Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Poros Kenyamanan

Poros Kenyamanan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ada orang, mungkin kita mengenalnya sebagai sosok yang baik dalam segala hal tapi tidak membuat kita  betah untuk berlama- lama  menghabiskan cerita dengan dirinya. Atau mungkin saja, ia adalah sosok terkenal luar biasa dengan beberapa kehebatan yang dimilikinya. Tapi tidak membuat kita mudah untuk bersandar di bahunya barang sebentar saja.

Namun, ada pula orang yang saat melihat senyumnya saja sudah membuat kita ingin menceritakan banyak hal. Ia mungkin hanya menanyakan, “Apa kabar?” tapi orang yang ditanya tanpa ragu akan menjawab lebih dari sekadar, “Alhamdulillah, kabar baik.” Wajahnya selalu berseri seri, ceria sempurna. Sehingga membuat setiap orang juga merasa tertular atas keceriannya. Ia pandai bercerita, ia mahir menghangatkan suasana, ia begitu bersemangat. Dan tentu saja, ia selalu membuat orang nyaman berada di dekatnya.

Orang–orang yang mampu menciptakan atmosfer kenyamanan dalam dirinya sangat jarang dijumpai. Tentu saja, sebab untuk membuat orang lain nyaman padamu bukanlah hal yang mudah, kau harus menghidupkan api sekaligus menjaga suhunya agar tetap hangat, tidak membiarkannya menjadi panas sehingga membuat orang gerah dan berlari. Pun, tidak membiarkannya redup sehingga membuat suasana dingin tak bersemangat.

Ada perhatian, ada pengorbanan, ada rangkulan yang kontinyu untuk menciptakan kenyamanan. Dimulai dari perhatian. Perhatian yang dimaksud mungkin bukan sekadar menanyakan kabar saja karena sudah menjadi formalitas ketika bertemu. Tapi perhatian yang lebih spesifik. Misalkan mengetahui kesibukannya akhir-akhir ini, penyakit yang sedang di derita, hal yang tidak disukainya, kebiasaannya, atau banyak hal lainnya sehingga pertanyaan yang muncul bukan hanya sebatas, “Apa kabar?” Tapi bisa dilanjut dengan, “Gimana batuknya? Sudah tidak ada lagi darahnya?” Atau, “Gimana seminar proposal skripsinya? Jadi mendaftar minggu ini?” Bisa juga disertai dengan kejutan-kejutan sederhana tapi bermakna. Apapaun itu, hal yang perlu digarisbawahi setiap perhatian itu adalah perhatian yang tulus yang tidak dibuat- buat.

Setelah itu ada pengorbanan. Wah ini bagian yang sulit ya? Kau mungkin harus rela mendengarkan cerita-cerita saudaramu, bahkan mungkin jika cerita itu adalah cerita yang kurang menarik atau cerita siaran ulang. Menyimak curhatannya dengan ikhlas, ikut ber empati terhadap masalah yang dialaminya. Lebih baik lagi, jika memberi solusi jitu atas permasalahannya. Itu masih tentang pengorbanan waktu mendengar keluh saudara, belum lagi pengorbanan harta, perasaan, dan lainnya.

Terakhir, rangkulan yang kontinyu. Ya! Semua bentuk perhatian dan pengorbanan tadi tidak hanya dilakukan barang sekali, tapi setiap kali. Dan diupayakan tidak hanya dilakukan untuk satu dua orang, tapi setiap orang.

Begitulah. Saat suasana nyaman sudah didapat, saat setiap orang berusaha untuk membuat dirinya nyaman bagi saudaranya, maka kerja-kerja dakwah akan terasa lebih ringan. Hari-hari suram akan dilewati bersama dengan optimis. Mungkin itulah yang dirasakan Nabi Musa terhadap Nabi Harun, saat rangkulan sahabat dapat mengalahkan rasa kalut atas kecaman Fir’aun yang begitu menyesakkan. Itu pula yang dirasakan Nabi Muhammad terhadap Khadijah saat pelukan hangat mampu mengatasi gulana atas perintah Jibril yang begitu menghimpit dan membingungkan.

Sulit memang. Tapi sebagai Muslim yang baik, kita wajib bersungguh-sungguh untuk menciptakan poros kenyamanan dalam diri kita untuk orang orang disekitar kita. Dan, utamanya untuk dakwah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
S-1 Pendidikan Fisika Uniersitas Negeri Medan, Pengajar Fisika, Jaringan Muslimah FSLDK SUMUT, Akpro Ukmi Ar-Rahman Unimed. Going The Extra Miles, Berusaha di atas rata-rata orang lain. Fastabiqul Khoirat.

Lihat Juga

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan