Home / Narasi Islam / Life Skill / Antara Impian dan Mimpi

Antara Impian dan Mimpi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (wallpaperwide.com)
Ilustrasi. (wallpaperwide.com)

dakwatuna.com – Saya tersenyum lucu ketika mendengar seseorang berkata, “Sukses itu berawal dari mimpi dan mimpi berawal dari tidur. Jadi, mari kita tidur agar kita bisa sukses.”

Bagaimana tanggapan Anda? Apakah Anda juga berpikir yang sama atau justru sebaliknya? Jika Anda berpikir bahwa statement di atas kurang tepat, berarti kita sepaham. Dan bagi Anda yang membenarkannya mari kita ulas bersama.

Dalam KBBI edisi ketiga, Depdiknas, terbitan Balai Pustaka, Jakarta 2007 disebutkan bahwa: Mimpi= n 1. Sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur. 2. ki  Angan-angan. Impian= n (barang) yang diimpikan: yang sangat diinginkan

Mimpi merupakan sebuah rangkaian dari tidur, kondisi dimana tubuh kita sedang beristirahat. Kemudian muncul gambaran seolah-olah kita benar-benar merasakannya nyata. Mimpi sendiri memiliki beberapa macam:

–          Ada mimpi yang benar, datangnya dari Allah swt dan biasanya memiliki tafsir dan berupa hal baik atau kabar gembira.

–          Ada juga mimpi yang berasal dari setan, berupa hal-hal buruk, seram, sedih, galau, bercampur menjadi satu. Kita dilarang untuk menceritakannya kepada orang lain.

–          Yang terakhir adalah mimpi yang tidak ada tafsirannya, dan inilah mimpi yang berasal dari proses alami untuk mengistirahatkan tubuh kita. Seperti ketika kita tidur di siang hari, dan beberapa mimpi di malam hari ketika sedang lelah.

Rasulullah saw. mengajarkan kita bagaimana adab-adab tentang tidur atau menjelang tidur. Misalnya, sebelum tidur disunahkan untuk berwudhu dan shalat witir 3 rakaat. Ketika di pembaringan kita disunahkan juga untuk membersihkan dahulu tempat tidur kita, membaca zikir sebelum tidur, memosisikan sikap tidur kita ke arah ke kanan (miring) dan menghadap ka’bah. Begitulah kurang lebih prosesi sebelum kita tidur, menjemput mimpi indah kita.

Pepatah arab mengatakan: طاب نومكم طاب يومكم . Maksudnya, jika kita tidur dengan baik maka hari kita akan baik pula, insya Allah.

Kualitas tidur sendiri tidak ditentukan oleh kuantitas tidur kita, tidak harus 8 jam sehari —seperti yang dikatakan banyak orang. Ini sebenarnya jam tidur bagi anak-anak dan remaja untuk membantu pertumbuhan mereka. Bagi orang dewasa 4 jam sehari sudah cukup. Bahkan bagi orang tua, 2 jam sehari sebenarnya juga cukup. Karena itu kita bisa menemukan orang yang memegang jabatan tertentu atau para aktivis yang memiliki jam tidur sangat terbatas tapi tetap bugar di siang hari.

Ketika menonton kisah biografi BJ. Habibie, ternyata beliau tidur maksimal hanya 1-2 jam sehari selama 2 bulan hanya untuk memikirkan nasib bangsa ini. Sungguh seorang Presiden yang patut ditiru, yang mengutamakan kepentingan rakyat melebihi dirinya sendiri. Sahabat Umar bin Khaththab bahkan ketika ditanya perihal waktu istirahatnya, beliau menjawab bahwa waktu siang itu untuk bekerja melayani para hamba Allah (saat beliau menjadi khalifah) dan malam hari waktunya untuk berkhalwat kepada Allah. Artinya beliau hanya menyisakan sedikit sekali waktu untuk tidur.

Inilah gambaran tentang mimpi yang berawal dari tidur. Apakah bisa sukses? Tentu saja, karena untuk sukses dibutuhkan kerja keras, cerdas dan ikhlas. Agar bisa maksimal dalam bekerja dibutuhkan kondisi tubuh yang fit dan bugar, salah satunya didapatkan dari tidur yang berkualitas.

Apa bedanya dengan Impian?

Definisi impian secara sederhana adalah sebuah hasrat yang benar-benar kita inginkan, dan apapun kondisinya harus terwujud. Maksud dari hasrat adalah seperti ketika kita berhasrat ingin ke kamar kecil, apa jadinya jika kita  tetap menahan dan tidak mewujudkannya? Seperti itu itu pulalah hasrat yang harus kita miliki ketika memiliki sebuah keinginan.

Thomas Alfa Edisson mengatakan, jika kita telah memiliki sebuah impian maka artinya 90% kita telah berhasil. Sisanya 10% adalah masalah teknis. Waw? Benarkah hal itu? Coba renungkan menurut Anda, kira-kira hal apa yang mampu untuk mendorong Edisson untuk tetap tabah menghadapi 10.000 kali kegagalan?

Sebenarnya dalam proses menemukan lampu pijar itu Edisson tidak sendirian, dia ditemani oleh gurunya, Joseph W. Swan. Tapi yang kita kenal saat ini hanya Thomas Alfa Edisson. Karena dialah yang akhirnya berhasil melewati ribuan kegagalan itu. Bayangkan jika pada saat percobaan ke 9.999 dia berhenti, mungkin saat ini kita masih menggunakan lilin. Ketika membeli mobil tidak ada lampunya, tapi menggunakan lilin, jika tertiup angin langsung padam. Makanya jangan pernah menyerah sebelum berhasil.

