Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidupkan Hati dengan Cahaya Hikmah

Hidupkan Hati dengan Cahaya Hikmah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi hati (inet)
Ilustrasi hati (inet)

dakwatuna.com – Hati seseorang seperti sebatang pohon. Tumbuh, berkembang sesuai dengan perawatannya. Semakin baik ia merawat semakin baik pula hatinya. Sebaliknya, jika tidak dirawat maka hati akan layu dan mati. Kering, tandus seperti padang pasir. Keras seperti batu.

Hati sakit (maridlul qalbi), hati keras (qaswatul qalbi), hati mati (mautul qalbi) dapat berimbas pada tatanan kehidupan manusia dan lingkungan sekitar. Akan timbul ketidaknyamanan dan kerusakan lingkungan. Korupsi, kriminal, konflik. Global warming, banjir, longsor, kebakaran dan lain-lain.

Padahal Allah swt telah mengingatkan kita agar merawat bumi ini. Ia berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’”(Al-Baqarah: 11).

Sombong, bohong dan kerasnya hati manusia, sampai-sampai Allah berfirman, “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Al-Baqarah: 7). Belum lagi di akhirat di dunia saat ini, kepedihan itu sudah terasa. Korupsi, kriminal, konflik. global warming, banjir, longsor, kebakaran dan lain-lain.

Kata ganti mereka adalah orang-orang yang sakit, keras, dan mati hatinya. Tanpa terkecuali kita, banyak berbuat kerusakan. Allah mengutus rasul-Nya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rahmat bagi alam semesta. Permasalahan ini, sudah terjawab oleh rasulullah saw dalam sabdabnya, “Duduklah bersama ulama a’milin, dan dengarkanlah hukama (ahli hikmah). Sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah seperti menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan”.

Maknanya, hati kita harus senantiasa hidup, berdzikir kepada Allah. Menimba ilmu dan cahaya hikmah yang diwariskan kepada ulama dan hukama. Mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Deni Kusuma
Siswa di MA-Al-Inayah, kota Bandung dan pengajar di lembaga pengajian diniyyah Al-Makmun dan Ar-Rasyidin. Sarijadi, kota Bandung. Pernah Pesantren di Al-Barokah. Kp. Parigilame. Kota Bandung. Nurun Ni'mah. Sarijadi. Jerokaso. Kota Bandung. Latar Organisasi: PAC IPNU Kec. Sukasari. Bandung Komisariat PMII UPI. Bandung. Mahasiswa UGM Jurusan ILMU SEJARAH

Lihat Juga

ilustrasi-buku (inet)

Belajar Bertutur Hikmah dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah