Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Siapa Berani Mengalah?  

Siapa Berani Mengalah?  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Pagi itu, Bu Siti, seorang nenek berusia tujuh puluh tahunan pingsan di depan rumahnya. Entah apa penyebabnya, tidak ada yang tahu. Di rumah itu beliau tinggal sendirian. Hanya seminggu sekali, Bi Inem, tetangga belakang rumahnya datang untuk membantu bersih-bersih rumah. Ketika itu, Bu Siti sedang sendirian di rumahnya.

Untunglah ada Pak Udin, tetangganya yang sedang lewat, melihat Bu Siti terjatuh. Dia segera menolongnya dan kemudian membawanya ke Rumah Sakit. Ketika petugas RS menanyakan keluarga Bu Siti, Pak Udin hanya clingukan dan akhirnya menjawab, “Saya suster. Saya tetangganya.”

Setelah petugas RS menuntaskan administrasi, barulah Bu Siti ditangani. Dokter menyarankan untuk rawat inap, karena ada diagnosa awal yang harus diobservasi lebih lanjut. Akhirnya, Bu Sitipun ditempatkan di sebuah ruang perawatan. Ketika kondisinya sudah mulai stabil, Pak Udin bertanya pada Bu Siti.

“Maaf Bu, apakah Bu Siti punya anak, saudara, atau keluarga yang lain?”

Dengan pandangan sayu dan tubuh lemas, Bu Siti menjawab, “Punya Pak, anak saya ada di kota.”

“Ibu punya alamat atau nomor teleponnya?” tanya Pak Udin lagi.

Segera Bu Siti merogoh-rogoh kantung bajunya, mencari sesuatu. Tak berapa lama kemudian mengeluarkan selembar foto seorang laki-laki gagah dengan penampilan yang rapi. Foto itu diserahkan kepada Pak Udin sambil berkata,”Ini anak saya…”

Pak Udin menerimanya, melihat sebentar dan membaliknya. Di belakang foto itu tertera alamat dan nomer telpon. “Boleh saya hubungi anak Ibu?” tanya Pak Udin
“Ya…” jawab Bu Siti lirih

Beberapa kali Pak Udin mencoba menghubungi nomor yang tertera di balik foto itu, tapi hanya mailbox. “Belum bisa dihubungi Bu.” katanya. Bu Siti hanya mengangguk lemah.

Siangnya, Pak Udin kembali mencoba menelepon, belum juga bisa dihubungi.  Demikian juga sore harinya. Setelah malam barulah telepon diangkat. Dari seberang terdengar suara menjawab,  “Ya, halo?”
“Maaf pak, saya Udin, tetangga ibu anda di kampung. Saat ini ibu anda sedang di rumah sakit. Bisakah anda datang sekarang?”

“Ibu sakit apa?” tanyanya lagi.

“Dokter bilang lemah jantung dan apalagi gitu. Saya belum begitu faham.”

“Aduh…bagaimana ya? Besok saya ada meeting penting. Sementara istri saya juga sedang hamil. Dia nggak mau saya tinggal. Diajak juga nggak bisa. Gimana ya?” Jawab suara di seberang penuh tanya.

Sementara di belahan bumi yang lain, Pak Ahmad dan Bu Ahmad sedang bimbang, bingung, bahkan mereka sedikit bersitegang. Saat itu mereka sedang mendapatkan rejeki yang lumayan. Lho? Dapat rejeki kok malah bingung? Ya, mereka bingung bagaimana cara mengatur uang itu. Pasalnya sudah lama mereka mengidam-idamkan untuk pergi naik haji. Alhamdulillah mendapat rejeki, cukup untuk berdua. Masalahnya adalah, ibunya Pak Ahmad juga sangat menginginkan hal yang sama. Berulang-ulang sejak bertahun-tahun yang lalu beliau sering berkata, “Ahmad, kalau kamu punya rejeki ajak Ibu ke Mekah ya? Ibu ingin sekali berhaji sebelum Ibu meninggal.”

Bagaimana Pak Ahmad nggak bingung, sementara dengan tegas Bu Ahmad mengatakan, “Kalau Bapak mau pergi haji saya harus ikut.”

Jika kita berada pada posisi seperti anak Bu Siti atau Pak Ahmad, mana yang harus kita lakukan?

Jika kita merunut ke langkah awal menapaki biduk rumahtangga, bahwasanya pernikahan bukanlah hanya mempersatukan dua insan dalam satu ikatan, tetapi juga mempersatukan dan melibatkan dua keluarga. Kemudian akan berkembang menjadi berbagai interaksi yang kompleks. Ada istri/suami dan anak-anak, ada orangtua dan juga mertua, atau mungkin anggota keluarga yang lain. Maka dalam perjalanan berumahtangga dari waktu ke waktu, tak menutup kemungkinan, atau seringkali, atau bahkan selalu kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Sulit dalam memilih kewajiban mana yang harus didahulukan, kepada orangtuakah? Atau kepada pasangan hidup?

Mungkin kita sudah hafal luar kepala tentang wajibnya, manfaatnya, termasuk cara-caranya birrul walidain (berbakti pada orangtua). Bahkan nash-nashnyapun sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi dalam kehidupan nyata, tidak jarang kita berada pada posisi yang sulit untuk mengaplikasikannya. Di satu sisi ada orangtua yang butuh perhatian, di sisi lain ada pasangan atau anak-anak yang menuntut tanggung jawab. Posisi sulit itu pula yang kemudian sering melahirkan keputusan yang kurang bijak jika tidak dikelola dengan baik.

Sangatlah wajar jika orangtua sering dilanda kekhawatiran, tatkala anaknya menikah. Walaupun kekhawatiran itu tidak sampai menghilangkan kebahagiaan atas pernikahan anaknya. Yang paling mereka khawatirkan adalah ‘kehilangan’. Bukan kehilangan dalam arti fisik, tapi kehilangan dalam perhatian  kasih sayang ataupun kehilangan waktu kebersamaan.

Jika anda seorang laki-laki maka kewajiban dan ketaatan kepada orangtua tidak pernah berubah sedikitpun. Baik sebelum ataupun sesudah menikah. Lain halnya dengan wanita, jika sudah menikah, maka yang bertanggung jawab penuh, dan orang pertama harus ditaati adalah suaminya. Karena ijab qobul dalam pernikahan adalah ‘pengalihan’ tanggung jawab dari orangtua ke suami.

Sebagai suami/istri sangatlah bijak jika tidak menghalangi pasangan untuk berbakti pada orang tuanya. Karena orangtuanyalah yang merawat, membesarkan, mendidik dan membiayai segala kebutuhannya hingga dewasa atau hingga mampu mandiri. Bukankah sebenarnya kita tinggal enaknya, tanpa bersusah payah? Ibaratnya tanpa menanam, tanpa merawat, tinggal memetik buahnya saja. Atau paling tidak, tinggal menunggu panen. Enak kan? Sudah sepantasnya kita berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada mertua. Karena jasa merekalah kita mendapat pasangan hidup seperti sekarang. Karena usahanyalah kita menerima karunia itu. Untuk itu, berikanlah ruang, kebebasan, dan keleluasaan pada pasangan kita untuk mendapatkan surganya dengan berbuat baik pada orangtuanya. Agar dia tidak merugi sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah hadist riwayat Muslim,

“Dari Suhaili dari ayahnya dan dari Abu Hurairah RA. Rasulullah saw. bersabda, “Merugilah ia (sampai 3 kali)” Para sahabat bertanya, “Siapa ya Rasulullah?” 

Rasulullah saw. bersabda, “Merugilah seseorang yang hidup bersama kedua orangtuanya atau salah satunya di saat mereka tua renta, namun ia tidak masuk surga” 

Jangan biarkan pasangan kita ada pada posisi sulit harus memilih, tapi biarkan dia mengambil semua pilihan. Kita dukung dan bantu agar bisa menjalankan semuanya dengan baik. Menunaikan kewajiban, amanah dan tanggungjawabnya. Sehingga, tidak harus ada yang diambil dengan meninggalkan yang lainnya. Tidak harus ada yang senang di satu pihak dengan menyebabkan mengalirnya airmata di pihak yang lain. Jikapun pada keadaan terpaksa, maka kitalah yang mengalah untuk orangtua.

Seorang suami tidak perlu over protective  terhadap istrinya.Agar istrinya bisa tetap menumpahkan kasihsayang dan baktinya kepada orangtuanya. Asalkan dia tetap bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik, dan tanpa menelantarkan anak-anaknya. Biarkan dia memperhatikan, membantu, ataupun merawat ibu bapaknya. Bukankah seorang wanita yang patuh terhadap orangtuanya, tentu tidak akan sulit baginya untuk taat pada suami? Bukankah seorang wanita yang bakti pada orangtuanya, tentu tidak akan canggung untuk berlaku hal yang sama pada suaminya? Bukankah seorang wanita yang sabar menghadapi orangtua, tentu akan telaten merawat anak-anaknya? Jika seorang wanita seperti itu siapa yang beruntung? Pastilah suaminya. Tentulah anak-anaknya.

Seorang istri juga tidak perlu terlalu dominan mempengaruhi pasangannya. Agar suaminya bisa leluasa berbakti pada orangtuanya. Tidak perlu kucing-kucingan untuk menjenguk mereka, tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk menafkahinya, dan tidak perlu mencari-cari alasan untuk membuat orangtuanya bahagia. Asalkan tidak menelantarkan anak-istrinya, asalkan sudah menjalankan kewajibannya sebagai suami, maka biarkan dia mengasihi orangtuanya. Biarkan dia berbakti padanya. Bukankah seorang laki-laki yang sayang pada orangtuanya, tentu dia punya hati yang lembut, yang tidak akan mungkin tega membuat tangis istri dan anaknya? Bukankah seorang laki-laki yang berbakti pada orangtuanya, tentu akan menjadi suami yang penuh tanggungjawab pada keluarganya? Jika seorang laki-laki  seperti itu, siapa yang berbahagia? Tentulah istri. Tentulah anak-anaknya.

Walaupun kadang ada yang sebaliknya, seorang laki-laki yang sangat sayang pada istri dan anak-anaknya, sampai tega mengabaikan orangtuanya. Na’udzubillahi min Zaalik. Kita jaga agar jangan sampai suami kita menjadi seperti itu.

Sebagai istri, ada saat tertentu kita harus berani mengalah. Ha? Berani mengalah? Kenapa harus berani? Tapi, untuk mengalah? Bukannya harus berani melawan? Oh ya. Ini teori aneh, barangkali. Jika untuk berani melawan maka hal itu dibutuhkan ketika ada musuh atau ketika ada sesuatu yang membahayakan diri. Sehingga perlu melawan agar menang atau agar posisi  menjadi aman. Untuk berani melawan, kita perlu mengumpulkan kekuatan, juga perlu bermacam strategi untuk mengalahkan musuh atau bahkan untuk menghancurkannya. Setelah itu apa yang kita dapatkan? Kalau menang akan berbahagia di atas penderitaaan orang lain, dan kalau kalah akan menderita, sakit hati ataupun amarah.

Tapi dalam sebuah pernikahan, kita tidak mencari pemenang. Sama sekali tidak. Kita juga tidak sedang menghadapi musuh. Bahkan bahaya yang mengancam kita pun tidak. Kita memang sedang berjuang. Namun bukan berjuang melawan seseorang. Tapi berjuang untuk memenangkan kemashlahatan. Kita juga sedang mengatur strategi, yaitu strategi untuk membuat kebahagiaan. Mewujudkan rumahtangga sakinah (tenteram), mawaddah (penuh cinta dan kasih sayang) wa rahmah (mendapat karunia Allah swt).

Adakah musuh kita? Tentulah ada. Musuh utama kita adalah hawa nafsu, setan dan ego. Untuk itulah kita perlu keberanian untuk mengalah. Tatkala kita sudah mengambil sikap untuk berani mengalah, maka yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan penyakit hati (angkuh dan sombong), mengendalikan emosi, merendahkan egoisme (mau menang sendiri), melunakkan tutur kata, memupuk kesabaran disertai keikhlasan untuk berbuat. Sulitkah? Beratkah? Ya iyalah. Pasti. Karena itulah perlu ‘keberanian’.

Jika sudah mampu untuk berani mengalah, maka nantinya yang jadi pemenang adalah kebaikan, ketentraman dan kebahagiaan.

Mertua bukanlah rival (lawan) kita, bukan pula kompetitor (saingan) kita, tapi mereka satu tim pendukung  bagi kesuksesan kita dan pasangan. Menilik ke belakang, bahwa pasangan kita bisa seperti sekarang berkat keringat, airmata dan doa mereka. Dan ke depannya, adalah tidak ada keberkahan tanpa ridha mereka.

Terkadang, memang tidak mudah untuk merawat orangtua. Perbedaan jaman, gaya hidup, kegemaran dan juga nilai-nilai kehidupan sebagai pemicunya. Untuk diajak tinggal di rumah kita saja belum tentu mereka bersedia. Tentunya dengan berbagai alasan seperti lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, atau merasa masih mampu mandiri, atau pola hidup yang berbeda dengan anak, menantu serta cucunya. Sementara bagi si anak, tuntutan pekerjaan dan tanggungjawab ada di tempat yang jauh. Dalam kasus seperti ini butuh pengertian dan kesabaran dari semua pihak. Kalau dipikir bukankah mereka dulu juga sangat sabar dan telaten mengasuh kita? Jika kita tidak mau makan, akan dibujuk, dirayu dan segala macam cara ditempuh agar kita mau makan. Demikian pula dengan telatennya mereka mengejakan huruf-perhuruf, kata-perkata, semenjak kita belum bisa mengucapkan sepatah katapun hingga pandai bicara. Dengan tekunnya mengajarkan banyak hal, dari kita tidak bisa apa-apa hingga mampu banyak berkarya. Subhanallah. Sekarang giliran kita untuk berlaku hal yang sama, mencontoh kesabaran, ketelatenan dan ketekunan mereka.

Terakhir, yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan untuk orangtua adalah doa. Ini yang benar-benar akan membahagiakan mereka di dunia dan nanti di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadist riwayat Baihaqi,

“Bahwasanya akan ada seorang hamba pada Hari Kiamat nanti yang diangkat derajatnya, kemudian ia berkata, ‘Wahai Tuhanku darimana aku mendapatkan (derajat yang tinggi) ini?’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Ini adalah dari istighfar (doa permintaan ampun) anakmu untukmu.’” 

Dulu, sekarang dan selamanya kita menjadi anak. Sudah atau akan, kita menjadi orangtua. Insya Allah jika kita baik sebagai anak, akan diperlakukan baik pula oleh anak.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,46 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hamba Allah Ta'ala yang selalu berusaha untuk mendapat cinta-Nya. Lahir di Jawa Timur dengan nama Susanti Hari Pratiwi binti Harmoetadji. Pendidikan formal hanya sampai S1 Teknik Kimia ITS

Lihat Juga

Lihat, Bagaimana Wanita Mulia Ini Menyelesaikan Persoalan Rumah Tangganya