Ada pula yang mendefinisikan impian sebagai vii. Sesuatu yang belum ada tapi kita bisa melihat itu nyata dan harus terwujud. Diibaratkan seperti seorang arsitektur yang ingin membangun sebuah apartemen. Dia sudah bisa membayangkan dan melihat itu nyata dalam pikirannya. Kemudian dituangkan ke dalam blue print dan memajang gambarnya di depan tanah yang akan dibangunnya.

Lantas, apa pentingnya sebuah impian?

Bagi sebagian orang, mereka tidak begitu peduli dengan impian. Yang penting bisa hidup, hidup ini seperti air. Biarkan ia mengalir begitu saja dan jangan melawan arus. Sayangnya, air yang mengalir itu selalu mencari tempat terendah. Dan ujung-ujungnya ke laut.

Bayangkan pula jika ada sebuah perahu layar yang tersesat di tengah samudera. Perahu ini hanya bergerak berdasarkan arah angin. Jika angin ke utara perahu ini ke utara, dan jika ke barat ikut ke barat pula. Dan jika tidak ada angin maka tidak bisa bergerak. Lantas kapan perahu ini bisa sampai ke daratan?

Impian itu merupakan tujuan. Jika kita naik taksi pasti sopirnya bertanya, “Mau kemana?” kalau kita jawab, “Saya juga tidak tahu, terserah sopir saja mau kemana.” Si sopir taksi pasti bilang, “Kayaknya lebih baik diantar ke RSJ aja ni orang.” Begitulah kira-kira gambarannya jika kita hidup di dunia ini tanpa mempunyai impian.

Impian juga bertindak sebagai bos atau atasan kita. Ketika kita bekerja akan ada pengaruhnya jika sedang ada bos yang mengawasi, kita lebih rajin. Berbeda halnya kalau kita sedang sendiri, biasanya sedikit lebih santai. Nah, di sinilah peranan impian kita. Saat kita menginginkan sesuatu maka impian itulah yang memaksa kita untuk rela menguras tenaga, waktu dan pikiran hanya untuk mewujudkannya.

Apakah Anda lebih suka yang gratis atau yang harus bayar? Bermimpi itu gratis. Jadi jangan pernah tanggung-tanggung untuk bermimpi. Karena kemampuan manusia hanya sebatas di pikirannya saja. Kalau di pikirannya dia mengatakan dia punya uang seratus ribu maka dia bisa menghasilkan seratus ribu. Tapi jika di pikirannya bilang seratus juta maka dia akan bekerja lebih keras untuk menghasilkan seratus juta.

Oke, sekarang saya sudah punya Impian. Tapi lingkungan saya suka berkata itu mustahil dan ketinggian.

Bagaimana Caranya Menjaga Impian?

Pikiran itu seperti rumah bagi kita. Apakah Anda mau ketika Anda sedang menyapu kemudian ada yang melempar sampah. Omongan lingkungan sekitar kita juga seperti itu. Mereka melemparkan sampah ke pikiran dengan mengatakan hal-hal negatif bahkan berusaha menguburkannya. Jadi kita harus menjaga agar pikiran kita tetap bersih dengan tidak terlalu mempedulikannya dan tetap fokus untuk memperjuangkannya.

Selain itu kita bisa berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama punya impian. Karena ketika bersama, kita merasa tidak sendirian. Masih ada orang lain juga yang sama-sama berjuang. Kita pun akan saling menyemangati dan memberi dukungan.

Hal yang terpenting dari itu semua adalah memvisualisasikan impian kita. Bisa dengan menuliskan impian-impian kita dan menempelkannya di dinding kamar atau di pintu kamar. Jadi ketika kita keluar masuk kamar maka kita selalu melihat dan selalu mengingat impian kita.

Bisa juga mencari gambar-gambar yang mewakilinya, misalnya ingin ke Paris. Maka kita cari gambar menara Eiffel kemudian ditempelkan bersama tulisan-tulisan itu. Kita sebut ini dengan “Dream Board.” Hal ini sangat membantu kita karena lebih jelas dengan gambarnya sehingga terasa lebih nyata.

Cara lain, kita bisa mengumpulkannya dalam sebuah album foto. Dan inilah yang disebut “Dream Book”. Buku yang berisi impian-impian kita. Konsepnya sama dengan Dream Board hanya saja berada dalam buku. Jadi kemanapun kita pergi, kita bisa membawanya. Ketika kita sedang sedih, galau, patah semangat, maka bukalah Dream Book tersebut dan lihat kembali bahwa kita masih punya impian yang harus diperjuangkan. Dari sinilah semangat kita bisa kembali. Dan hal terpenting dari semua visualisasi tersebut, tuliskan target kapan ingin tercapainya impian tersebut.

Menanggapi statement pada awal artikel ini, apakah impian bisa mempengaruhi kesuksesan kita?

Impian itu sebuah pikiran, right? Apakah kita bertindak dulu ataukah berpikir dulu sebelum bertindak? Tentu saja pikiranlah yang mengawali semua hal, kita rencanakan dahulu. Dari pikiran ini akan muncul ucapan (perkataan), kemudian akan menjadi tindakan. Hal yang kita lakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan. Jika kebisaan ini berlangsung lama maka akan menjadi karakter. Karakter inilah yang menentukan kesuksesan atau masa depan kita. Jadi kalau kita tarik ulang alur kesuksesan, ini semua berasal dari impian.

Apakah Anda siap untuk memiliki impian?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sulis Tiyono
Aktif sebagai Mahasiswa tingkat akhir di Mahad Aly An Nuaimy serta aktif menjadi Smart Trainer of Youth Care Indonesia dan Cerdas Mulia Training and learning Center dan menyempatkan waktu untuk menulis di sela-sela kegiatan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Ainun Indra)

Sistem Cardiovaskuler Kunci Sukses Sebuah Pergerakan

Organization