Home / Berita / Opini / Persatuan dan Kesatuan Umat dalam Politik itu Utopia?!

Persatuan dan Kesatuan Umat dalam Politik itu Utopia?!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)

Berharap Pada Partai (Basis Masa) Islam

dakwatuna.com – Pemilu legislatif 2014 menjadi cermin untuk muslim Indonesia. Bahwa partai Nasionalis-Sekuler masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat Indonesia. Walaupun faktor figur kelihatannya paling menentukan bagi masyarakat dalam menimbang pilihan. Bukan lagi faktor ideologis an sich.

Partai-partai Islam atau yang memiliki basis masa Islam –menurut data hasil quick count– seluruhnya menjadi partai menengah (medioker) yang memperoleh dukungan suara rata-rata kurang dari 10 %. Namun, jika dijumlah totalnya menjadi sekitar 31 % lebih. Cukup memenuhi syarat untuk mengusung calon Presiden dan Wakil Presiden sendiri.

Walaupun jumlah prosentase masing-masing Partai Islam tidak dalam posisi teratas, namun dapat dikatakan bahwa beberapa partai trend-nya meningkat. Partai-partai Islam berhasil mengejutkan publik karena berhasil keluar dari hasil beberapa lembaga survei yang memprediksikan bahwa partai-partai Islam akan “tenggelam” pada pemilu 2014 ini.

Melihat pada realita tersebut, beberapa pihak dan analis politik melihat adanya kemungkinan terwujudnya poros tengah jilid II. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada pemilu 1999 terbentuk poros tengah yang kemudian berhasil mengusung Gusdur menjadi Presiden.

Lebih menarik lagi, ketika beberapa media yang berbasis Islam juga beberapa tokoh nasional juga condong berharap terwujudnya poros tengah partai Islam. Boleh dibilang, mereka mungkin merindukan persatuan dan kesatuan umat Islam dalam dunia politik. Menjadikan politik sebagai sarana perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai keluhuran Islam.

Membungkus Tulang-tulang Dengan Daun

Penulis teringat salah satu sub-bab dari buku Dari Hati ke Hati yang ditulis oleh Buya Hamka –Allahu yarham– yang berjudul Kesatuan dan Persatuan Umat Islam (2002:192). Dalam tulisan tersebut, Hamka berkisah bahwa beliau di era awal Orde Baru -setelah hancurnya Orde Lama yang otoriter dan berbau komunis- pernah ditanya oleh sekelompok pemuda yang menurutnya “menyentakkan daku dari renungku.” Pertanyaan itu berbunyi, “Apakah para ulama dan pemimpin-peminpin Islam hendak kami persatukan dengan kekerasan? Apakah akan diminta supaya kami pemuda bertindak?”

Pertanyaan semacam itu mungkin juga menyeruak dada dan pikiran pemuda Islam hari ini yang sudah lelah bahkan muak melihat aksi “teatrikal” politik dagang sapi yang dipertontonkan oleh sebagian pemimpin (politik) negeri ini.

Dengan bijak, Hamka menanggapi pertanyaan pemuda tersebut yang juga merupakan curahan hatinya, “Aku dengarkan dia melepaskan segala isi hatinya dengan tenang. Setelah terlepas segala yang menyentak itu, mulailah kami bercakap dari hati ke hati. Kami bertukar fikiran. Sebab apa yang terasa di hatinya, pun terasa dalam hatiku. Cuma bedanya, dia masih muda dan semangatnya masih menggelora. Sedang aku sudah mulai tua.”

Kalimat demi kalimat Hamka tersebut kita ketahui bahwa hasrat untuk bersatu tidak didominasi kaum muda, pun kaum tua. Akan tetapi posisi mapan dan identitas kelompok sudah kadung melekat yang kadang disertai vested-interest membuat gerak ke arah pusaran persatuan kian lambat –walau tidak bisa digeneralisir seluruhnya demikian.

Lebih lanjut, Hamka menyampaikan, “Dia kaya semangat dan cita-cita yang tinggi. Dan aku, serta yang sebaya denganku, kaya pula dengan pengalaman-pengalaman pahit dan penderitaan. Sehingga jika dunia ini hanya diserahkan kepada mereka, kita akan merasa selalu suasana jadi panas kena getarnya. Dan kalau dunia ini diserahkan kepada kami yang telah berumur, hari hanya akan habis dalam diskusi dan pengupasan soal, tetapi tak sanggup melaksanakan.”

Dalam hal ini Hamka memahami betul prinsip perjuangan yang berbunyi, “hikmatusy syuyukh wa hamasatus sabab.” Yakni kebijaksanaan para tetua dan semangatnya para pemuda. Semangat inilah yang membuat perjuangan kemerdekaan bergelora, pun untuk seterusnya.

Dari hasil diskusi yang penuh dengan hikmah itu, muncul persamaan bahwa menurut mereka bergabungnya partai-partai Islam, tidaklah (baca:belum) boleh (baca:bisa) di waktu sekarang. Karena pertumbuhan golongan dalam pergerakkan Indonesia memiliki sejarahnya sendiri. Kata Hamka, “Kalau diadakan gabung, maka gabungan itu hanya bergabung dari luar, sedang pada hakikatnya ialah membungkus tulang-tulang dengan daun!”

Sebegitu besarnya pengaruh kolonialisme menjajah alam sadar dan bawah sadar kita. Kesadaran semu yang membingkai persatuan di bawah politik belah bambu ternyata meninggalkan efek traumatis sendiri bagi kelompok-kelompok Islam di Indonesia. Mereka mungkin bergabung dalam suatu wadah yang entah mereka namai federasi, partai, asosiasi, persatuan, poros, koalisi, atau apapun namanya. Akan tetapi hati mereka centang prenang tak bersatu. Ini harus kita akui.

Namun kita tidak boleh berputus asa. Justru sejarah mengajarkan pada kita bahwa tekanan eksternal dan dinamisasi pertarungan ideologi pada era awal kemerdekaan telah membangkitkan rasa persatuan partai/golongan Islam dengan lahirnya Partai Masjumi. Artinya, kita pernah dan bisa bersatu. Pada saat itu, mereka memiliki tantangan yang sama, yakni benih kediktatoran Soekarno dan bahaya Komunisme. Walau tak lama kemudian, sedikit demi sedikit kelompok yang tergabung dalam Masjumi bercerai-berai. Jika mau jujur, persoalan kekuasaan pulalah yang menyebabkannya. Hari ini, tantangannya tak jauh berbahaya. Dimana kepentingan asing dan konglomerat Cina juga berpotensi membelenggu umat.

Memang, kondisi kebatinan pada era awal kemerdekaan jauh berbeda dengan konstelasi perpolitikkan hari ini. Remangnya pertarungan ideologi dan bergulirnya politik pencitraan membuat pertarungan politik kian samar dan tidak mendasar. Akan tetapi yang perlu kita tangkap dari diskursus poros tengah adalah adanya keinginan atau harapan umat untuk bersatu.

Belajar Dari Masjumi

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian muslim skeptis persatuan itu dapat mewujud. Jikapun ada, mungkin hanya sekedar selebrasi seremonial saja. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah juga tidak sepenuhnya benar. Hubungan kelompok dan partai Islam di tataran praksis yang terkesan berjalan sendiri-sendirilah yang seakan membenarkan anggapan tersebut.

Namun, membaca kembali asas perjuangan dan profil penggerak (muharrik) Masjumi kembali membangkitkan semangat bahwa apa yang kita sebut persatuan ummat (wihdatul ummah) Indonesia, khususnya dalam perjuangan politik, bukanlah utopia, melainkan nyata adanya. Hanya saja, sumber-sumber sejarah mengenai perjuangan politik umat Islam sulit ditemui dalam bahan ajar sejarah di sekolah-sekolah formal. Sehingga generasi hari ini mengalami apa yang disebut dengan historical block yang memutus mata rantai narasi perjuangan. Lebih jauh ialah, memungkinkan angkatan muda masa kini terjerembab pada lubang kesalahan yang sama dengan para pendahulunya.

