Home / Berita / Opini / Tren 2014

Tren 2014

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Muhammad Faisal Al-Mandawiy)
Ilustrasi. (Muhammad Faisal Al-Mandawiy)

dakwatuna.com – Belakangan ini banyak sekali tren yang dianggap dan dimasyarakatkan di kalangan anak muda. Semua itu tidak pandang buluh. Baik itu orang miskin, kaya bahkan orang berpangkat sekalipun. Mulai dari kalangan anak kecil, anak muda bahkan kalangan tua sekali pun ikut ambil alih dalam hal tersebut. Hal yang menjadi sangat lumrah di kalangan masyarakat saat ini.

Mereka seakan tidak peduli apakah itu baik? Apakah itu dilarang dalam agama Islam? Mereka tidak peduli semua itu. Yang penting bagi mereka, “Ini trendi saat ini.” Ini gaya anak muda saat ini. Bagi yang tidak seperti itu dianggap kuno, ketinggalan zaman, bahkan dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman.

Mulai dari gaya rambut yang acak-acakan, dibilang trenlah. Terkadang hanya ada di bagian tengahnya saja, juga dibilang tren. Baik wanita maupun laki-laki sekarang ini tidak ada bedanya. Kalau sudah dibilang tren tidak ada yang protes sama sekali. Terkadang kita sulit membedakan mana yang laki-laki dan mana yang perempuan. Dilihat dari jauh kelihatan berambut panjang, memakai anting dan celana pensil. Padahal tidak sama sekali, ternyata memang laki-laki. Dari jauh kelihatan wanita, eh ternyata laki-laki yang meniru gaya wanita.

Entah zaman telah terbalik 180 derajat atau bagaimana? Aku juga tidak tahu. Ini itu dibilang trenlah. Memakai anting di telinga, di hidung bahkan di lidah sekalipun dibilang tren. Padahal tidak satu dua kaum laki-laki mengunakan hal semacam itu apa itu anak sekolah atau tidak yang penting, “gaul men!” Apa iya yang seperti itu gaul ? Itu hanya menyakiti tubuh kita saja. Lobang sini lobang sana, pasang ini pasang itu. Mereka tidak peduli, berderet anting dipasang di telinga, lidah hidung bahkan di tangan puluhan gelang dipasang. Mulai dari tangan kiri penuh dan ditambah lagi tangan kanan penuh.

Mereka berpenampilan mengikuti gaya tren yang tidak bisa kembali ke bentuk awalnya. Lobang disana disini mereka tidak berpikir bahwa itu semua tidak bisa kembali ke bentuk awalnya jika nantinya ingin kembali. Dulu tato yang dibilang tren ujung-ujungnya hanya bisa dihilangkan dengan benda panas. Benda yang menyakiti tubuh kita yang tidak pernah tahu bagaimana rasa sakit itu yang penting hilang dari tubuh kita.

Belum habis semua itu, timbul lagi yang disebut celana pensil. Disana sini. Baik itu wanita, laki-laki, anak-anak, remaja, tua-muda semua mengunakannya tampa terkecuali sekalipun. Celana yang serba ketat yang memperlihatkan bentuk tubuh. Liku-liku badan kepada kalangan ramai, bahwa inilah bentuk tubuhku. Mereka terkadang tidak sadar dengan bentuk tubuhnya. Sudah badan kecil, kaki juga kecil, pakai celana pensil atau yang dibilang jins. Baju adiknya yang dipakai, ditarik ke atas kelihatan pusat dan ditarik ke bawah kelihatan dada. Berjalan di tengah keramaian seperti belalang yang tidak tahu sopan santun. Semuanya kelihatan tulang berulang, bukan menjadi tren malah mendatangkan cemooh yang keluar dari mulut-mulut orang-orang yang melihatnya. “Sudahlah badan kecil memakai celana ketat lagi.” Itulah yang keluar dari setiap orang yang melihatnya.

Sampai sekarang ini, orang-orang sangat sulit membedakan mana yang modernisasi dan mana yang budaya barat itu sendiri. Yang telah merajalela ke semua pelosok negeri baik itu kota maupun desa-desa terpencil sekalipun. Memang semua hal itu dianggap lumrah dan biasa-biasa saja di kalangan masyarakat. Penampilan ibarat artis ngetop mengunakan celana jins dan memakai kerudung. Seolah-olah mereka memperlihatkan tubuh bagian bawah dan atasnya terbuka. Istilah orang minang sekarang ini, “Lai babaju indak basarawah,” itulah yang terjadi di kalangan anak-anak muda sekarang ini.

Hal semacam itu masih dibilang tren dan gaul. Padahal hal semacam itu tidak sesuai lagi dengan budaya orang Minangkabau dan ajaran Islam itu sendiri. Bahkan yang lebih parah, kalangan ibu-ibu pun terkana virus tren yang semacam itu. Dia berjalan dengan percaya diri di depan rumahnya, mengunakan kerudung dalam hingga tangannya tidak terlihat akan tetapi di bawahnya. Masya Allah, rok yang dikenakannya itu rok di atas paha. Bukan hanya aku yang mengeleng-geleng dibuatnya. Semua mata yang melihat pemandangan itu terkagum cemas dibuatnya.

Zaman yang serba canggih dan penuh dengan berbagai mesin canggih. Semua pekerjaan dengan mudah, cepat dan tanpa harus menghabiskan tenaga. Bahkan sampai ke budaya barat yang tidak seharusnya dicontoh telah diteladani dan menjadi tren di kalangan masyarakat sekarang ini. Mereka mengambil budaya baru tanpa harus menyaring terlebih dahulu. Apakah ini baik untuk kesehatan atau tidak? Mereka tidak pernah memikirkan efek samping dari hal tersebut.

Apalagi anak muda sekarang ini lebih suka menghabiskan waktu di warnet. Dengan permainan game online yang dimainkan mulai dari kalangan anak kecil, muda dan bahkan dewasa sekalipun ikut dalam permainan yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Mereka rela tidak makan seharian demi bisa mengikuti permainan tersebut. Itulah yang sering dibilang ‘PB’ atau dengan sebutan Point Blank. Di sana sini, mulai dari ujung warnet satu sampai warnet lain, permainan itu yang ditampilkan di layar LCD komputer tersebut.

Menurutku, selain hanya menghabiskan waktu, uang bahkan membuang kesempatan belajar di sekolah, anak-anak sekolah rela membolos dan menghabiskan waktu di depan komputer seharian. Mereka tidak peduli apa itu siang malam bahkan mereka rela tidak tidur seharian hanya untuk permainan tersebut.

Sekarang aneh lagi, tren baru-baru ini. Di kalangan anak-anak sekolah dan sampai kalangan ibu-ibu ikut tergiur mengikuti tren yang di sebut dengan tren 2014. Di sana sini berita itu terdengar mulai dari sudut kampung sekalipun berita itu tersebar. Bukan hanya dari mulut ke mulut melainkan berita televisi sekali ikut ambil alih dalam tren panas tersebut.

Ada sekitar 6 orang yang telah dianggap berhasil melakukan tren tersebut dan ada yang masih kurang berhasil melakukannya. Tren itu tidak lain adalah ‘tren bunuh diri’ mereka mengakhiri hidupnya tanpa harus menunggu ajal memjemput mereka. Anak sekolah yang putus cinta rela mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Ada yang hamil tanpah bertanggung jawab dan juga mengakhiri hidup dengan cara tragis gantung diri.

Suami istri yang bertengkar dan juga mengakhiri hidupnya dengan cara tren 2014 itu. Di berbagai daerah telah tersebut hal yang semacam itu. Apakah itu memang tren atau tidak yang penting semua orang membicarakan hal tersebut. Ibu-ibu yang naik angkot membicarakan itu, di warung bapak-bapak cerita itu. Bahkan ada juga kumpulan pemuda-pemudi sedang membicarakan hal tersebut. Lagi-lagi cinta yang disalahkan dan menjadi biang kerok dari tren tersebut. Gara-gara putus cinta, terlalu cinta dan bahkan cinta ditolak, gantung diri menjadi solusi paling ampuh di kalangan mudi-mudi sekarang ini.

Mereka tidak pernah memikirkan jalan lain untuk memecahkan masalah tersebut. Mereka ingin solusi yang cepat dan instan menurut zaman yang serba instan sekarang ini. Bahkan dalam mencari solusi pun mereka berpikir instan dan ingin cara yang ampuh dan serba cepat. Tanpa harus menunggu dan mencari jalan yang lebih baik dan meminta pendapat dari pihak lain

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Tinggal di Batusangkar. Sekarang ini sedang kuliah di STAIN Batusangkar jurusan Akuntansi Syariah.

Lihat Juga

Cover buku "Segarkan Imanmu".

Segarkan Imanmu

Organization