Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Antara Idealis dan Netralis  

Antara Idealis dan Netralis  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kata idealisme sudah jamak kita dengar. Bahkan mungkin, kita sendiri sering menjadi pelafalnya (pengucap-pen). Apalagi di kalangan mahasiswa, wabilkhusus aktivis mahasiswa. Kata ini menjadi primadona dan sering disandingkan dengan kata mahasiswa itu sendiri. Tidak sedikit juga yang mengidentikkan kata idealisme dengan kalangan mahasiswa, bahwa yang biasanya mempunyai idealisme adalah mahasiswa. Sehingga ini yang menjadi ‘senjata’ andalan atau ‘jualan’ khas mahasiswa ketika berinteraksi dengan kalangan luar kampus, khususnya para pejabat. Jadi, idelalisme ini pokoknya mahasiswa banget deh! Walaupun di luar mahasiswa, sebenarnya juga ada aktivis LSM, ormas dan lain-lain yang merupakan orang-orang idealis.

Sebelum masuk ke pokok bahasan, ada baiknya kita mendefinisikan makna kata idealisme ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) idealisme berarti: 1. Aliran ilmu filsafat yg menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. 2. Hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna. 3. Aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan, meskipun tidak sesuai dengan kenyataan. Sedangkan idealis adalah orang yang menganut paham idealisme. Kalau bisa kita simpulkan bahwa idealisme adalah sikap yang mementingkan kesempurnaan, berjalan sesuai aturan dan norma baik aturan agama, negara dsb. Pada intinya, idealisme itu berjalan sesuai dengan jalan kebaikan.

Kemudian kita definisikan juga makna kata netral berkaitan dengan judul tulisan ini. Masih menurut KBBI netral artinya: 1. Tidak berpihak (tidak ikut atau tidak membantu salah satu pihak). 2. Tidak berwarna (dapat dipakai untuk segala warna). 3. Tidak dulu kelompok jantan atau betina. 4. Menunjukkan sifat yang secara kimia tidak asam dan tidak basa. 5. Bebas; tidak terikat (oleh pekerjaan, perkawinan, dsb). Sedangkan netralis adalah orang yang menganut paham netral. Kalau bisa kita simpulkan bahwa netral adalah sikap yang berada di pertengahan, tidak condong ke salah satu sisi. Dengan kata lain, netral wilayahnya di antara atau abu-abu (tidak jelas).

Dalam aktivitas kita sehari-hari, terutama di kalangan mahasiswa, seringkali terbentur dengan realitas atau kenyataan di lapangan yang tidak sesuai dengan idealisme yang dianut. Karena ketidaksiapan menghadapi realitas kehidupan inilah awal dari ‘masalah’ itu. Ketika ada aktivis mahasiswa yang menjadi simpatisan partai atau mungkin menjadi kader dan penggiat partai, anggota ormas tertentu kita katakan bahwa dia sudah tidak idealis lagi. Mungkin juga, ada aktivis mahasiswa yang bekerjasama dengan pemerintah, partai, ormas, dan lain-lain dalam melaksanakan kegiatan kemahasiswaan bersifat event organizer (EO) lalu kita bilang ini pragmatisme (mencari keuntungan-pen) dan kita judge bahwa dia tidak idealis lagi. Dan, masih banyak contoh lainnya.

Bagaimana seharusnya idealisme itu? Menurut saya, idealisme adalah idealisme yang realistis bukan idealisme yang teoritis. Ada kaidah dalam agama kita (Islam-pen) “Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat” maknanya tsawabit (hal-hal baku yang bersifat permanen) adalah masalah ushul (prinsip) di dalam ajaran Islam, dan mutaghayyirat (hal-hal non-baku yang mungkin dan bisa berpotensi untuk berubah-ubah) adalah masalah-masalah furu’ (non- prinsip) dari ajaran Islam.

Mengutip perkataan ustadz Anis Matta, maka idealis yang realistis adalah idealis yang memadukan antara dua hal, yaitu agama dan realitas dengan prinsip ats-tsawabit wal-mutaghayyirat tadi.

Sebab antara idealis berbeda dengan netralis. Netralis ada di pertengahan, tidak memihak kepada keburukan atau kebaikan, sedangkan idealis memihak kepada kebaikan. Beginilah seharusnya mahasiswa, idealis bukan netralis. Ketika seorang aktivis menjadi pendukung salah satu pihak yang ia anggap punya visi dan misi yang benar serta mengajak kepada kebenaran, maka tidak ada salahnya seorang aktivis mahasiswa melakukannya. Harus diingat, hukum alam kita ini cuma ada dua: benar atau salah, laki-laki atau perempuan, surga atau neraka dan tidak ada di antara keduanya. Allahu’alam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Sriwijaya. Pernah menjadi Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa Unsri 2011-2012 dan sedang proses menyelesaiankan studi.

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers