Home / Berita / Opini / Makna Perjuangan RA Kartini, Apakah Itu?  

Makna Perjuangan RA Kartini, Apakah Itu?  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Repro negatif potret RA. Kartini (wikipedia)
Repro negatif potret RA. Kartini (wikipedia)

dakwatuna.com – Perjuangan kaum wanita, keinginan kesetaraan hak, dan bebas dari tekanan. Itulah hal-hal yang akan terlintas dalam benak kebanyakan kita ketika mendengar nama RA Kartini digaungkan. Akhirnya, dengan nama Kartini wanita-wanita berusaha mempertahankan kesamaan peran dalam berbagai kesempatan. Di sisi lain, nama RA Kartini seolah dijadikan alibi untuk memperjuangkan kebebasan, terutama bagi kaum wanita.

Memang benar, Kartini dulunya dikenal dengan perjuangannya agar kaum wanita bisa mendapatkan perlakuan yang bijak, merasakan manisnya duduk di bangku pendidikan, dan terlepas dari belenggu dapur, kasur, dan sumur. Perjuangan mendapatkan hak seperti itu tidak pernah bisa disalahkan. Agama kita pun sebenarnya tidak pernah menetapkan batasan-batasan sempit pada wanita. Selalu ada ruang bagi wanita untuk mengaplikasikan potensi yang mereka miliki. Begitulah Islam menghargai wanita.

Maka, perjuangan RA Kartini, yang lebih dikenal dengan slogan Habis gelap, terbitlah terang itu sungguh mulia.

Di beberapa wacana, kita bisa melihat beberapa pandangan RA Kartini tentang hak-hak wanita. Sebenarnya yang beliau perjuangkan sesuai dengan porsinya sebagai wanita. Tidak terlihat bahwa beliau ingin diperlakukan lebih dari batasannya. RA Kartini adalah seorang wanita religius. Jadi, sungguh di luar konteks kalau ada wanita yang ingin berbuat melebihi kodratnya dengan alasan; inilah yang diperjuangkan oleh RA Kartini.

Dalam ulasan-ulasan sejarah mengenai RA Kartini, kita bisa temukan satu peristiwa ketika beliau mengkritik para ulama tentang diharuskannya para murid untuk melafalkan dan menghafalkan al-Qur’an, tetapi tidak diwajibkan untuk memahami makna-maknanya. Akhirnya, seperti kata beliau, “Betapa banyaknya dosa diperbuat atas nama agama?”

Menurut saya, perlu sekali kita mengulas kembali sejarah perjuangan bangsa untuk menemukan kembali spirit perjuangan itu. Kita bandingkan dengan kehidupan di zaman sekarang yang kerap dibumbui dengan penyelewengan-penyelewengan agama. Lihatlah betapa banyaknya wanita yang rela menggadaikan kehormatannya demi meraup sebanyak mungkin penggemar dan pundi-pundi kekayaan. Padahal, pahlawan yang memperjuangkan hak wanita ini tentu tak pernah berharap seperti itu.

Sadarilah betul-betul, wahai saudara-saudaraku, An-Nisaa’ ‘imadul bilaad, in shaluhat fa shaluha saairul bilad. Wa in fasadat, fafasada saairul bilaad. Bahwa para wanita adalah tiangnya suatu bangsa. Apabila mereka baik, maka baiklah keseluruhan bangsa itu. Bila mereka rusak, maka rusaklah kesemua bangsa itu.

Miris kalau menyaksikan betapa mudahnya para wanita diekploitasi demi kepentingan yang tidak layak dikatakan penting. Kenapa mereka harus tunduk pada kebodohan dengan alasan kebebasan berkarir? Tidakkah seharusnya mereka mempelajari bagaimana agama mereka menuntun mereka dalam berkarir? Apalah artinya kebebasan kalau hanya membawa pada buli-buli siksa kelak ketika hidup di dunia telah habis masanya?

Islam tidak pernah melarang wanita untuk berkarir, tetapi Islam memberikan tuntunan bagaimana agar kerja-kerja para wanita hanya terfokus untuk kebaikan mereka dan kebaikan bangsa mereka. Islam tidak pernah melarang wanita berekspresi dalam penampilan, tapi Islam menuntun mereka agar bersolek di tempat yang tepat. Apa gunanya semua itu? Kebaikan wanitalah yang dimenangkan. Semua aturan itu tertuju hanya untuk mempertahankan wanita dalam kemuliaan, bukan sebaliknya.

Saya bisa menyimpulkan, RA Kartini sebenarnya bermaksud untuk menunjukkan bahwa kaum wanita mampu berkontribusi dalam perjuangan bangsa ini. Apalagi kalau mereka tetap mempertahankan aturan syara’ yang meletakkan mereka pada ufuk penghargaan mulia. Lalu, bagaimana kalau seandainya beliau menyaksikan wanita-wanita ‘keterlaluan’ yang menggadaikan nama perjuangannya (RA Kartini) demi meraih kesenangan? Pastilah beliau merasa sedih, karena beliau tak pernah bermaksud begitu. Beliau pun, pastinya, tak ingin namanya dipakai untuk berbuat seperti itu.

Wallahu A’lam Bish Shawwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Mengupas Kembali Perjuangan Kartini, Meluruskan Kembali Hakikat Perjuangan Gerakan Perempuan