Home / Berita / Nasional / Lintasarta Resmikan Program Pasca Bencana Gunung Sinabung

Lintasarta Resmikan Program Pasca Bencana Gunung Sinabung

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Awan panas gunung Sinabung (Foto: harianandalas.com)
Awan panas gunung Sinabung (Foto: harianandalas.com)

dakwatuna.com – Medan.   PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta), perusahaan penyedia Komunikasi Data, Internet dan Layanan Nilai Tambah untuk berbagai sektor industri bekerja sama dengan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU meresmikan CSR program pasca bencana Berbagi Air untuk Sinabung (25/04/2014).

Ini merupakan program recovery untuk wilayah-wilayah yang terkena dampak dari Erupsi Gunung Berapi Sinabung di Desa Kineppen, Kec. Munte, Kab. Karo.

Di daerah yang berjarak enam kilometer dari puncak sinabung ini, Lintasarta menjalankan program pembangunan 5 bilik MCK, 1 Sumur bor dengan kedalaman 80 meter, dan 6 titik tempat wudhu.

Selain pembangunan, program ini juga membentuk Badan Pengelola Air Bersih, yang akan mengelola sumber air yang dibangun untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Badan pengelola air bersih yang dibangun sudah diberikan training pada tanggal 23 April 2014.

Program pembangunan telah dilakukan sejak awal April 2014, dan akan diresmikan Corporate Secretary General Manager Lintasarta, Lista Dewi, dan Presiden Direktur PKPU Agung Notowiguno, Jumat (25/4/2014). Dalam acara peresmian juga akan dilaksanakan pelantikan Badan Pengelola Air Bersih dengan membacakan ikrar Badan Pengelola Air Bersih.

Adanya bantuan pembangunan ini, bisa membantu warga desa yang jumlahnya mencapai 500 kepala keluarga atau sekitar 1000 jiwa yang rata-rata bertaraf hidup menengah ke bawah dan berkategori RTM (Rumah Tangga Miskin).

Apalagi selama semenjak erupsi sinabung, wilayah ini tidak pernah hujan padahal wilayah Kineppen jauh dari sumber air. Sementara untuk membuat sumur bor hanya kalangan orang kaya saja yang mampu karena biaya pengeboran minimal Rp 30 juta, dan kedalaman pipa minimal 75 meter.

Di wilayah itu hanya ada enam orang yang mempunyai sumur bor. Untuk mendapatkan air warga harus membeli air kepada salah satu warga yang mempunyai sumur bor yakni satu dirigen air dihargai Rp 1000 rupiah dan untuk air minum isi ulang Rp 4000/galon.
Harga tersebut dirasa sangat mahal, karena penghasilan warga hanya Rp 10-20ribu/hari, dan kebutuhan air/hari bisa 3 dirigen lebih. Air digunakan warga untuk memasak, mandi, mencuci baju, dan keperluan MCK.

Lista Dewi mengatakan, “Lintasarta senang dapat ikut berperan membantu memberikan program paska bencana untuk masyarakat sekitar Gunung Sinabung bekerja sama dengan PKPU. Kami berharap sarana air bersih ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya bagi korban bencana Gunung Sinabung.”

Di desa itu terdapat satu puskesmas di sana. Dan akses air di puskesmas tersebut juga sulit. Bahkan puskesmas juga membeli air ke sumur bor milik warga untuk mendapatkan air.
Pasca erupsi sinabung, kondisi wilayah tertutup abu tebal, mayoritas penyakit yang diderita selama satu bulan belakangan ini adalah ISPA dan iritasi mata. Di samping program sarana air bersih perlu aksi prosmiling, aksi bersih fasilitas umum, benah masjid, dan benah madrasah. (kis/pkpu/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sukismo

Lihat Juga

HAI UEA – PKPU Berikan Layanan Kesehatan Gratis di Kampung Sindang Asih Bogor