Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sakinah dalam Perjuangan

Sakinah dalam Perjuangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kalau ada kata sakinah, apa yang terbesit dalam pikiran Anda? Saya yakin, bahwa hal tersebut berhubungan dengan nikah. Tetapi, biarpun belum menikah, bisa kok kita menggapai sakinah.

Emang apa sih sakinah itu? Secara sederhana, sakinah berarti ketenangan. Antonim dari guncang & gerak.  Tempat kita menenangkan diri dari berbagai aktivitas pun disebut Maskan (rumah).

Jika kita menelisik kata sakinah dalam al-Quran, kita akan menjumpai bahwa kata ini terulang sebanyak enam kali. Keenam ayat itu terdapat pada al-Baqarah [2] ayat 248; at-Taubah [9] ayat 26 & 40; dan al-Fath [48] ayat 4, 18, 26.

Dalam konteks apa saja keenam kata sakinah tersebut diturunkan? Mari kita telusuri salah satunya, “Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan (sakinah) kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan balatentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (Qs.at-Taubah: 25-26)

Dalam ayat tersebut, Allah menurunkan sakinah kepada orang-orang beriman yang tetap menyertai Rasulullah berperang (bertahan di medan pertempuran, tidak melarikan diri di saat yang lain kocar-kacir meninggalkan medan Hunain).

Dalam peperangan yang terjadi pada tahun ke 8 Hijriah tersebut, ada sebagian kaum muslimin yang berbangga dengan jumlah mereka yang banyak. Terlebih peperangan itu terjadi hanya berselang beberapa hari usai penaklukan kota Makkah (fathu makkah). Maka ketika ada seorang sahabat yang dengan semangat meneriakkan, “Kali ini kita tidak terkalahkan!”, para sahabat yang lain pun sepakat membenarkannya.

Akan tetapi, kenyataan yang terjadi di medan pertempuran berbeda dengan bayangan yang mereka angankan. Pasukan kaum muslimin yang berjumlah 12.000 ternyata kocar-kacir menghadapi musuh yang hanya berjumlah 4.000 pasukan. Dari 12.000 pasukan itu, hanya tersisa tidak lebih dari 300 orang yang bertahan. Kepada orang yang bertahan di medan pertempuran inilah Allah karuniakan kepada mereka sakinah, yang membuat mereka tenang; tidak gentar menghadapi musuh dan berhasil mengubah kekalahan menjadi kemenangan gemilang.

Demikianlah. Sakinah Allah turunkan, salah satunya, kepada orang-orang yang tetap bertahan di medan pertempuran.

Akhirnya, jika ingin memeroleh sakinah, teruslah bertahan di jalan dakwah ini. Teruslah bertahan di medan perjuangan ini. Semoga dengannya Allah berkenan turunkan sakinah-Nya kepada kita.

Jika tetap merasa berat bertahan di medan dakwah ini, mungkin perlu segera berdiri dan menyenandungkan lagu Maidany yang terinspirasi dari kata-kata Umar bin Khaththab dengan lantang,

Bila ada 1000 mujahid, aku lah 1 di antaranya

Bila ada 100 mujahid, aku lah 1 di antaranya

Bila ada 10 mujahid, aku lah 1 di antaranya

Bila ada seorang mujahid, aku lah yang menggenggamnya

 

*) Catatan: Jumlah pasukan dalam perang Hunain ini ada beberapa riwayat. Jumlah di atas mengambil dari riwayat Tafsir Jalalain. Satu hal yang pasti adalah jumlah pasukan muslim saat itu lebih banyak dari pasukan musuh.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sirot Fajar
Mahasiswa. Sang Pembelajar di Psikologi Universitas Negeri Surabaya; penulis buku Psikologi Pemuda & 30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup; pernah jadi ketua Klub Dakwah Kampus Unesa.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah

Organization