Home / Narasi Islam / Wanita / Muslimah Tidak Butuh Emansipasi Wanita

Muslimah Tidak Butuh Emansipasi Wanita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com / NDA)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com / NDA)

dakwatuna.com Indonesia khususnya akrab sekali dengan istilah ini. Emansipasi wanita. Tersebut satu nama seorang tokoh paling berjasa dalam hal ini, Pahlawan Wanita Indonesia Ibu Raden Ajeng Kartini. Kiprahnya semasa hidup yang konsisten membela hak hak kaumnya dan mewariskan banyak tulisan, salah satunya tulisan fenomenal yang berjudul “Habis gelap terbitlah terang” konon menginspirasi banyak wanita Indonesia untuk “membela” hak haknya dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat modern kini dapat melihat salah satu contoh dari pengaruh emansipasi wanita adalah banyaknya wanita wanita Indonesia berkiprah dalam dunia pekerjaan yang sama dengan kaum pria. Hampir tidak ada lagi diskriminasi dari aspek tersebut. Kini eksistensi wanita tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dalam kehidupan sosial masyarakat. Semua hal yang didapat kaum pria mulai dari penerimaan di keluarga dan masyarakat, pendidikan, pekerjaan, kaum wanitapun mendapatkan hal yang sama. Tidak ada perbedaan sama sekali.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria.

Jadi sempat terbersit dalam hati. Jika pengertian emansipasi adalah seperti yang disebutkan di atas maka terbayang diskriminasi dan perbudakan seperti apa yang dialami oleh Ibu Kartini dan wanita wanita pada zamannya. Sehingga sahabat surat menyurat Ibu Kartini, seorang wanita Eropa terinspirasi untuk membukukan semua tulisan surat Ibu Kartini kepadanya yang terekam dalam buku fenomenal itu. Masa hidupnya Ibu Kartini kurang lebih berjarak empat ratusan tahun sesudah masa hidupnya Rasulullah. Masa awal syariat Islam disebarkan. Artinya perbudakan terhadap wanita sudah dibela semenjak empat ratus tahun yang lalu. Sebagaimana orang jahiliyah terdahulu betapa mereka merasa terhina jika mendapat anak wanita, dan mereka membunuh setiap anak wanita mereka yang terlahir di dunia (An-Nahl: 58 – 59). Segala perlakuan jahil terhadap wanita telah dilawan. Dan segala hukum mengenai syariat memperlakukan wanita telah ditetapkan. Wanita sangat dimuliakan oleh Islam.

Kalau begitu sesungguhnya wanita muslimah tidak membutuhkan emansipasi wanita. Karena muslimah sudah merdeka dan dimuliakan sejak syariat disebarkan oleh Rasulullah SAW. Jauh dari perlakuan seperti yang diisyaratkan dalam pengertian emansipasi wanita. Keadilan dan persamaan hak sejatinya yang diminta dan dibela oleh kaum feminisme pengusung emansipasi wanita telah ditetapkan dan tak satupun syariat Allah merugikan manusia. Andai mereka para kaum pengusung emansipasi memakai kacamata persepsi yang sama. Bahwa adil itu bukanlah membagi sesuatu menjadi serba sama. Merujuk pada Al Quran surat An Nisa ayat 34 bahwa “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”. Jelas ada sisi kelemahan wanita yang bisa ditutupi oleh kaum pria khususnya secara fisik. Dan wanita sangat butuh kaum pria sebagai pelindung dan pendidik bagi dirinya.

Sehingga jika boleh disimpulkan bahwa jika ada wanita di sebuah negara kuat menggaungkan penegakan emansipasi wanita maka dipastikan syariat Islam belum sepenuhnya diterapkan di negara tersebut. Atau pemikiran mengenai emansipasi itulah yang telah kebablasan. Atau bahkan pribadi maupun organisasi yang mengusung paham emansipasi telah dimakar oleh pihak pihak tertentu.

Betapa tidak… di zaman sekarang banyak anak yang sedari awal telah menyandang titel yatim piatu sebelum Ayah dan Ibunya benar benar tiada. Madrasah pertama bagi anak anak telah beralih fungsi menjadi mesin pencetak uang maupun budak eksistensi. Wanita zaman sekarang lebih bangga menyandang titel wanita karier dibanding menyandang titel Ibu Rumah Tangga. Walau memang menjadi wanita karier di era sekarang terlalu menggiurkan karena dorongan kebutuhan ekonomi. Tentu sangat luar biasa ketika ada seorang Ibu Rumah Tangga yang merangkap juga menjadi wanita karier. Sungguh tantangan yang luar biasa. Karena memutuskan hanya menjadi Ibu Rumah Tangga pun tanpa “melakukan” apa apa untuk mendidik dan menjaga anak serta keluarganya sebuah hal yang kurang tepat.

Saat ini media ramai memberitakan mengenai kenakalan remaja, tingkat perceraian yang tinggi dan banyak terjadi KDRT seolah semua melempar kesalahan. Padahal yang diberi amanah pertama dalam pendidikan generasi adalah keluarga. Maka jelas sudah sesungguhnya muslimah tidak butuh emansipasi wanita jika negara telah menegakkan syariat Islam, jika setiap pribadi kaum Adam mengetahui, menjunjung tinggi martabat dan memperlakukan kaum hawa sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Dan bagi wanita cukuplah janji Allah yang dipegang bahwa

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)

Kedudukan kaum pria dan wanita sama di mata Allah kecuali iman dan takwanya.

Allahua’lam bishawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 5,42 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Hobi menulis dan diskusi. Pribadi yang bertekad mengunjungi berbagai tempat, bertemu banyak orang dan menuliskan semua pengalaman tersebut sebagai hikmah kehidupan dan bermanfaat untuk banyak orang beriman.
  • Ihzan Babazha

    SETUJU, ANDA TELAH MEMBUKA PIKIRAN PADA PENGUSUNG GENDER SEMOGA MEREKA MEMBACA DAN MEMAHAMINYA,. ISLAM TELAH MENGAJARKAN MANUSIA SECARA BENAR DAN SESUAI KODRAT MANUSIA.

Lihat Juga

Wanita, Kepemimpinan, dan Peran Politik dalam Islam