Home / Berita / Opini / Poros Koalisi Kenegaraan Berbasis Keumatan  

Poros Koalisi Kenegaraan Berbasis Keumatan  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com – Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar dan anaknya tewas di medan pertempuran. Kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam negara yang merdeka, sesuatu yang mereka ingin dan cita-citakan sejak berpuluh dan berates tahun yang lampau. Ssemua orang menghitung pengorbanannya dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan ke muka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat. Sekarang, dari masyarakat itu pula mereka harapkan pembalasannya yang setimpa. Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalelanya sifat serakah. Orang tidak bekerja sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. (M.Natsir)[1]

Nasionalisme Indonesia Sesungguhnya

Cinta dan pengorbanan tanpa pamrih untuk kemaslahatan negara dan bangsa adalah nasionalisme yang sebenarnya. Cinta kampung halaman adalah naluri dan fitrah yang dianugerahkan kepada manusia. Tidakkah kita melihat burung-burung yang bermigrasi, melakukan perjalanan ribuan mil akan kembali ke habitat aslinya walaupun akan melewati tantangan berupa kerasnya cuaca atau iklim yang berbeda.

Ini adalah fitrah manusia yang tidak bisa dipungkiri. Tidaklah seorang manusia dianggap sempurna kecuali memiliki rasa cinta terhadap negerinya dan rindu padanya, berambisi atasnya, berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk membelanya, bahkan berusaha mengerahkan seluruh potensi untuk menjaga kemuliaanya, kekuatannya dan kekayaannya.

Maka sangat musykil jika dalam pilpres saat sekarang ini, ada calon pemimpin Indonesia belum apa-apa sudah menyerahkan lehernya kepada pihak asing. Menjual aset bangsa sehingga kita menjadi bangsa budak. Ini bukanlah nasionalisme walaupun setiap hari sosok ini digadang-gadang berbagai media merupakan sosok yang paling nasionalis.

Ketika nasionalisme diiringi oleh spiritualitas dan religiulisme maka ia akan menghasilkan keteladanan. Keteladanan dalam berkorban dan keberanian, tidak takut terhadap tipu daya musuh, kebencian orang-orang yang membenci, para penghambat yang hina-dina. Sungguh telah banyak terjadi gerakan pembebasan bangsa di atas dunia ini yang diperjuangkan generasi awal yang tangguh yang rela berkorban dengan semangat cinta yang tulus dicuri oleh generasi yang tumbuh diatas hidangan materialisme, sekularis dan atheis. Mereka runtuh menerima pengaruh asing baik itu berbentuk tekanan politik, embargo ekonomi dan penjajahan pemikiran anak bangsa.

Para penghianat serakah dan bakhil ini dibesar-besarkan media milik para pemilik modal yang culas. Menjual dan menguasai kebutuhan rakyatnya. Menjual perasaan dan pemikiran mereka, menghianati tanah air mereka, mencari dukungan kekuatan dari musuh-musuh eksternal atas nama kestabilan dan kepentingan rakyat. Akhirnya akan datang waktu ketika jati diri mereka tersingkap dan tipu daya mereka akan dikalahkan oleh nasionalisme murni yang berintikan cinta dan pengorbanan tulus bagi kepentingan bangsa dan negara.

Poros Keteladanan

Keteladanan mengalahkan kekuatan perkataan. Pemimpin adalah matahari bangsa, semangat, energi penggerak dinamika perubahan bangsa untuk mencapai harapan, tujuan dan cita-citanya.  Indonesia membutuhkan pemimpin yang ketika berada di tampuk pemerintahan bisa mewujudkan pemerintahan yang bersih dan dan berpihak kepada rakyat.

Poros koalisi keumatan dan kenegaraan yang akan terbentuk harus menjadi poros keteladanan yang mempunyai standarisasi sebagai berikut:

Pertama, keteladanan kepemimpinan harus harus menjadi garda terdepan dalam gerakan politik santun, penjaga moral dan etika politik dalam setiap proses demokrasi sehingga terhindar dari praktik politik kotor, menghalalkan segala cara dan menggunakan kekerasan atau premanisme.

Kedua, Keteladanan kepemimpinan juga tidak terjebak dalam pragmatisme politik, menghormati hak dan kewajiban orang lain serta menghargai perbedaan di masyarakat.

Ketiga, keteladan kepemimpinan dapat melakukan pendekatan persuasif dan tidak mengekslusifkan diri serta bergabung dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan sehingga timbul kedekatan dan kepercayaan dari masyarakat.

Keempat, berkontribusi aktif dan yang terbaik kepada negara seperti pernyataan Presiden Amerika Seikat ke 35 Jhon F Kennedy, ”Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang kamu berikan kepada negaramu!” [2] Atau pernyataan KH Ahmad Dahlan, ”Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah!”

Sosok-sosok pemimpin yang akan menjadi Poros Keteladanan adalah hasil rekrutmen dan pembinaan pengkaderan dari rahim partai-partai politik dan organisasi kemasyarakatan yang ada di Indonesia. Potensi-potensi terbaik umat dan rakyat di berbagai organisasi kemasyarakatan dan partai politik bukanlah penganut dan pendukung saja namun mereka adalah pelopor kebaikan.

Sesungguhnya semua orang adalah pemimpin, setidaknya untuk dirinya sendiri. Dalam tataran struktural kenegaraan dibutuhkan kepemimpinan dalam berbagai sektor yang mengutamakan spesialisasi tertentu. Karena negara adalah organisasi besar suatu bangsa yang sepakat untuk bekerjasama dalam mewujudkan harapan, tujuan dan cita-cita bersama. Kepemimpinan akan bertenaga apabila ada kerjasama yang apik dalam sistem yang tertata rapi untuk menggapai harapan, tujuan dan cita-cita bersama bangsa.

Semua potensi-potensi bangsa harus berkolaborasi dalam harmoni dan rentak yang sama. Banyak sekali beban-beban berat yang tidak bisa kita pikul sendiri. Persis seperti manusia itu sendiri. Keteladanan kepemimpinan nasional Indonesia harus bisa menjadi otak, hati dan tulang punggung Indonesia. Inilah harapan besar yang harus diemban dan diwujudkan oleh poros koalisi keumatan dan kenegaraan dalam pilpres 2014 ini.

Kekuatan Keumatan dan Kenegaraan

Pedoman memilih dan memilah pemimpin telah dijelaskan Allah dalam Surat at-Taubah ayat 128. Ada kalimat Rasulum min anfusikum di sana.Kata anfus bisa dibaca dua cara yaitu:

  1. Anfusikum: maknanya paling dikenal. Rekam keturunan. Maksudnya individu yang merupakan bibit unggul. Kualitas individunya unggul dari sisi bibit, bobot dan bebetnya.
  2. Anfasakum: maknanya paling terbaik. Rekam karya (track recordnya). Berhubungan dengan rekam jejaknya berkontribusi dalam kebaikan, rahmat, keberkahan dalam mengadvokasi kepentingan umat, bangsa dan negara dalam ruang lingkup keluarga, kemasyarakatan, organisasi social, partai politik, daerah, bangsa dan dunia internasional.

Sosok inilah yang akan menjadi otak di balik pemikiran politik memajukan bangsa. Menjadi hati, sumber keteladanan dan kredibilitas moral dan terakhir menjadi tulang pungung yang merupakan kekuatan semangat kerja untuk mengadvokasi kepentingan bangsa dan negara.

Kebaikan pemimpin yang terpilih tersebut harus sudah diketahui dan dinikmati oleh keluarga, masyarakat sekitar, bangsa, negara bahkan melewati batas-batas regional dan internasional. Jadi bukan hanya dikenal di suatu daerah saja.

Pemimpin seperti inilah yang seharusnya menjadi pilihan untuk menentukan tokoh pilpres 2014 dari Koalisi Keumatan dan Kenegaraan saat sekarang ini. Bisa saja dari pertemuan silaturrahim partai politik dan organisasi kemasyarakatan yang sedang digadang-gadang saat sekarang, capres dan cawapres bisa saja calonnya berasal dari partai politik yang suaranya kecil atau dari tokoh salah satu dari organisasi kemasyarakatan yang ada.

Sikap psikologis yang harus ada pada masing-masing partai-politik dan organisasi kemasyarakakatan yang sedang duduk bermusyawarah saat sekarang ini adalah:

  1. Menyeimbangkan sifat percaya diri dan tahu diri
  2. Menghilangkan sifat putus asa untuk mencapai konsensus bersama
  3. Berjiwa sosial, peduli, lapang dada dan mengembangkan semangat bekerjasama
  4. Tanggap melihat peluang di tengah dinamika perpolitikan nasional yang sangat dinamis
  5. Open mind, dapat menerima perubahan untuk kebaikan tanpa menghilangkan jati diri
  6. Kemoderenan berbasis keyakinan dan keimanan sebagai modal untuk berinteraksi dengan dunia Internasional

Keputusan Politik Hari Ini adalah Sejarah Bangsa Esok Hari

Keteladanan kepemimpinan adalah ‘Kekuatan Keumatan’ bangsa dan negara. Eksistensi partai politik dan organisasi kemasyarakatan adalah memilih dan memilah individu-individu unggul  di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang demokratis untuk kemudian dipilih menjadi pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokohnya yang ditawarkan kepada umat melalui media yang tersedia secara alami dan natural.

Mereka dipilih oleh umat karena prestasi dan rekam jejaknya. Media hanya sebagai wadah katalisator saja. Bukan seperti saat sekarang ini, media menjadi wadah propaganda dan manipulasi sosok pemimpin yang belum jelas bibit, bobot dan bebebetnya serta rekam jejak prestasinya.

Pembinaan dan kaderisasi adalah kekuatan utama dari umat dan negara. Sultan Muhammad al-Fatih di akhir hayat berpesan kepada anaknya, “Tak lama lagi aku akan menghadap Allah swt. Namun aku sama sekali tidak menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, shaleh dan pengasih. Rentangkanlah perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu menyebarkan Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi. Janganlah kamu lengah dan lelah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian.”[3]

Rekrutmen dan pembinaan yang berlangsung dalam setiap rahim ormas dan parpol di Indonesia ini adalah proses memilih dan memilah pemimpin. Kepemimpinan bagi bangsa dan negara tercermin dalam pribadi pemimpin yang ulama negarawan dan negarawan yang ulama. Disamping lahirnya kader-kader bangsa pada bidangnya secara spesifik pada keulamaan dan kebangsaannya.

Epilog

Semua yang dilakukan hari ini adalah ikhtiar manusiawi manusia. Maka kita memohon kepada Allah swt keberpihakan-Nya, dan pertolongan-Nya karena keterlibatan kita semua dalam perbaikan bangsa, negara dan dunia ini untuk mendapatkan ridha Allah bagi kehidupan kita semua baik di dunia maupun di akhirat.

 

[1] Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut, M. Natsir.

[2] www.dakwatuna.com/kontribusi pemuda dalam membangun keteladanan politik, Endang Rahman Hakim

[3] www.islampos.com ketika adab berpolitik hilang, Nuim Hidayat, peneliti INSIST.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
KH. Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM
Direktur Utama Qolbu Re-engineering (QR) Foundation. Ketua Yayasan Wakaf al-Ihsan Riau ( YWIR)

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Pribadi Bangsaku