Home / Pemuda / Essay / Diam itu Indah

Diam itu Indah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (sebeningembun-azzahra.blogspot.com)
Ilustrasi. (sebeningembun-azzahra.blogspot.com)

dakwatuna.com – Qalbie sang penyiar radio. Malam itu kedatangan seorang ustad sabagai narasumber.

Penyiar: Ustadz, dalam Islam apakah kita tidak boleh menyatakan cinta?

Ustadz: Jawabnya… (diam, menarik nafas lalu melanjutkan). Boleh,,, tapi tidak penting. Tidak sepenting arti  dan bukti sebenar cinta. Bukti sebenar cinta itu apabila kita menghargai orang yang kita cintai dengan perbuatan, agar ia merasa selamat dan terhormat. (kutipan percakapan film 9 Rindu 9 Cinta)

Ikhwah fillah, menyatakan cinta itu boleh, tapi tidak penting. Jika engkau mencintainya, cintailah ia dengan cara menghargai, dan membuatnya merasa terhormat. Melamarnya adalah bentuk pernyataan cinta yang membuatnya merasa mulia.

Jika engkau belum mampu, maka lebih baik diam.  Karena pernyataan cintamu yang belum tepat waktunya itu, tidak penting.. Tidak penting untuknya, tidak penting untukmu, juga tidak penting untuk masa depan kalian berdua. Karena diammu adalah penawar. Penawar hati yang makin tak karuan. Penawar rindu yang belum saatnya. Karena diammu adalah sedekah. Sedekah bagi  hati yang sangat sulit tuk dikendalikan.

Akhi fillah, engkau tau bahwa kelemahan akhwat adalah rayuan manismu. Maka jangan manfaatkan kelemahan kami demi kesenanganmu. Engkau tau bahwa kecantikan hati itu lebih penting daripada keelokan rupa. Lalu, kenapa kau umbar pujiannmu terhadap para wanita pesolek itu? hingga membuat kami makin minder dalam penantian sang imam.

Akhi, alangkah mulianya jika energi cintamu itu engkau kobarkan menjadi semangat jihad dalam mencari nafkah, lalu meminangnya. Tak ingatkah dengan kisah cinta Ali dan Fathimah yang luar biasa indah? Terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata? Hingga akhirnya, Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Yang bahkan konon, saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka.

Sayyidina Ali terpesona pada Fathimah sejak lama. Disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja dan paras cantiknya putri kesayangan Rasulullah saw itu. Sayyidina Ali pernah tertohok dua kali, saat sahabat Abu Bakar ra. dan Umar bin Khattab ra melamar Fathimah, sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ditolak Rasulullah saw. Akhirnya, Sayyidina Ali memberanikan diri. Ternyata, lamarannya kepada Fathimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Lihatlah. Bagaimana cinta itu bertemu meski dalam diam? Siapkah antum memiliki kisah cinta seromantis itu?

Ukhti fillah, engkau tau bahwa para ikhwan menang  satu poin di atasmu. Mereka meninggikan logikanya. Sedangkan kita tenggelam dalam perasaan. Mau berapa lama lagi kita terombang-ambing dalam kegalauan yang tanpa batas dan tanpa arah? Harus berapa banyak waktu lagi yang kita habiskan hanya untuk memandangi foto profilnya? Berharap ia akan menanyai kabarmu melalui chat facebook?

Diam. Adalah ekpresi cinta terbaik bagi kita. Diam dalam perkataan. Diam dalam tindakan. Bahkan diam dalam segala hal yang berhubungan dengannya.

Di sisi lain, seperti kisah cinta Sayyidah Fathimah, ternyata (juga) telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama.  Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Sayyidah Fathimah berkata kepada Sayyidina Ali,  “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya.”
Sayyidah Fathimah melanjutkan, “Pemuda itu adalah dirimu.” Subhanallah.

Sudahlah ukhti, luruskan lagi niat itu. Pendam rapat-rapat rahasia hati itu, hingga ia akan berbuah manis, dan mengajakmu untuk sujud bersama, di atas sajadah cinta kalian berdua.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (24 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurul Hidayah
Mahasiswi Semester 2 Di STAIN Palopo Sulsel jurusan tarbiyah prodi pendidikan bahasa inggris. Aktif bekerja sebagai penyiar radio selama 3 tahun, dan sebagai staff humas di KAMMI. Menyukai dunia tulisan sejak SMP, dan telah menerbitkan 1 antologi cerpen di kelas 3 SMK. Cita-cita berharap suatau hari nanti bisa menjadi pendidik yang mencerdaskan, sekaligus menjadi reporter yang profesional dan berkarakter aamiin.
  • Muhammad Habibi Putra Jaya

    subhanaallah :)

  • mujahidah muda

    setuju…:)

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan