Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Teruslah Beramal

Teruslah Beramal

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Akhir ayat 215 surat al-Baqarah  menjadi  nasehat yang sangat menyejukkan bagi kita semua. Setelah perjalanan panjang yang pastinya melelahkan fisik dan jiwa dalam perjuangan  jihad siyasi. Allah  memastikan lewat ayatnya, Dan apa saja kebaikan yang kamu lakukan, maka sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui.” Tak satupun, amal kita terlewat dari pengetahuan dan catatan Allah swt. Maka, kenapa mesti bersedih dengan realitas hasil? Yang perlu kita konfirmasi terhadap diri adalah pertanyaan, “Sudahkah dalam setiap gerak amal, kita sertakan niat untuk menggapai kasih sayang dan keridhaan Allah swt?”

Allah Mahaadil. Itu yang terpikir saat membaca postingan gambar di sebuah group BBM. Di dalamnya termuat tulisan bijak dari seseorang yang saya sendiri tidak mengenal secara detail. Nasehat dari akun [email protected]_hassan itu berbunyi, “Bila anda di gaji  10 juta oleh perusahaan, namun anda bekerja seperti bergaji 20 juta, maka Allah akan membayar lebihnya dengan kesehatan, keluarga   yang bahagia/sejahtera, dan semisalnya. Namun bila anda bekerja seperti orang bergaji 5 juta,  maka Allah akan menuntut sisanya dengan memberimu kesusahan, hutang, kesempitan dan semisalnya. Jadi, bekerjalah maksimal. Ikhlaslah. Dan perhatikan apa yang Allah perbuat untuk kejayaanmu.”

Kalimat di atas bukanlah hadits. Hanya kalimat bijak dari seseorang. Mungkin, beliau mendapatkan inspirasi tersebut dari pengalaman hidupnya. Jujur, saya tertarik untuk  membenarkannya. Semangat nilainya sama dengan semangat nilai yang ada dalam al-Qur’an ataupun hadits.

Misalnya, bisa kita hubungkan dengan firman Allah pada surat al-Baqarah ayat 215 sebagaimana kita bincang di atas, atau juga firman-Nya, “Faman Ya’mal Mitsqaala Zarratin Khairan Yaroh wa Man Ya’mal Mitsqaala Zarratin Syarran Yaroh (Qs az-Zalzalah: 7-8).  Dari hadits nabi kita mendapatkan semangat nilai yang sudah Rasul sampaikan, “Innallaha Katabal Ihsan ‘Alaa Kulli Syai’in.” 

Sudahkah kita tunaikan tugas dan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya? Jika jawabannya adalah sudah, tak perlu lagi ada dirisaukan. Bahwa imbalan dunia dalam bentuk gaji/materi/harta/jabatan/perolehan suara dan semisalnya adalah reward atau penghargaan dunia, yang tidak sertamerta berbanding lurus atau berbanding terbalik dengan reward akhirat yang Allah sediakan. Reward dunia tersebut juga berkaitan dengan takdir Allah terhadap makhluk-Nya. Evaluasi langkah manajemen boleh dan sah-sah saja, tapi jangan sampai evaluasi tersebut melunturkan nilai dan semangat keikhlasan. Tipis memang batasnya. Maka berhati-hatilah saat evaluasi. Jangan–jangan ketika maksud hati mengevaluasi langkah kerja dihubungkan dengan realitas hasil, kita tergelincir pada jurang ketidak-ikhlasan, membanggakan apa yang sudah kita perbuat demi mendapat apresiasi manusia dan reward dunia. Atau jatuh pada jurang ketidak-ridhaan  terhadap takdir yang telah Allah putuskan.

Suatu kali, saat medampingi sosialisasi seorang Caleg akhwat, saya terharu  mendengar penuturannya, “Saya senang menjadi caleg. Karena dengan ini, saya sering didoakan oleh banyak orang. Dan tolong doakan saya agar husnul khatimah.”  Dengan semangat yang sama, juga terucap dari yang lain, “Saya senang diberi amanah menjadi Caleg. Karena dengan ini, saya bisa banyak silaturahim dan banyak mengenal masyarakat yang selama ini jarang tersentuh oleh dakwah ini.” Nah, semangat-semangat semacam ini perlu terus dihidupkan. Teruslah beramal, teruslah bergerak, teruslah silaturahim, teruslah berbagi.  Allah tidak pernah tidur, Allah Maha Melihat, Allah sebaik-baik pemberi balasan.

Pemilu adalah momentum bagi kita untuk mengevaluasi tingkat ketercapaian dakwah ini. Sudah sejauh mana nilai-nilai dakwah ini terinternalisasi pada diri kita. Pada diri ikhwan-akhwat dan pada masyarakat. Apa yang terjadi dan hasil yang kita dapatkan sejatinya menggambarkan sejauh itu  pula dakwah ini  terinternalisasi. Hasbunallah Wani’mal Wakiil Ni’mal Maula Wani’man Nashiir Walaa Haulaa Walaa Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Azhiim.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus