Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menikmati Rasa Sakit

Menikmati Rasa Sakit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Mirza Az-Zahrah)
Ilustrasi. (Mirza Az-Zahrah)

dakwatuna.com – Rasa sakit adalah sebuah nikmat. Karena seringkali ketulusan muncul ketika sakit mendera. Sebuah harapan yang tulus terucap. Karena sakit membuat kita sadar nikmat kesehatan. Karena detik itu pula,sakit telah membuka hijab pengingat jika hidup di dunia hanya sementara.

Terkadang rasa lelah, marah, putus asa itu muncul. Tapi bagi orang yang beriman maka ia tak akan pernah berhenti percaya, tidak akan menghentikan harapannya.

 “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,”(QS. Asy-Syu’araa: 80)

Allah telah memasukkan malam ke dalam siang. Allah telah menciptakan langit dan bumi.

Begitu pula dengan rasa sakit. Tidak akan Allah menurunkan penyakit melainkan ada obatnya. Saudaraku yang mungkin sekarang sedang merintih kesakitan, percayalah air mata kesabaranmu akan menjadi saksi kekuatanmu.

Bukankah setiap insan akan melalui cobaan keimanan? Cobaan yang menyapamu dengan cobaan yang menghampirinya mungkin berbeda. Cobaan keluarga, finansial, kesehatan, dll. Dan Allah sekarang menyapamu dengan sakit yang datang. Mungkin ini cara Allah mengampuni tumpukan dosa. Mungkin, ini cara Allah untuk mengungkapkan “kerinduan” pada tangisan tobat kita.

Ketika sehat, mungkin kita lebih banyak tertawa dan sedikit sekali mengingat kematian. Pada saat kita masih bisa berlari, mungkin kita lebih disibukkan mengejar dunia. Pada saat kita masih bisa merasakan pahit, asam, manis, asin dengan sempurna, mungkin kita tidak pernah memperhatikan apa yang masuk ke dalam lambung kita. Jangankan yang syubhat, haram pun mungkin tak sempat diperhatikan. Pada saat masih mampu mengucapkan kalimat dengan fasihnya, kita mungkin lebih banyak menggunjing daripada mengingat ayat-ayat-Nya.

Dan kini, ketika kita berbaring menahan perih, satu per satu noda itu mulai terasa.

Kita menikmati detik paling indah, karena kita benar-benar menghadirkan Allah. Meski sejatinya, Dia tak pernah pergi, sedetikpun.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mirza Az-Zahrah
Mahasiswi Sastra Inggris Universitas Negeri Malang. Saat ini juga sedang menjadi santri binaan PPPA Daarul Quran.

Lihat Juga

Apapun yang Terjadi, Nikmatilah