kiya belum membuka biodata itu.

RabbTsabbit Qolbii… Tuntunlah hamba…” pintanya dalam doa dilanjutkan dengan, “Rabbanaa hablanaa min ladunka zaujan thoyyiban wa yakuuna shoohiban lii fid diinii wad dunyaa wal aakhiroh.”

Dengan bismillah, Kiya mulai membuka amplop dan mengeluarkan dua lembar kertas.

***

Butiran air yang turun ke bumi sungguh menyejukkan. Aroma tanah yang basah pun membuat Kiya merasa tenang. Di tengah menikmati hujan, Kiya masih saja memikirkan biodata yang telah dibacanya kemarin. Hatinya masih saja belum mantap. Diraihnya hand phone dan dikirimnya sebuah pesan.

“Iya, mba faham. Tapi coba fikirkan lagi. Istiharahkan. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan.” Balasan mba Tantri setelah Kiya mengutarakan untuk tidak meneruskan proses.

Kiya memang belum mengistiharahkan. Entahlah, ia malah langsung menolak. Aneh juga, padahal Kiya ingin sekali menyegerakkan tapi saat ada yang datang, malah buru-buru menolak.

“Mba, tidak salah kan kalau Kiya punya kriteria dalam memilih pendamping?” Tanya Kiya membalas smsnya.

“Memang tidak salah. Tapi ingat, menolak itu harus dengan alasan yang syar’i.” Balasnya. Membuat Kiya tertegun.

***

Kiya, jangan terus melihat masa lalu. Katanya mau move on?” Batin Kiya bertanya pada dirinya sendiri.

Kiya memang belum bisa melupakan seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya. Seseorang yang sempat hadir mengisi ruang dan hampir memiliki semua ruang di hatinya, tapi Allah takdirkan lain. Bayang-bayangnya selalu saja muncul di benak Kiya. Bukan tidak bisa melupakan, hanya kini, Kiya malah menjadikan lelaki di masa lalunya sebagai parameter dalam mencari pendamping.

“Kiya inginkan orang seperti dia.” Yakinnya dalam hati. Sulit Kiya mengutarakan pada Mba Tantri tentang hal ini. Hanya tolakan tanpa alasan yang ia berikan.

***

Lembaran demi lembaran biodata dari mba Tantri diterimanya. Tapi ia hanya bisa menolak. Bahkan biodata terakhir yang diterimanya langsung ia tolak tanpa membuka amplop yang diberikan mba Tantri. Entahlah. Ibarat virus di dalam laptop, mungkin hatinya sudah terjangkiti. Sulit melepaskan bayang-bayang masa lalu. Tapi, antivirus yang ia punya saat ini pun tak cukup ampuh menghilangkan virus-virus yang ada.

“Kiya, apa kabar hatimu?” Tanya mba Tantri

“Biasanya mba Tantri tanya kabar fisik, kok tiba-tiba tanya kabar hati?” Kiya membatin.

Alhamdulillah baik, mba.” Balas Kiya.

“Kiya shalehah, Mba sudah membantu sebisa mungkin. Tapi Kiya selalu menolak. Mba tidak mengerti, ikhwan seperti apa yang Kiya inginkan? Apa mungkin ada orang yang Kiya harapkan? Ceritakan saja, Insya Allah Mba akan membantu.”

Hati Kiya bergetar. Tak disangkanya, Mba Tantri berfikir sejauh itu. Belum sempat Kiya balas, Mba Tantri sudah mengirimkan sms lagi.

Cinta itu suci, maka jangan kamu kotori dengan cinta yang belum halal. Memang, sudah menjadi fitrah manusia menyukai seseorang. Tapi jangan sampai kecenderungan itu menutup hatimu. Kalau suami yang Allah kirimkan nanti mengetahui bahwa hatimu ternyata memikirkan lelaki lain, apakah dia tidak cemburu? Atau, jika kamu mengetahui suamimu memikirkan wanita lain, apakah kamu ikhlas?” Sms Mba Tantri memancing kelenjar air mata Kiya. Kiya hanya mampu membalas, “Mbaaa… T_T”. Ya. Kiya menangis.

***

“Dicoba dulu prosesnya ya?” Tanya Mba Tantri suatu hari di taman kota.

Kali ini, Kiya tak perlu menghela nafas seperti biasanya. Kiya hanya mampu menyunggingkan senyum sambil berkata, “Mba, jangankan proses, dikhitbah langsung pun Kiya siap.” Yakinnya, membuat Mba Tantri tersenyum lebar.

Mba Tantri telah membantu Kiya merubah mind set-nya terkait kriteria pendamping. Ikhlas, sebuah kata yang mampu merubah Kiya menjadi pribadi yang sekarang. Karena hanya keikhlasan yang mampu menghadirkan kebahagiaan.

“Yakin, nih?” Goda Mba Tantri sambil menggelitik pinggang Kiya.

Insya Allah, Mba.” Jawab Kiya mantap

“Kan kalau kata Afgan, jodoh pasti bertemu. Tapi kalau kata Kiya, jodoh pasti bersatu.” Lanjutnya sambil menatap langit disertai senyuman yang tak pernah Mba Tantri lihat sebelumnya.

Hujan di sore itu sudah berhenti. Kabut berganti sinar matahari yang tersisa di ujung langit biru. Tetesan air hujan dari dedaunan di samping kursi taman pun terlihat begitu tenang, setenang hati Kiya. Tanpa galau. Karena kini, Kiya mempunyai antivirus yang sangat ampuh. Sebuah kata, Ikhlas.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lastri Azzahra
Pengajar di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 4.

Lihat Juga

Surat Cinta untuk Jomblowan dan Jomblowati