Home / Berita / Internasional / Amerika / Kembali dari Afganistan, Muslim AS ini Diinterogasi dan Dilarang Terbang

Kembali dari Afganistan, Muslim AS ini Diinterogasi dan Dilarang Terbang

Muslim AS (ilustrasi)
Muslim AS (ilustrasi)

dakwatuna.com – Washington. Naveed Shinwari dan tiga orang Muslim Amerika Serikat lainnya menggugat Pemerintah AS menyusul adanya nama mereka ke dalam daftar larangan terbang dari negara itu.

Tak hanya itu, ia juga mengaku adanya pihak yang berupaya memaksa mereka bekerja untuk biro investigasi federal AS (FBI) dengan memata-matai warga Muslim lainnya. Kepada Democracy Now!, Shinwari mengatakan, ia tak tahu bagaimana namanya bisa sampai masuk ke daftar larangan terbang tersebut yang menurut New York Times mencapai 700 ribu orang.

Sebelumnya, Shinwari berangkat ke Afghanistan untuk menikahi seorang perempuan warga negara itu. Ia dijadwalkan kembali ke AS pada Februari 2012. Namun, perjalanan laki-laki itu malah terhenti di Dubai, lantaran boarding pass-nya ke AS ditolak oleh petugas bandara.

Shinwari kemudian dibawa ke sebuah ruangan di bandara tersebut, dan diinterogasi di sana oleh dua agen FBI selama empat jam.

“Saya ditanyai apakah selama di Afghanistan pernah mengikuti kamp-kamp pelatihan milisi,” aku Shinwari, seperti dikutip dari World Bulletin, Jumat (25/4). Setelah terjebak di Dubai selama lima hari, dia akhirnya diberi boarding pass ke AS. Akan tetapi, setibanya di Washington, Shinwari kembali diinterogasi oleh agen-agen FBI.

Sebulan kemudian, dia diberitahu jika namanya masuk dalam daftar larangan terbang di negara itu. Untuk alasan ini, Shinwari pun sudah 26 bulan tak bisa mengunjungi istrinya di Afghanistan.

Pengacara Shinwari, Shayana Kadidal, mengeluhkan tidak adanya definisi yang jelas dari pihak berwenang AS tentang apa saja yang menyebabkan seseorang bisa masuk dalam daftar larangan terbang.

Lebih memprihatinkan lagi, kata dia, juga tidak ada cara untuk mengajukan banding atas masalah tersebut, sehingga membuatnya sangat rentan disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.

Seperti pada kasus 2005 lalu. Ada mahasiswa Universitas Stanford asal Malaysia yang tidak bisa masuk ke AS untuk menyelesaiakan studinya gara-gara namanya masuk dalam daftar larangan terbang.

“Delapan tahun kemudian, baru diketahui jika ada agen yang ternyata sengaja mencentang kotak ‘ya’ pada lembaran penilaian mahasiswa itu. Padahal yang seharusnya ditandai adalah kotak ‘tidak’,” tutur Kadidal.

Menurut Kadidal, selain Shinwari, ada penggugat lain yang belum bisa menjumpai istri dan tiga anaknya gara-gara dilarang terbang ke luar AS.  “Ada pula penggugat yang tidak bisa menjumpai neneknya yang sudah berusia 93 tahun di Pakistan lantaran alasanyang sama,” ungkapnya. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Dicky Chandra Kirana

    masya Allah..

Lihat Juga

“Joker” Kanada ini Tebar Teror, Setiap Pekan Ancam Bunuh Satu Orang Arab