Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Ibu, Profesi Paling Profesional Sedunia  

Ibu, Profesi Paling Profesional Sedunia  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (anggawakurnia.blogspot.com)
Ilustrasi. (anggawakurnia.blogspot.com)

dakwatuna.com – Ibu, perempuan biasa yang menempati posisi luar biasa. Sampai–sampai Rasulullah menyebutnya tiga kali dalam urutan seorang anak harus berbakti kepada siapa. Sudah lama ingin bercerita tentang ini, tepatnya bercerita kepada diri sendiri. Sembari menghitung apa yang sudah pernah kita keluhkan kepada makhluk perempuan ini. Jika diantara kita ada yang pernah merasa bosan dengan rutinitas kesehariaannya, maka seorang ibu jauh lebih berhak atas perasaan jenuh tersebut.

Coba saja kita amati rutinitas kesehariannya, terutama bagi perempuan yang menjalani peran penuh sebagai ibu rumah tangga.Maka sejak bangun tidur sampai tidur lagi, beliau selalu berkutat antara kasur–dapur– sumur. Setiap hari. Jenuh? Pasti. Tapi kenapa beliau masih melakukan rutinitas yang sama dan berkelanjutan tersebut? Ini tentang cinta.

Dari sekian banyak aktifitas seorang ibu yang sampai ke kita hingga sekarang ini, salah satu yang ingin saya ceritakan adalah tentang aktifitas memasak. Bertepatan tiga bulan terakhir ini saya belajar masak, karena harus menyiapkan jatah makan untuk karyawan. Memasak merupakan keahlian super yang dimiliki seorang ibu. Meski tak menutup kemungkinan seorang laki-laki juga menguasai hal ini. Dan juga tidak menutup kemungkinan ada seorang ibu yang benar–benar tidak bisa memasak. Semua ada peran dan pos–pos nya masing–masing dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bagi saya, seorang lelaki biasa yang masih sangat pemula dalam hal memasak ini, secara pribadi saya menerjemahkan beberapa hal berikut:

Pertama,memasak adalah tentang seni dan memperkirakan. Seni dalam membuat variasi menu dan juga memperkirakan tentang racikan komposisi bumbunya. Di dapur tidak ada deretan resep menu ataupun daftar pilihan, apalagi timbangan untuk menakar komposisi resep. Dan kebanyakan seorang ibu, mampu memperkirakan itu semua, serta mampu membuat variasi menu dengan bahan baku yang sama, serta seadanya.

Kedua,memasak adalah tentang menjadi manusia super, yang tahan panas dan juga tahan dingin. Sering saya perhatikan ibu saya memegang panci yang ada air panasnya, tanpa ada lapisan. Jadi dipegang langsung. Saya pernah mencobanya, “Ini rasanya panas sekali,” atau bahkan saat lupa tidakmemakai kain untuk melapisi, sayapun berteriak kepanasan. Belum lagi saat kecipratan air panas, minyak panas, kena percikan lombok dan bawang di mata, atau saat lidah kepanasan mencoba mearsakan sayur, membekas sakitnya sampai tiga harian. Bagaimana pula saat tangan terasa panas karena kena cabe?Membekasnya lama meski sudah dicuci menggunakan sabun.

Ketiga, memasak adalah bagaimana mempersiapkan masa depan dan segala aktifitasnya. Karena jenis, rasa, dan variasi masakan sangat memengaruhi pola aktifitas seharian. Maka harus punya banyak referensi jenis masakan meskipun bahan yang ada seadanya.

Bagaimana dengan kita?

Para calon ayah yang akan mendampingi makhluk luar biasa bernama perempuan ini. Atau mungkin bisa kita rekam jejak sewaktu kecil dulu, setiap bangun tidur mau berangkat sekolah sudah ada semua hal yang kita butuhkan. Dan mahkluk yang melakukan itu semua adalah ibu kita. Maka benarlah pepatah yang mengatakankasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Dan taukah, barangkali ibu kitatidak pernah tahu tentang pepatah itu. Ini baru tentang memasak. Belum lagi saat mengandung, melahirkan, mendidik anak, merawat suami, menjadi tetangga yang baik, menjadi wanita karier, dan lain sebagainya. Kesemuanya adalah pekerjaan yang tak mungkin bisa dikalkulasikan dengan gaji berupa uang.

Bagaimana ya, kondisinya perempuan yang nantinya akan menjadi pendamping kita?

Yang jelas, saya sangat yakin, ia adalah seorang perempuan yang akan menjalani pekerjaan utamanya sebagai seorang ibu. Karena pada dasarnya, menjadi ibu adalah menjalani profesi paling profesional sedunia. Ibu, adalah sekolah pertama bagi calon buah hati yang nantinya akan membangun peradaban di negeri ini. Maka mari, para calon ayah, kita perbaiki diri dengan sebaik baik paras dan akhlak, karena calon ibu dari anak-anak kita sekarang juga sedang melakukan hal serupa. Kemudian, insya Allah, Diaakan mempertemukan keduanya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI