Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku dan Desaku  

Aku dan Desaku  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Banyak cara untuk berbakti, dari yang sederhana sampai yang istimewa, dari yang kecil sampai yang besar. Kelas XII SMA merupakan momentum tepat untuk dapat berbakti, khususnya berbakti kepada kedua orang tua. Untuk memberikan kado terindah berupa prestasi yang membanggakan setelah 3 tahun banyak berkorban dana dan usaha dari keduanya.

Setiap hari, pagi pukul 06.30 WIB sudah memulai pelajaran di kelas. Jam khusus bagi siswa kelas XII di SMA untuk mempersiapkan ujian akhir nasional (UAN). Tidak cukup dengan itu, sore sepulang sekolah pun masih ada les tambahan sampai sekitar pukul 17.30 untuk mempersiapkan tes SNMPTN. Rasa capek seakan hilang karena keinginan yang begitu kuat untuk dapat berbakti kepada kedua orang tua.

Setelah SMA, aku bertekad untuk masuk pesantren. Kemudian melanjutkan belajar agama ke negeri dimana Sang Suri Teladan lahir dan besar disana, Arab Saudi. Hal ini kupilih  karena aku melihat keadaan desaku yang masih sangat jauh dengan nilai-nilai agama. Alhamdulillah, Ibu mendukung karena itulah impian yang sudah kuutarakan kepada Ibu sejak SMP. Bapak, alhamdulillah sudah mendukung sejak awal. Bahkan sudah mengarahkanku untuk masuk salah satu pondok pesantren di Sukabumi yang cukup favorit dan memiliki akses yang mudah jika mau melanjutkan kuliah lagi ke timur tengah.

Namun pada akhirnya, bapak tidak mengizinkanku untuk melanjutkan ke pesantren karena berbagai pertimbangan. Salah satunya ucapan beliau yang masih terngiang-ngiang di telingaku sampai sekarang, “Nak, kalau kamu mau merubah desa ini cuma pakai wawasan agama, susah. Kamu harus punya wawasan yang lebih. Agama dan ilmu umum juga agar bisa lebih bermanfaat dan didengar orang.”

Warga di desaku hampir semuanya bekerja sebagai petani padi. Penghasilan mereka pas-pasan. Terkadang kurang jika terjadi serangan hama ataupun gagal panen. Kesadaran akan pendidikan masih sangat rendah. Setelah lulus SMP, kebanyakan orang tua memerintahkan anaknya untuk langsung kerja, sedapatnya. Ada yang bekerja sebagai penjemur gabah, bangunan, karyawan pabrik, dan jualan. Dengan mempertimbangkan keadaan yang ada, akhirnya kuputuskan untuk kuliah di Kampus Pertanian, IPB, sambil belajar agama di sela-sela waktu yang ada. Aku berharap, setelah lulus nanti, aku bisa menguasai ilmu-ilmu pertanian dan ilmu-ilmu agama pun tak ketinggalan.

Hari H Ujian Akhir Nasional pun tiba, semua terlalui dengan sempurna, berharap tak ada kesalahan teknis yang membuat kecewa pada akhirnya. Hal yang paling mendebarkan adalah ketika pengumuman dari beberapa ujian yang aku ikuti. Pertama, pengumuman SNMPTN undangan. Ketika teman-teman sudah mulai update status facebook yang kebanyakan menuliskan bahwa tidak diterima dan sebagian mengucapkan selamat kepada beberapa teman yang diterima, aku masih terdiam dengan kesibukan di rumah.

Baru keesokan harinya kuluangkan waktu untuk membuka pengumuman sakral ini. Dan, terjawab sudah semuanya, akhirnya dengan kehendak Sang Pencipta aku di terima di Jurusan Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor. Sebuah hal yang sangat menggembirahakan. Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku ikut juga merasakan kesenangannya. Ternyata, di jurusan IPA SMA-ku hanya 9 orang yang diterima via SNMPTN undangan, aku salah satunya.

Tahun  pertama masuk, alhamdulillah bisa menyesuaikan, IP aman. Aku mencoba menambah keterampilan dan wawasan dengan ikut tutor sebaya di Asrama TPB (Tingkat Persiapan Bersama) yang bertugas untuk memberikan materi/belajar bareng dengan teman-teman asrama yang akademiknya agak bermasalah. Kemudian masuk di tingkat kedua, aku turut aktif di FKRD (nama lembaga dakwah fakultas pertanian IPB), dan diamanahi sebagai ketua umum pada tahun 2013.

Sempat juga mengadakan rangkaian kegiatan Munas IV IMMPERTI (Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia), sebuah forum komunikasi yang dibentuk tahun 2008 di UNS untuk berkarya bersama semua LDF/LDK untuk pertanian di Indonesia yang lebih Islami. Alhamdulillah acara tersebut sukses, kita mampu memecahkan rekor untuk menghadirkan peserta terbanyak (170 mahasiswa) di Munas IV IMMPERTI yang belum pernah tercatat dalam pertemuan-pertemuan sebelum ini.

Senang rasanya bisa berkenalan dan menjalin komunikasi juga dengan teman-teman LDF/LDK Pertanian se Indonesia untuk membahas pertanian dalam sudut pandang Islam.

Mudah-mudahan suatu saat Aku dan Desaku akan bertemu lagi. Membuat karya, menorehkan cerita sejarah untuk pertanian Islam Indonesia untuk baktiku kepada orang tuaku.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Burhan Efendi
mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 48 Institut Pertanian Bogor. Berasal dari Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus