Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Ukhuwah Anjaliyah”  

“Ukhuwah Anjaliyah”  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ukhuwah (inet) - etaklim.com
Ukhuwah (inet) – etaklim.com

dakwatuna.com – Mungkin judul ini terlalu memaksa. Namun, saya tidak menemukan judul lain untuk mengisahkan ukhuwah para Anjal (anak jalanan) yang saya jumpai suatu ketika.

Saya naik bus di Tuban untuk kembali ke Surabaya. Karena sudah penuh, maka sang kondektur pun menyuruh saya untuk duduk di ‘bantalan’ di sebelah sopir. Tidak lama berselang, ada seorang cewek yang naik, kemudian duduk di samping saya. Sekilas saya perhatikan, ada tatto di lehernya. Saya bisa melihatnya karena kebetulan rambutnya pendek. Saya amati tatto itu, ingin tahu gambar apa. Di saat itu, saya baru sadar kalo ia habis potong rambut, karena banyak potongan rambut kecil di pakaian dan lehernya.

Saya pun mengalihkan perhatian; membaca majalah Tarbawi yang saya bawa. Tiba-tiba, kondektur yang di depan kami membuka obrolan dengan cewek tersebut, “Habis potong ya mbak?”

“Iya ini.”

Setelah itu kondektur melanjutkan obrolanya dengan pertanyaan yang lain, “Dari mana, mau ke mana, mau ngapain, biasa mangkal di mana, sekarang bawa barang atau tidak, dll..”

Dengan semangat, cewek di samping saya itu menjawab. Dari jawabannya, akhirnya saya tahu kalau ia anak jalanan, mau ke rumah cowoknya. Dan dari obrolan mereka, saya juga tahu kalau kondektur juga orang jalanan. Bahkan ia mengenal beberapa nama yang disebutkan si cewek. Pun demikian dengan cewek tersebut, ia mengenal beberapa nama yang disebut kondektur. Klop!

Sampai di situ, saya menyinyimpulkan satu hal. Yang menjadi pelajaran pertama; orang itu akan mudah berakrab-akrab dengan orang yang sama dengannya. Mereka sama-sama orang jalanan. Maka mereka pun cepet akrab. Bahkan mereka sudah saling percaya sampai menanyakan perihal ‘barang’.

Bus terus berjalan. Sampai akhirnya, ada seorang pengamen yang naik. Pengamen yang sudah sering saya temui dan tidak pernah saya beri karena tidak suka gayanya: bertindik, rambut gondrong, bertatto. Ketika pengamen tersebut selesai bernyanyi dan mulai mengeluarkan bungkus permen dari sakunya, dengan segera cewek di samping saya pun mengambil uang dari dompetnya. Tak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan uang puluhan ribu. Maka kondektur pun bertanya,  “Mau buat apa uang itu?”

“Ya itu buat pengamen.” Jawab si cewek dengan santai.

“Owh…” jawab kondektur sambil menganggukkan kepala. Ia kemudian melanjutkan, “Kok banyak?”

Dengan mantap, si cewek mengatakan, “Itu temanku. Aku kenal dia. Kasihan. Jadi ya, saya beri ini.”

Saya kaget bukan main. Seumur-umur, saya tidak pernah memberi pengamen dengan uang puluhan ribu. Bahkan, hanya beberapa kali saja saya memasukkan uang puluhan ribu di kotak amal masjid saat shalat Jum’at. Maka hal ini pun memberi saya pelajaran kedua tentang persaudaraan mereka: ternyata mereka begitu ringan tangan untuk berbagi dengan sesamanya.

Saya kemudian merenung. Ternyata, ukhuwah ‘anjaliyah’ mereka begitu kuat. Dari tampilannya, si cewek yang duduk di sebelah saya bukanlah orang yang sudah sukses besar. Ia masih biasa. Mungkin, hidupnya hanya sedikit lebih baik dari teman-teman sesama anak jalanan. Tapi ketika ia bertemu dengan teman lamanya, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbagi.

Kini, banyak saudara kita yang terkena bencana dan musibah. Semoga dengan ukhuwah insaniyah kita tergerak untuk membantu mereka, saudara kita sesama manusia. Biar pun beda suku, ras, bangsa, dan lainnya, semoga hal itu tidak menghalangi kita untuk berbagi pada sesama.

Kini, banyak saudara kita sesama muslim yang menghadapi masalah besar. Semoga dengan ukhuwah islamiyah, kita tergerak untuk membantu mereka, saudara kita sesama muslim. Biarpun mungkin beda mazhab, harokah, dan lainnya. Tapi jika mereka masih satu aqidah, marilah kita membantunya.

 

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sirot Fajar
Mahasiswa. Sang Pembelajar di Psikologi Universitas Negeri Surabaya; penulis buku Psikologi Pemuda & 30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup; pernah jadi ketua Klub Dakwah Kampus Unesa.

Lihat Juga

Ilustrasi. (multnomahathleticfoundation.com)

Rimpu, Identitas untuk Solidaritas Nasional