Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kalau Sudah Lillah, Maka Takkan Lelah!

Kalau Sudah Lillah, Maka Takkan Lelah!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kamis. Setiap hari itu masjid al-Husna selalu ramai dengan suara anak-anak yang mengaji. Namun nampaknya berbeda dengan hari ini. Sore ini di serambi masjid tersebut, hanya terlihat ada seorang pemudi sedang duduk sendirian tanpa ada anak-anak yang biasa ia ajar di TPA. Walau sudah sekian lama menunggu, tapi tetap saja, anak-anak yang ia nanti-nantikan tak juga datang. Ia duduk termenung sambil menundukkan kepala di depan bangku yang sudah tertata rapi di atas karpet warna hijau yang biasa digunakan oleh anak-anak untuk mengaji TPA. Tanpa disadari,  air matanya meleleh.

“Ya Allah, Engkau tahu Ya Allah, hari ini aku begitu lelah, setelah tadi malam aku hanya tidur beberapa jam karena harus belajar untuk ulangan harian tadi siang. Lalu tadi, pagi-pagi sudah harus berangkat ke sekolah karena harus piket membersihkan masjid sekolah. Lalu aku sekolah hingga pukul 14.00. Masih saja harus ikut rapat Rohis. Bahkan ketika sudah masuk waktu shalat Ashar, aku segera mengambil wudhu dan shalat. Kemudian meminta izin untuk pulang duluan karena harus mengisi TPA di masjid ini Ya Allah. Sudah kuusahakan untuk tidak datang terlambat dalam mengisi TPA, tapi kenapa begini? Bahkan satupun tak ada anak yang datang untuk mengaji. Engkau tahu betapa lelahnya hamba-Mu ini Ya Allah. Tapi kenapa semua pengorbananku hari ini sia-sia? Jangankan mendapat teman untuk mengajar ngaji TPA, muridnya saja nggak ada!”

Beberapa waktu ia terpekur, hanyut dalam perenungannya. Hingga ia menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul 17.30. Tanda sebentar lagi akan dikumandangkan adzan Maghrib. Dengan segera, ia mengusap air matanya dan bergegas membereskan kembali karpet dan bangku-bangku yang telah ia siapkan untuk TPA sore itu. Kemudian ia pulang.

Di perjalanan pulang, ia melanjutkan perenungannya. Ia teringat dengan kata-kata dari mentornya di sekolah, “Kondisi ruhiyah kita pasti akan memengaruhi kerja-kerja dakwah kita, Dek. Bahkan, efek lebih jauhnya lagi, ketika kita sedang futur, adik-adik yang kita ajarin ngaji pun juga akan menjadi tidak bersemangat dan kemungkinan besar juga akan mengalami kefuturan. Dan, jangan-jangan karena niat kita belum sepenuhnya Lillaahi Ta’ala…”

Deg. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ada sesuatu yang membuat hatinya tak karuan. Merasa tertohok dengan kata-kata yang baru saja ia ingat. Timbul kecurigaan dan penyesalan dalam hatinya .

Astaghfirullah, jangan-jangan anak-anak TPA yang biasa ngaji denganku tidak ada satupun yang datang karena aku sedang futur dan tidak semangat mengisi ya? Memang aku sedang merasakan begitu sih.”

Seusai shalat Maghrib, dalam doanya, ia tak sengaja meneteskan air matanya lagi. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah, lelah, sungguh lelah kurasakan. Mungkin diri ini butuh sejenak berhenti dari aktivitas yang kini terasa menyesakkan. Ingin rasanya pergi, berlari, meninggalkan rutinitas hidup yang menjenuhkan. Ingin bercerita sepanjang malam untuk menumpahkan keluh kesah yang dirasa. Tapi apa daya bibir ini tak mampu berucap walau sungguh terasa sesak di dada. Entah apa yang kurasakan?”

