Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kebaikan Itu Ibarat Cermin  

Kebaikan Itu Ibarat Cermin  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kebaikan itu ibarat cermin. Memantulkan hal yang serupa. Bahkan tidak sedikit pun memantulkan hal yang berbeda.

Pernahkah tanpa sengaja terpikir di benak kita tentang kebaikan yang kita dapat di hari ini? Misalnya saja, hari ini tanpa sengaja ada yang mentraktir kita makan di saat uang kita memang hanya cukup untuk ongkos pulang. Atau, mungkin ada yang berbaik hati menginformasikan khusus kepada kita bahwa saat ini sedang ada penawaran beasiswa. Atau, ada yang bersedia memberikan tumpangan kepada kita walau hanya sampai ujung gang tetapi setidaknya kita tidak perlu pulang dengan berjalan.

Bahkan sekalipun hanya kebaikan-kebaikan kecil seperti dipinjamkan penghapus, diingatkan untuk mengerjakan tugas, atau diantarkan ke kantin untuk membeli makan siang, itu pun juga sebuah kebaikan yang mungkin kita rasakan hari ini atau pernah kita rasakan di hari-hari sebelumnya. Namun pernahkah terbersit di benak kita mengapa Allah ciptakan begitu banyak orang baik di sekeliling kita yang memberikan kebaikan-kebaikan sehingga sedikit banyak telah memudahkan jalan hidup kita? Mari kita coba refleksikan satu persatu.

Kebaikan yang kita alami tiap harinya tentu berbeda. Antara kita pun tidak memiliki cerita tentang kebaikan yang sama. Ada yang hari ini mendapat begitu banyak kebaikan, ada yang hari ini hanya mendapat sedikit kebaikan. Sedikit atau banyak itu hanyalah perkara jumlah, tapi jika dilihat kekonsistenannya, adakah selama hidup kita, dalam satu hari saja kita temui hari yang tak ada sedikit pun kebaikan di dalamnya? Rasanya tidak ada, bukan? Banyak atau sedikit jumlahnya, setiap hari pasti kita merasakan hal yang bernama kebaikan itu.

Terlepas dari kapan dan berapa banyak kita mendapatkannya, rupanya ada hal yang istimewa dari suatu kebaikan. Cobalah sesekali perhatikan. Kebaikan itu ibarat cermin: memantul. Artinya kebaikan yang dilakukan oleh seseorang, baik ia sadari maupun tidak, kebaikan itu sesungguhnya akan kembali menjadi kebaikan bagi dirinya.

Bisa jadi dalam bentuk kebaikan yang sama, bisa juga dalam bentuk kebaikan yang sama tetapi lebih banyak jumlahnya, atau justru kebaikan yang lain yang sudah berubah wujud dari kebaikan sebelumnya. Bagaimanapun prosesnya, yakinilah bahwa kebaikan memang mempunyai hakikat untuk kembali kepada si pelaku kebaikan. Tidak percaya?

Saya ingin berbagi sedikit cerita. Pernah satu ketika, ada teman meminta tolong kepada saya untuk membawakan barang bawaannya karena ia sendiri sudah membawa beberapa barang. Saat itu, kondisi saya dan dia sedang lelah karena kami baru saja melakukan Kampanye Peduli Bahasa Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia. Pada kondisi yang seperti itu, normalnya mungkin kita menolak untuk dimintai tolong, ditambah sebetulnya teman kita masih mampu membawa barang bawaan itu sendiri.

Namun, ketika saya mencoba mengesampingkan ego dan berlapang hati untuk membantunya, saya tidak menyangka kalau ternyata kebaikan itu kembali lagi kepada diri. Kami pun pulang dengan bawaan masing-masing—saya membawa barang bawaannya. Kami berpisah di stasiun dan dia menitipkan barang bawaannya ini kepada saya, katanya akan diambilnya besok. Dan esok harinya benar saja. Saya bawa lagi titipan tersebut ke kampus tempat kami sama-sama menuntut ilmu dan kami pun bertemu di gedung X. Selepas ia mengucap terima kasih ia pun bertanya, apakah saya sudah membawa potongan koran untuk tugas hari tersebut. Sontak saya menunjukkan wajah kebingungan karena tidak tahu ada tugas. Setelah lama ia mencoba mengingatkan, saya baru sadar. Ah ya ternyata ada tugas hari ini untuk membawa potongan koran. Dengan dosen yang cukup disiplin untuk mata kuliah tersebut, mana bisa saya lolos dari omelan jika saya tidak membawa tugas?

Alhasil, saya yang berbalik meminta tolong kepada sahabat saya itu. Beruntungnya, ia membawa koran yang terdapat banyak artikel di dalamnya. Jadi bisa diambil untuk tugas. Bukan main girangnya saya, dan kemudian saya tersenyum-senyum sendiri. Rupanya kebaikan itu…

Dalam kesempatan yang lain, saya dimintai tolong untuk membantu senior menyunting skripsinya. Awalnya, saya berpikir untuk tidak menerima tawaran tersebut karena tengah disibukkan oleh UAS. Namun, rasa-rasanya saya sulit berkata tidak untuk orang-orang yang saya sudah anggap dekat.

Saya pun menerima dan mulai mencicil pekerjaan tersebut di tengah sibuknya mencicil tugas UAS. Ketika menyunting sebuah karya atau tulisan, tentu kita akan membaca isi tulisan tersebut, dan sedikit banyak mendapat informasi dari tulisan-tulisan tersebut. Ah benar saja. Rupanya Allah senantiasa punya rencana-rencana luar biasa.

Berhubung menjadi anak sastra, UAS bukanlah ujian yang dikerjakan di kampus. Bagi kami, UAS adalah makalah, makalah, dan makalah. Ada satu makalah, yang saya masih belum berpikir untuk membahas topik apa. Sudah mencari-cari tetapi rasanya tidak pas dengan hati saya.

Kemudian saya teringat tulisan senior saya dalam skripsinya. Saya pun menghubungi beliau untuk meminjam buku yang beliau sebutkan dalam skripsi tersebut. Akhirnya, makalah saya pun jadi. Andaikata saya tidak menerima tawaran untuk menyunting skripsi senior saya itu, mungkin saya tidak bisa mendapat topik makalah yang sesuai dengan hati saya. Rupanya, lagi-lagi, kebaikan itu…

Kebaikan itu cermin. Semoga tidak salah dalam menganalogikannya. Namun, kisah di atas hanyalah secuil kisah dari berjuta kebaikan yang kita dapatkan setiap harinya. Sebuah kebaikan akan melahirkan kebaikan berikutnya. Mungkin saja tidak secara langsung seperti kisah saya di atas. Bisa jadi sebuah kebaikan yang dilakukan melahirkan pahala-pahala di sisi-Nya. Dimana balasan itu lebih baik dari sekedar balasan di dunia. Boleh jadi, kebaikan-kebaikan yang kita rasakan saat ini adalah pantulan dari kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di waktu sebelumnya.

Begitulah. Kebaikan memang laksana cermin. Ia akan memantul kepada pelakunya. Baik dibalas dengan kebaikan yang sama, dengan kebaikan yang berubah bentuknya, ataupun dengan sesuatu yang lebih baik di sisi-Nya yang bernama pahala. Jadi untuk apalagi menunda sebuah kebaikan?

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali Imran: 134)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Perempuan penyuka kelembutan dan keharmonisan. Gemar memasak dan merenung. Bercita menjadi Ibu Peradaban Dunia.

Lihat Juga

Surga untuk Ibu