Home / Narasi Islam / Wanita / Berjilbab Bukanlah Suatu Pilihan Bagi Muslimah  

Berjilbab Bukanlah Suatu Pilihan Bagi Muslimah  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (akings.deviantart.com)
Ilustrasi. (akings.deviantart.com)

dakwatuna.com – 27 Mei 2006 merupakan sepenggal episode kehidupan yang penuh makna dalam kehidupan saya. Tak hanya di dunia namun juga di akhirat. Pada tanggal tersebut, terjadi gempa Yogyakarta dan sekitarnya berkekuatan 5,9 SR dengan pusat gempa di Bantul. Pusat gempa tersebut berada di desa tempat tinggal saya. Sehingga kerusakan yang ditimbulkan sangatlah parah. Hampir seluruh rumah menjadi rata dengan tanah. Setiap desa rata-rata terdapat puluhan warga yang meninggal dan ratusan yang luka-luka. Bahkan dapat dihitung dengan jari berapa rumah yang masih berdiri kokoh dan juga yag sudah retak-retak dindingnya.

Ketika gempa berlangsung, saya sedang berada di dalam rumah. Semakin lama saya merasakan semakin keras bumi bergoncang. Saya berusaha untuk keluar. Namun langkah saya terhambat karena lantai yang saya pijak bergoncang dahsyat. Begitu keluar, saya bergegas menuju ke sebelah kanan untuk menuju pintu keluar. Namun saya merasakan ada orang yang menarik saya untuk berjalan ke arah kiri tanpa tahu siapa orang tersebut. Begitu sampai di sebelah kiri, rumah bagian kanan tadi ambruk. Sedangkan bangunan rumah yang berada dibawahnya tetap berdiri. Hanya retak-retak saja dindingnya, saya terselamatkan!

Hanya satu yang ada di pikiran saya dan semua warga Yogyakarta ketika itu, “Inikah Kiamat yang Engkau janjikan, ya Allah?”  Lalu saya terpikir, siapakah yang menyelamatkan saya tadi? Mungkinkah ia malaikat yang diperintahkan Allah swt untuk menyelamatkan saya atas izin-Nya? Saya bersyukur, Allah swt masih memberi kesempatan kepada saya untuk tetap hidup dan memperbaiki diri dengan meningkatkan keimanan. Dari sinilah, kisah tentang jilbab dimulai.

Saat musibah gempa terjadi, saya masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Saat itu saya masih belum memutuskan untuk berjilbab secara istiqomah. Hanya memakai ketika bepergian jauh dan ketika berangkat sekolah. Hanya sekadar menaati peraturan yang ada (wajib mengenakan jilbab bagi siswi muslim selama kegiatan sekolah merupakan peraturan di semua sekolah formal di Yogyakarta). Selebihnya, saya belum mau mengenakannya.

Keinginan untuk berjilbab sudah muncul sejak lama. Namun selalu saya tunda-tunda untuk memulainya. Nah, peristiwa gempa 27 Mei ini semakin menyadarkan bahwa keputusan untuk berjilbab tidak bisa ditunda-tunda dan memakai jilbab adalah salah satu cara untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah swt berikan. Karena kita tidak tahu kapan dipanggil Allah swt tanpa sempat menunaikan perintah-Nya untuk menutup aurat,

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri orang-isteri orang mu’min, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karenanya mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Ahzab: 59)

Jilbab! Pakaian takwa yang merupakan wujud identitas seorang muslimah.

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karenanya mereka tidak diganggu.

Kalau identitasnya sudah jelas, hanya orang bodoh atau nekat yang berani mengganggu. Banyak ukhti muslimah yang beralasan belum merasa terpanggil untuk berjilbab, merasa akan merusak citra jilbab jika karena akhlaknya belum baik. Ada juga yang merasa belum mendapat ‘hidayah’. Padahal, hanya butuh satu modal dasar. Yaitu semangat untuk memuliakan agama Allah. Menurut Allah, hidayah itu datang dengan upaya keras untuk mencarinya.

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Kami. Sungguh akan Kami tunjukan pada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah membersamai orang-orang yang berbuat baik. (al-Ankabut: 69)

Jadi, proses menjadi muslimah shalihah bukan dengan menunggu akhlak menjadi baik baru kemudian berjilbab. Kalau sudah bisa dan mampu berjilbab, lakukanlah. Maka Allah akan memberikan jalan dan menolong untuk memperbaiki akhlak, memperindah perangai, dan menghapus segala kekhawatiran.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada di dalam diri-diri mereka.  (ar-Ra’d: 11)

Jadi kenapa mesti cemas? Takut? Khawatir? Minder? Karena cemas, khawatir, minder, takut adalah cara setan untuk menghalangi manusia dari ketaatannya. Takut tidak mendapatkan pekerjaan? Cemas akan komentar orang lain merupakan kerjaannya setan.

Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh kalian. Karena sesungguhnya setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fathir: 6)

Maka dari itu, yuk kenakan jilbab sekarang juga. Mumpung masih diberi kesempatan hidup oleh-Nya. Karena memakai jilbab bukanlah suatu pilihan, tetapi kewajiban muslimah shalihah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan UI Angkatan 2010 | Kaderisasi Salam UI 2014 | DPM UI 2013 | BPM FIK UI 2012 | FPPI FIK UI 2011 | BEM FIK UI 2011 | Lembaga Dakwah Sahabat Asrama UI 2010

Lihat Juga

DDII Kecam Pelarangan Jilbab oleh Perdana Menteri Perancis