Keheningan malam itu, menambah suasana romantis pertemuan antara hamba dengan Rabb-Nya. Pertemuan yang sudah sangat ia nantikan dan rindukan. Beberapa lama ia tak beranjak dari sajadahnya. Bibirnya terdiam, tak mampu berkata-kata. Tanpa dikomando, air mata mengalir tanpa henti. Entah sudah berapa lama ia merasa tak berjumpa dalam suasana hening dan syahdu seperti saat itu.

“Ya Allah, ampuni hamba Ya Allah. Mungkin ada yang salah dengan niat dalam hati hamba. Mungkin selama ini hamba belum sepenuhnya melaksanakan kerja-kerja dan amalan dakwah karena-Mu. Maka dari itu, aku masih merasa lelah seperti ini, ya Allah. Atau mungkin juga karena aku yang sedang futur,  ya Allah…? Bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali aku bertemu dengan-Mu dengan sepenuh hati, dengan segenap keikhlasan dan segenap jiwa raga. Entah sejak kapan air mata ini tak lagi terluapkan ketika mendengar surat cinta dari Engkau Yang Maha Mencintai. Entah sejak kapan tilawah ini tak lagi terasa menyejukkan jiwa dan hanya sekadar menjadi rutinitas belaka, tanpa ada yang membekas di jiwa. Entah sejak kapan terakhir kali aku merasakan begitu nikmatnya berlama-lama bersujud di sepertiga malam terakhir-Mu. Entah sejak kapan pula bibirku tak lagi rajin berucap zikir di tiap pagi dan petang. Juga entah sejak kapan pula aku melupakan hak saudariku atas diriku untuk sekadar bertanya kabarnya hari ini tapi justru lebih memilih untuk tidur atau malah menggalau di kamar tanpa peduli apa yang terjadi di sekitar. Bahkan aku tak ingat sejak kapan dan bagaimana ini bermula.”

What’s wrong with me? Futurkah? Jangan-jangan pernah kau salahkan amanah? Karena ini bukan salahnya, mungkin hanya diriku saja yang tak mampu? Ya, aku saja yang belum bisa sekuat Khadijah, sesabar Hafshah juga setegar Ummu Sulaim.

“Jadi, ya Allah… tolong hamba. Bantu hamba untuk bangkit dan memperbaharui niat dan semangat hamba. Karena sekarang saatnya bangkit dan segera memperbaiki. Bukankah Engkau tak akan berhenti menguji hamba-Mu dengan masalah sebagai ujian keimanan ataupun ujian kehidupan yang Engkau berikan?”

“Tulit tulit…” Suara handphonenya berdering tanda ada SMS masuk. Ia membuka SMS tersebut, ternyata berasal dari seorang teman sesama pengurus Rohis di sekolahnya. Dibacanya, “Engkau perintahkan mereka untuk giat beribadah tapi justru engkaulah teladan yang lemah? Engkau lihai menyampaikan ilmu, tapi jauh dari hidayah? Engkau pandai memberi nasihat tapi tidak mendapat ibroh? Wahai batu penajam pisau, sampai kapan engkau hanya membuat pisau tajam tapi engkau tetap tumpul?”

Kalimat SMS yang begitu singkat namun sangat mengena baginya. Seolah Allah sengaja menggerakkan hati temannya tersebut megirimkan SMS tersebut untuk mengingatkan dan semakin menguatkan tekadnya untuk segera meluruskan niat dan semakin meningkatkan keimanan dalam hatinya yang sempat futur.

Lagi-lagi terngiang kata-kata almarhum Ustadz Rahmat Abdullah,

Memang seperti itu dawah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret… Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,31 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan UI Angkatan 2010 | Kaderisasi Salam UI 2014 | DPM UI 2013 | BPM FIK UI 2012 | FPPI FIK UI 2011 | BEM FIK UI 2011 | Lembaga Dakwah Sahabat Asrama UI 2010
  • lelah adalah manusiawi, yang penting jangan kehilangan orientasi

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers