Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Aku Sakit  

Ketika Aku Sakit  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tanggal 19 April 2014, tepat satu pekan, aku sakit. Bermula saat akan tidur malam Jum’at pekan lalu. Ada cairan bening tak berbau yang keluar di saat usia kehamilanku memasuki dua puluh tujuh pekan. Berkali-kali keluar. Dsog yang kutelpon menyuruhku istirahat, dan usg keesokan harinya. Ternyata kompisisi air ketubanku mulai berkurang. Dsog langsung memberikanku surat rujukan untuk dirawat di RS agar air ketuban berhenti merembes dan mengisi kembali.

Hari pertama dirawat, merembes sedikit. Hari kedua tak hanya merembes, tapi malah keluar darah segar dan lendir merah kecoklatan. Hari ketiga dan sampai sekarang, rembesan dan lendir masih keluar juga, tak kunjung berhenti. Infus, suntikan di infus, di pantat, obat pervaginam dan oral semua sudah Dsog berikan. Bedrest total pun sudah dijalani. Namun semua belum mengubah keadaan. Tetap saja merembes dan merembes lagi, keluar lendir lagi dan lagi.

Aku sudah dirawat di dua tempat. Pertama, di klinik seorang Dsog selama 5 hari, kemudian dirujuk ke RS dan dirawat selama tiga hari ini.

Alhamdulillah, kondisi diri dan bayiku baik-baik saja. Tekanan darah dan suhu tubuhku tetap normal. Detak jantung bayi juga normal. Masih mudah aku menggerakkan jemari untuk menulis. Dan setelah delapan hari dirawat, Dsog membolehkanku untuk istirahat di rumah. Meski cairan masih merembes. Aku hanya bisa pasrah, mengalir bersama alunan takdir, laa haula wa laa quwwata illa billah. Manusia tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa datang.

Keluar dari RS, begitu naik mobil jemputan kawan, cairan merembes lagi. Lebih sering frekuensinya dibanding di rumah, meski dalam keadaan berbaring. Belum 12 jam di rumah, pagi itu, 20 April bersama rembesan cairan ketuban, mulai muncul kontraksi yang lebih sering. Masya Allah, usia kehamilan baru mau 29 pekan, tapi aku merasa sudah mulai muncul tanda-tanda mau melahirkan.

Segera saja dibantu para tetangga, aku dibawa ke RS lagi. Sesampai di RS, ternyata telah terjadi pembukaan empat. Ya Allah, Tawakaltu ‘Allallah. Tak sampai sejam, aku melahirkan bayi perempuan prematur seberat 1,2 kg  yang langsung masuk ke inkubator. Subhanallah Walhamdulillah Walaa Illaha Illallahu Allahu Akbar.

Bila boleh memilih, aku ingin bayiku masih tinggal lebih lama lagi dalam rahimku hingga cukup bulan.  Hingga paru-paru, jantung dan fisiknya kuat untuk beradaptasi dengan dunia luar.  Namun, apa dayaku sebagai manusia biasa? Seorang ibu yang tak punya daya apa-apa. Apa yang terjadi denganku dan bayiku semua telah Allah tentukan jauh hari sebelum penciptaan kami. Telah tertulis dalam lauhul mahfudz, sebagai ketetapan Allah yang harus dilakoni. Manusia hanya bisa berusaha, dan hakikatnya sedang menjalani alunan takdir. Allah swt. berfirman,  “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)

Di balik semua ujian ini, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Banyak hikmah yang bisa diraih. Banyak ibroh yang bisa diambil.

Pertama, sesungguhnya manusia itu makhluk yang teramat lemah. Dalam sekejap, kondisi baik bisa berubah menjadi buruk. Dari sehat menjadi bermasalah. Benar-benar manusia tak punya daya dan kekuatan, kecuali daya dan kekuatan dari Allah swt. Betul, hidup adalah ujian. Tak ada satupun manusia yang luput dari ujian. Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).

Ujian hakikatnya adalah seleksi Allah untuk memilih. Mana hamba yang benar beriman dan mana yang hanya sekedar dalam ucapan? Bukankah Allah pun telah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al ‘Ankabuut [29]: 2)

Rasulullah saw  bersabda,  “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah swt dalam keadan telah bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi)

Kedua, ujian baik berupa kebaikan atau musibah dapat dialami siapapun, dan sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap seorang hamba. Sabda Rasulullah saw,  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah swt berikan, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang mengikutinya. Seperti sabda  Rasulullah saw, “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).).

Keempat, ujian sangat membutuhkan keikhlasan dan kesabaran agar ketenangan dan kebahagiaan tetap menyertai. Sabar atau tidak sabar, ikhlas ataupun tidak ikhlas, ujian tetap akan terjadi. Tidak satupun manusia yang mampu menolaknya.  Dalam hadits shahih telah disebutkan, “Ketahuilah bahwa apa pun yang menimpa dirimu bukanlah karena hal itu nyasar menimpa dirimu dan apapun yang luput darimu karena memang hal itu bukan diarahkan kepadamu.” Bersabar adalah pilihan terbaik, karena sesungguhnya kesabaran adalah anugerah paling baik. Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim). Allah swt  berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala  mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10).

Kelima, setiap hamba harus yakin dan percaya dengan jaminan Allah swt, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. al-Baqarah [2] : 286).  Allah swt yang menciptakan diri kita, sangat dan paling tahu kemampuan kita, jadi mustahil Allah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan kita.

Keenam, senantiasalah berprasangka baik terhadap Allah. Manusia wajib bertawakal, Allah swt yang akan menentukan dan memberikan yang terbaik. Kita harus ridha dan jangan pernah meragukan dan protes dengan keputusan-keputusan takdir-Nya.   Perhatikan firman-Nya dalam hadits Qudsi, ”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir melalui jalur Abu Hind al-Dari).

Ketujuh, sesungguhnya doa adalah sumber kekuatan dan senjata umat mukmin. Karena doa pasti akan Allah kabulkan. Jangan pernah bosan untuk berdoa terus menerus. Mohon ampunan dan keberkahan dari Allah. Mohon cinta dan kasihsayang-Nya, dan mohonlah apa saja.

Kedelapan, introspeksi diri adalah langkah bijak untuk menyadari kesalahan diri dan kemaksiatan juga dosa yang pernah dilakukan. Sesungguhnya dengan adanya ujian, Allah ingin kita berubah menjadi lebih baik, menjadi hamba yang lebih menaati-Nya.

Hari ini, 22 April, Insya Allah aku boleh pulang dari RS, dan bayiku sementara tetap tinggal di inkubator, meski diri begitu ingin selalu mendampingi. Ibu mana yang tega melihat buah hatinya yang amat membutuhkan perlindungan diinfus, dioksigen dan jauh-jauh darinya. Doa dan doa saja yang selalu bisa aku panjatkan. Semoga Allah menyelamatkan anakku seperti Allah menyelamatkan bayi Ismail dengan ibunda Siti Hajar, bayi Musa, dan bayi Isa dengan ibunda Maryam, melindungi dan menjaga bayiku, memberiku kesempatan untuk menyusui, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membimbing bayiku menjadi wanita shalihah yang menaati Allah dan Rasul-Nya. Aamiiin.

Ya Allah, sesungguhnya sebagai hamba, dosa-dosa dan kemaksiatanku telah melangit luas. Betapa malunya aku pada-Mu. Sudah tahu dosa dan salah, namun tetap saja aku memilih melangkah menapaki jalan kemaksiatan. Ampunilah hamba Ya Robb…

Terimakasih yang tak terhingga untuk para sahabat, tetangga, teman yang telah membantu dan mendampingi kami. Jazakumullahu Khairan katsiran. Semoga Allah membalas dengan syurga-Nya. Aamiin

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Masalah Sosial.

Lihat Juga

Ilustrasi. (dyahsujiati.wordpress.com)

Al-Aqabah