Hal yang sulit dibayangkan hari ini, ketika didikkan pesantren seperti KH. Abdul Wachid Hasyim (putera kesayangan Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari) yang merupakan trah nahdhiyyin berdampingan dengan M. Natsir (Persatuan Islam) seorang yang mendapat pendidikan barat. Juga KH Hasyim Asy’ari sendiri yang duduk di Majelis Syuro Partai Masjumi bersama Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah). Dengan ini, Masjumi memahami betul makna hikmatusy syuyukh wa hamasatus sabab  yang menjadi pilar kemenangan sebuah organisasi.

Mereka bersatupadu bukan lantaran dari organisasi dan kelompok yang sama. Melainkan kesamaan visi untuk kemuliaan Islam. Dan, mengutip pernyataan M. Natsir, “Sebagai bentuk syukur untuk menjaga karunia terindah dari Allah yakni Indonesia dan kemerdekaan itu sendiri.”

Sederhana, terdidik, muslim integral, apa adanya, jujur, berani, adalah sekelumit rentetan sikap politisi Masjumi. Sikap sederhana yang dibalut dengan ketaqwaan dan kejelasan loyalitas terhadap Islamlah yang membuat Partai ini dicintai hingga kini. Maka menggali sejarah Masjumi adalah menggali semangat Islam politik sejati yang telah hilang di era reformasi. Ariflah kiranya bagi sesiapapun yang bergerak dan tergerak aktif dalam politik untuk mengambil hikmah dari Masjumi.

Patut kita renungi pernyataan Prawoto Mangkusasmito (Ketua Partai Masjumi terakhir sebelum dibubarkan oleh Soekarno) sebagaimana dikutip oleh Artawijaya (2014:40), “Kursi dan kabinet bukanlah tujuan. Ia adalah jalan, bahkan satu dari banyak jalan untuk menuju cita-cita. Jangan hendaknya saudara-saudara silau karena jalan, dan lupa pada tujuan.”

Persatuan Bukan Utopia!

Banyaknya partai politik dan kelompok-kelompok Islam di Indonesia membuat sebagian orang beranggapan bahwa umat Islam di Indonesia tidak bisa bersatu apalagi dalam urusan politik. Apakah benar pertanyaan tersebut?

Memang jika yang dimaksud dengan persatuan adalah kondisi seluruh partai atau kelompok itu dalam satu wadah atau jama’ah yang satu akan sulit dicapai dalam waktu yang singkat. Malah sebagian orang menyangsikan soal itu. Sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dapat dilakukan adalah pendekatan (taqorrub) diantara masing-masing kelompok tersebut. Bukan persatuan (wahdatun), karena setiap kelompok memiliki latar sosio-historis dan fokus kerja yang berbeda-beda.

Perlu kita dudukkan dan suarakan, bahwa yang dimaksud dengan persatuan bukanlah persatuan umat Islam dalam satu jamaah atau satu wadah. Tetapi yang dimaksud adalah persatuan umat dalam dasar dan visi perjuangan. Persatuan bukanlah sebab melainkan akibat. Artinya orang atau sekumpulan orang bisa bersatu karena ada sesuatu yang dapat menyatukannya. Dalam perjuangan kaum musliman hanya satu yang bisa menyatukan mereka yakni kembali pada Kitabullah dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Kepadanyalah mereka merujuk dan memutuskan segala sesuatunya dengan musyawarah dengan mengedapankan mashlahat dan menghindarkan mudhorot.

Disinilah sebetulnya, partai-partai Islam atau yang berbasis masa Islam diuji tentang misi suci politiknya, apakah bersifat transendental atau sekedar politik transaksional? Ada baiknya kita camkan pesan Buya Hamka (2002:193) agar kita terus membentuk pribadi muslim sejati dengan, “Menjadikan diri sebagai seorang muslim yang menjadi khadam (pembantu) Islam, bukan Islam yang dijadikan khadam (pembantu) bagi kepentingan diri sendiri atau golongan.”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization