Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Perempuan Istimewa di Hati Babeh

Perempuan Istimewa di Hati Babeh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pagi ini ada yang terlihat sangat sibuk dengan beberapa ekor ayam kesayangannya. Sorenya ada yang selalu rajin menyalakan lampu, menutup gorden, dan kemudian menonton acara kesukaannya. Malamnya, tak henti ia bergerak, untuk sejenak memenuhi tugas negara yang dilakukannya dengan penuh abdi. Malam terus larut, rupanya hal itu menjadi biasa ketika jarum pendek benda mungil yang berada di dinding menyatakan pukul sebelas malam, dan beliau belum juga ada di rumahnya.

Ah, Ia.. Lelaki kesayangan yang amat kucinta, dengan kecintaan pada anak-anaknya yang nyaris sempurna —sekalipun tidak ada sesuatu yang sempurna selain-Nya. Lelaki dengan diam penuh makna, dan marah tanda tak suka. Lelaki yang belum kutemukan penggantinya, karena sayangnya itu bukan terucap melainkan terlihat oleh tingkahnya.

Lelaki dengan berhelai rambut putih menghiasi kepalanya itu adalah ayahku. Babeh, biasa kumemanggilnya. Adakah salah seorang keturunan Jawa menyebut ayahnya dengan sebutan “Babeh”? Ah… kurasa tidak ada. Tak pernah kupedulikan hal persukuan tersebut. Bagiku memanggil Babeh adalah bentuk sayangku tersendiri padanya.

Sudah hampir empat tahun Babehku dalam kesendiriannya. Tak perlu kujelaskan mengapa bisa seperti itu. Karena setiap yang dicinta pasti akan pergi, setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya. Dan begitulah. Perempuan kecintaannya telah terlebih dahulu pergi, karena Pemiliknya sudah memintanya. Apakah Babeh sedih? Jangan ditanya, begitulah setiap manusia akan menanggapi sebuah kepergian. Namun di balik itu, tidak kutemui ratap demi ratap yang Babeh lakukan atas takdir ini. Ah ya, pikirku, Babeh sudah ridha dengan segala ketetapan-Nya.

Namun, seringkali kulihat Babeh merasa sepi. Justru bukan ketika ia diam, melainkan ketika ia sibuk atau lebih tepatnya menyibukkan diri. Ia selalu berhasil menyembunyikan titik air di ujung matanya itu. Lalu dengan lancang terbersit sesuatu di benakku, adakah Babeh bisa selamanya hidup “sendiri” seperti ini? Dengan bodohnya pikiran itu tercipta, buru-buru aku hapus sampai jejak-jejaknya. Namun rasanya benar juga, sebagai seorang lelaki, bukankah ketika masih beristri pun boleh menikah lagi? Aku jadi semakin kurang ajar karena telah berpikir untuk mencari pengganti Ibu untuknya. Oh bukan, sungguh bukan pengganti Ibu di hatiku, tapi hanya teman Babeh dalam mereduksi kesendiriannya itu.

Aku selalu khawatir, karena aku, kakakku, adikku, terlalu sibuk dengan urusan kami sendiri. Aku khawatir jika kami tak mampu memberikan pelayanan terbaik kami untuk lelaki kesayangan kami yang waktunya sudah kami sita hampir separuh usianya. Hanya khawatir itu. Namun tak pernah kami ingin dengan sungguh ada orang lain yang menggantikan Ibu. Kami hanya khawatir. Hanya itu.

Namun saat ini, rasanya khawatir kami tidak perlulah berkelanjutan. Karena Babeh dengan senyum dan diamnya senantiasa menunjukkan,  “Babeh, baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir.” Beberapa waktu lalu, bahkan tanpa sengaja terintip olehku Babeh sedang bicara pada foto Ibu. Rupanya itu yang membuatnya selalu setia menjaga cinta suci kepada Ibu, sekali pun Ibu sudah pergi mendahulu. Rupanya itu.

Babeh, rasa-rasanya anakmu kini mengerti, tak perlulah kami mencari pengganti Ibu, karena memang tak perlu. Tak perlulah kami khawatir, karena memang tak perlu ada khawatir itu. Tak perlulah. Karena aku telah mengetahui bahwa telah dan akan selamanya ada di hatimu sosok yang takkan terganti sekalipun sudah berganti dimensi ruang dan waktu. Telah dan akan selamanya ada di hatimu perempuan istimewa itu yang selalu kupanggil dengan sebutan Ibu. Semoga cinta Babeh dan Ibu senantiasa terbingkai hingga kalian bertemu dalam tempat bernama surga yang tidak berbatas ruang dan waktu. Babeh, anakmu ini menyayangimu.

Judul terinspirasi dari tulisan Asma Nadia yang berjudul “Perempuan Istimewa di Hati Aba Agil” dalam kumpulan kisah Catatan Hati Seorang Istri (2008).

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Perempuan penyuka kelembutan dan keharmonisan. Gemar memasak dan merenung. Bercita menjadi Ibu Peradaban Dunia.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan