Home / Berita / Analisa / Mesir Dalam Akrobat Demokrasi As-Sisi

Mesir Dalam Akrobat Demokrasi As-Sisi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Peta Mesir dan Sungai Nil. (inet)
Ilustrasi – Peta Mesir dan Sungai Nil. (inet)

(1)

dakwatuna.comSelasa kemarin (15/4) menjadi hari spesial terutama bagi Marsekal Abdel Fattah As-Sisi. Mantan Menteri Pertahanan sekaligus Panglima Militer Mesir ini secara resmi mengumumkan rencana dirinya untuk ikut menjadi kompetitor dalam pesta demokrasi pemilihan presiden (Pilpres) Mesir mendatang. Marsekal As-Sisi menggelar konferensi pers terkait keputusannya maju sebagai calon presiden (Capres) pada bursa Pilpres nanti. Tak pelak, ini merupakan jawabannya atas rumor yang berkembang seputar pencalonan dirinya. Sayangnya, pengumuman tersebut tidak dihadiri langsung oleh sang Capres, As-Sisi justru mendelegasikan ikrar pencapresannya pada penasihat hukumnya, Muhammad Baha’ Abu Syaqqah dalam momen penting itu. Abu Syaqqah–dalam jumpa pers–tersebut mengabarkan kepada rakyat Mesir bahwa dirinya telah mendaftarkan nama Marsekal Abdel Fattah As-Sisi pada Senin (14/4) waktu setempat di Komisi Tingkat Tinggi Pilpres Mesir sebagai Capres dengan melampirkan sekitar 200 ribu tanda tangan.

Maklumat resmi tentang pencapresan Marsekal As-Sisi juga menjadi momentum spesial yang menghentak kehidupan demokrasi di Mesir. Rakyat Mesir sepertinya akan sulit dilupakan dengan peristiwa kudeta militer yang dipimpin oleh As-Sisi terhadap Presiden Mesir Muhammad Mursi pada 3 Juli 2013 silam. Selain sulit untuk dilupakan, kudeta militer tersebut juga rasanya sulit untuk diterima karena Muhammad Mursi adalah perwujudan dari suksesnya proses demokratisasi yang baru diretas. As-Sisi tiba-tiba datang sebagai boneka anti-demokrasi di Mesir yang nekad melengserkan Mursi dari kursi presiden yang diperolehnya melalui pertarungan Pilpres terbaik sepanjang sejarah Mesir modern. Apa pun halnya bagi rakyat Mesir, kudeta militer tersebut, telah menempatkan Marsekal As-Sisi sebagai batu pengganjal suatu upaya komunal untuk merealisasikan demokratisasi yang sedang dihidupkan di Mesir setelah sekian lama sekarat akibat sikap otoritarianisme-represif rezim Husni Mubarak.

(2)

Oleh karena itu, menjadi lazim pula jika kemudian menyeruak pertanyaan serius tentang apa sebenarnya yang mendasari seorang petinggi militer yang miskin prestasi ini nekad untuk mencalonkan dirinya sebagai Capres? Bila kemenangan adalah harga mati lalu kira-kira apa strategi yang akan ditempuh oleh seorang predator-demokrasi dalam memenangkan suatu kompetisi demokrasi? Pertanyaan-pertanyaan ini–di tengah iklim pancaroba demokrasi di sebagian besar negara-negara Afrika dan Arab–merupakan pertanyaan krusial yang akan membuat kita mampu memotret gambaran masa depan demokrasi di Mesir nantinya.

Tidak terlalu sulit untuk meraba-raba suatu kerangka berpikir seorang predator –demokrasi yang mengikuti kompetisi Pilpres Mesir. Kompetisi demokrasi yang asalnya berangkat dari filosofi memperjuangkan kepentingan rakyat diubah menjadi dagelan politik yang memuakkan. Baginya kompetisi itu hanya semacam legalitas yang dapat direkayasa aturan mainnya demi mengamankan kejahatan politik yang ia buat. Satu-satunya alasan terkuat yang meniscayakan Marsekal As-Sisi maju sebagai kandidat Capres Mesir adalah karena dirinya dan kekuatan makro yang mendapat manfaat utama dari hasil kudeta militer harus aman dari semua sanksi. Tujuan seperti itu akan mustahil terwujud bila proses demokratisasi di Mesir berjalan secara jujur, bebas, dan murni. As-Sisi, sudah dapat dipastikan akan mengalami nasib serupa seperti pendahulunya; Jenderal Husni Mubarak. Marsekal As-Sisi dihadapkan pada pertanggungjawaban atas aksi nekadnya membinasakan iklim positif demokrasi di Mesir yang diperoleh dari tetesan darah pejuang revolusi 25 Januari.

Meskipun terang-benderang pencapresan As-Sisi adalah sebuah dagelan politik, hari ini rakyat Mesir tampaknya tidak dapat melawan untuk mengikuti ritme yang didendang. Mereka bahkan terlihat seperti raksasa yang diamputasi tangan dan kakinya serta dilumpuhkan tenaganya. As-Sisi hendak menjiplak jalan berpikir para tirani yang dengan begitu adidaya menginjak-injak manusia-manusia lemah di bawah ancaman kematian dan jeruji besi. Ini suatu jalan berpikir manusia kerdil. Karakter penganut pragmatisme-oportunis. As-Sisi sebenarnya tengah bertarung dengan ketakutan yang bertahta di dalam dirinya. Pada saatnya nanti, cepat atau lambat, ketakutan itu akan menjelmakan sejuta keberanian dari manusia-manusia yang ia perdaya. Para tirani di dunia telah dengan menyesal membuktikannya.

(3)

Seluruh strategi pemenangan As-Sisi sesungguhnya tidak akan jauh berbeda dengan strategi politik yang pernah ditempuh oleh Mayor Jenderal (Mayjen) Ahmed Shafik, mantan Perdana Menteri Mesir pada era transisi pascarevolusi Januari dan mantan menteri di kabinet Husni Mubarak yang maju melalui jalur independen tahun 2012 lalu. Jalur independen inilah yang kini digunakan oleh As-Sisi. Mayjen Ahmed Shafik semula diunggulkan dari kompetitornya Muhammad Mursi yang maju dari koalisi partai politik. Prediksi tersebut ternyata keliru, Mursi menjadi kuda hitam yang menjungkirbalikkan semua indikasi kemenangan tokoh status quo itu. Mesir pun akhirnya bereuforia menyambut terbitnya fajar baru negeri demokrasi.

Dan, rasanya takdir indah kemenangan demokrasi di Mesir akan sulit terulang kembali pada kompetisi yang kini akan diikuti oleh Marsekal As-Sisi. Predator demokrasi ini telah menganalisa dengan cermat simpul kekalahan seniornya; Mayjen Ahmed Shafik. Untuk itulah, apabila dua tahun yang lalu terjadi perimbangan basis kekuatan antara kubu pro-demokrasi (revolusioner) dan kubu anti-demokrasi (rezim lama); tapi hal itu tidak mewujud saat ini. Sebab, satu basis besar kompetitor yakni Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM) telah dibinasakan dalam suatu operasi klandestin yang terstruktur untuk mempola lalu lintas peristiwa guna meruntuhkan hegemoni IM dan basis-basis kekuatan revolusi lainnya. Akibatnya, arus deras anti-revolusi kini leluasa membenamkan kompetitornya pada jurang kegagalan.

Mimpi demokrasi selanjutnya mau tidak mau diserahkan realisasinya kepada sang predator demokrasi yang hendak memainkan akrobat demokrasi model As-Sisi di Mesir. Pilihannya hanya dua; otoritarianisme-represif As-Sisi atau demokrasi cacat As-Sisi. Saya membesarkan diri dengan prasangka baik, boleh jadi As-Sisi memang berniat tulus hendak menebus dosa besarnya karena telah membunuh demokrasi di Mesir atau paling tidak ia berniat membasuh kedua tangannya yang berlumuran darah syuhada dengan taubat ala demokrasi As-Sisi. Tapi, satu yang pasti bahwa pagelaran sebuah akrobat di mana pun itu tidak pernah berlangsung lama. Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Peneliti di Pusat Studi Islam WASATHIYAH dan Alumnus Univ. Al-Azhar Cairo Mesir. Mantan Direktur LSM Studi Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir.

Lihat Juga

Mesir Tangkapi Nelayan Palestina dan Menyerahkannya ke Israel