Home / Berita / Internasional / Asia / Busana Muslim Indonesia Disukai Masyarakat Jepang

Busana Muslim Indonesia Disukai Masyarakat Jepang

Salah satu hasil rancangan Windri Widiesta Dhari, perancang busana muslim dan pemilik NurZahra - (foto: bisnis.com)
Salah satu hasil rancangan Windri Widiesta Dhari, perancang busana muslim dan pemilik NurZahra – (foto: bisnis.com)

dakwatuna.com – Jakarta. Awalnya hanya ingin menjual scarf batik, tapi respon masyarakat Jepang terhadap moslem wear NurZahra ternyata luar biasa.

Desainer busana muslim NurZahra, Windri mengaku awalnya tidak mau ngotot memamerkan busana muslim koleksinya ketika Indonesia Fashion Foward, program Jakarta Fashion Week memilihnya ikut Tokyo Fashion Week di Jepang, Maret 2014 lalu. Ia memilih akan khusus berjualan scarf dengan motif batik karena ia anggap lebih universal.

“Tadinya aku pikir kita mau jualan scarfnya aja, tak terlalu ngotot di baju muslimnya, karena aku pikir ya udahlah kan di Jepang ini, tapi ternyata mereka suka semuanya. Mereka melihat kita total fashion, ya keseluruhan baju muslim yang aku tampilin,” bebernya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Meski hanya ingin menonjolkan scarf, sebagai desainer baju muslim, Windri tetap tidak bisa menghilangkan produk utamanya yaitu baju muslim untuk wanita. Jadilah scarf semacam aksesoris atau bahkan kerudung untuk mempercantik baju muslim.

Respon masyarakat Jepang terhadap koleksinya sangat menggembirakan. Sejumlah majalah fashion pun mendekatinya dan menjadikan sajian utama berita dalam medianya.

“Mereka menjadikan kita cover di majalah mereka dan membahas tentang batik yang kita usung, cara pembuatannya, apa saja bahannya dan desainnya,” ungkap Windri bangga.

Windri menjelaskan teknik pewarnaan batiknya mengenakan teknik shibori, tehnik pewarnaan dari Jepang. Yaitu teknik resist-dyeing, proses mencelup sebagian kain dengan cara mencegah bagian lainnya agar tidak terkena bahan celup. Shibori adalah istilah yang menggambarkan beragam metode mencelup kain sesuai pola tertentu dengan cara mengikat, menjahit, melipat, memelintir atau menekannya.

Lalu apa yang membuat masyarakat Jepang mengapresiasi baju muslim NurZahra? Windri mengungkapkan, selain dari motif batik yang unik, yaitu karena busana muslimnya yang terangkai dari beberapa pakaian lepas.

“Baju muslim kita kan sebenarnya cuma atasan berupa kaos panjang lalu dengan luaraan model blazer batik, kemudian dipadu dengan bawahan seperti celana, tinggal dipakaikan kerudung, trus jadi jilbab. Nah ini yang sangat mereka sukai,” ujar Windri.

Selain scarf, blazer panjang atau model coat serta celana batik koleksi Windri sangat digemari tidak hanya para perempuan di Jepang. “Seperti kemarin dari Austria tiba-tiba mau langsung beli padahal kita nggak ada toko online,” tukas dia (inilah/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Sultan Raja Bungsu

    hebat anak2 muda Indonesia, teruskan prestasimu di mancangara

Lihat Juga

Fatimah Zahratunnisa (Ica) berhasil keluar sebagai juara di kontes menyanyi internasional yang digelar di Jepang, Nodojiman The World. (facebook.com/fatimahzahratunnisa)

Istiqamah Berhijab Saat Menjuarai Kontes Menyanyi di Jepang, Muslimah ini Banjir Pujian