Home / Narasi Islam / Sosial / Excellent Service: Saatnya Melayani

Excellent Service: Saatnya Melayani

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (123rf.com)
Ilustrasi. (123rf.com)

Pendahuluan

dakwatuna.com – Melayani. Barangkali, tidak ada yang asing dengan istilah yang satu ini. Karena faktanya, kata ini sudah teramat sering kita dengar dan ungkapkan dalam kehidupan nyata keseharian. Bukan hanya itu saja, kaum laki-laki, perempuan, besar, kecil, tua, muda hingga (khususnya) kalangan pejabat dan birokrat acapkali menggunakan istilah nan sangat menawan tersebut. Disamping itu, tentunya kita sudah sangat memahami dan meyakini bahwa aktivitas manusia dimanapun mereka berdomisili tanpa memandang usia, gender, latar belakang pendidikan maupun status sosial lainnya secara umum berada diantara dua kutub ini; melayani dan/atau dilayani.

Paradigma  Melayani

 Saatnya melayani. Tema yang sederhana namun bijak itu ternyata mengandung kekuatan aplikatif yang sangat luar biasa serta mampu menumbuhkan kesadaran dan membangkitkan energi hidup setiap personal –siapapun dan pada posisi apapun didalam kehidupan sehari-harinya- untuk berbuat dan menghasilkan karya lebih baik dan banyak lagi pada masa mendatang.

Namun, apa sesungguhnya substansi pokok dan muatan inheren yang terkandung didalam sebuah kata melayani? Mungkin ini sebentuk pertanyaan sederhana yang perlu dikedepankan. Selain untuk melengkapi referensi kita, lebih dari itu kita boleh berharap akan lahirnya persepsi yang benar dan pas untuk memahami makna kata ini.

Melalui tulisan singkat berikut ini, penulis ingin mengajak seluruh pembaca,  teristimewa adalah bagi para pemangku kepentingan, pejabat, birokrat dan para pemegang amanah kepemimpinan lainnya. Baik pada institusi formal maupun non formal, untuk sejenak merenungi makna hakiki sekaligus memperoleh jawaban proporsional nan agak komprehensif atas urgensi yang melekat dari kata-kata tersebut. Agar dikemudian hari kita dapat merasakan bukti nyata bahwa ungkapan-ungkapan indah-menawan seperti, “Kami siap melayani dan melindungi masyarakat.” Atau, “Kami adalah pengayom masyarakat.” tidak lagi hanya menjadi jargon belaka yang kosong dari realita alias lips service atawa NATO (No Action, Talk Only).

Teladan Sepanjang Masa

Mari kita mulai menelisik, menelaah dan mengeja makna hakiki yang tersirat maupun yang tersurat dibalik sepatah kata mulia itu. Kata-kata yang telah membuat Rasulullah saw memposisikan dirinya sebagai khadimah ummah (pelayan ummat), yang lantas membuatnya begitu dicintai oleh keluarganya, para sahabatnya hingga dirindukan oleh ummatnya sampai akhir zaman nanti.

Atau seperti para Khulafaur Rasyidin yang sangat mengerti arti inti dibalik kata-kata itu. Bahkan diantara mereka ada yang rela berkhirosah (semacam ronda) di malam hari untuk menyaksikan dari dekat sekaligus meyakinkan dirinya bahwa tidak ada lagi diantara rakyatnya yang belum makan malam pada waktu itu. Atau ada juga Kepala Negara lainnya yang dengan ikhlas dan penuh pengorbanan mau memanggul karung gandum dari gudang penyimpanan dan mengantarkannya kepada salah satu keluarga miskin. Dimana sejurus sebelumnya, sang Kepala Negara berkata, “Apakah kalian siap memikul dosaku di akhirat nanti?”. Sebagai ungkapan tulus untuk merespon permintaan para stafnya agar mereka saja yang memanggulkan karung gandum tersebut.

Atau ada lagi seorang Kepala Negara yang perlu mengeluarkan statemen penuh tanggung jawab denga mengatakan, “Jika saja ada kaki keledai terperosok di jalanan negeri Syam ini, maka akulah orang pertama yang paling bertanggung jawab.” Dan banyak lagi contoh dan keteladanan para ‘pelayan umat’ lainnya dalam kehidupan sehari-hari yang patut kita tiru dengan penuh kejujuran, keikhlasan dan kesabaran.

Makna Hakiki

Secara harfiyah kata melayani berasal dari kata dasar  layan yang diapit oleh imbuhan me-i, sehingga membentuk kata kerja aktif. Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia, melayani bermakna membantu orang lain untuk memenuhi kebutuhannya (sampai tuntas). Excellent Service, begitu orang sering memberikan istilah dalam sistem menejemen modern saat ini.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa di dalam kata melayani juga terkandung pengertian mendasar lainnya yang saling berkaitan. Diantaranya ialah adanya aktifitas fisik dan psikis dalam upaya saling berbagi, peduli, memberi, menyantuni, berempati, toleran, kasih sayang dan lain-lain yang dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengkalkulasi untung-rugi –layaknya hitung-hitungan dagang-, untuk siapa, waktunya kapan, tempatnya dimana, caranya bagaimana, biayanya dari mana atau butuh tenaga berapa orang untuk mengerjakannya dan sederetan pertanyaan bernada was-was lainnya.

Pendek kata, yang semestinya ada dan selalu ditanamkan dalam setiap diri kita ialah keyakinan akan kebenaran sinyal Allah swt sebagaimana termaktub dalam firman-Nya surah ar-Rahman ayat 60, “Bukankah balasan dari setiap kebajikan itu adalah kebajikan yang lebih baik lagi”. Serta garansi Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya sebagai berikut, “Allah swt akan memberikan kemudahan urusan kepada orang yang membantu memudahkan urusan orang lain” (Hadits Qudsi). Atau pada hadits lainnya, “Allah swt akan melapangkan jalan bagi orang yang memberi kelapangan kepada orang yang sedang mengalami kesempitan hidup.” Dan tentunya hal–hal yang semakna dan seperti ini akan kita temukan juga pada banyak ayat Allah swt serta rangkaian Sunnah Rasulullah saw lainnya.

Itulah sesungguhnya modal dasar serta kekuatan asasi kita untuk selalu dan terus-menerus  berinvestasi amal kebajikan di atas dunia ini dan pada bidang garapan apa saja. Walaupun hanya melalui sepatah kata sederhana melayani. Karena kita juga sangat menyadari bahwa pada akhirnya aktifitas melayani atau menjadi pelayan bagi sesama itu justru mempunyai kedudukan tersendiri yang sangat terpuji di sisi Allah swt, Zat Yang memiliki sifat ar-Razzaq (Yang Maha Memberi Rezeki) dan Rasul-Nya saw.

Dimana pada saat bersamaan kita juga masih akan terus menemui suatu potret kehidupan, bahwa ternyata banyak sekali saudara kita yang membutuhkan bantuan, pertolongan dan pembelaan dari saudaranya yang lain dalam berbagai aspek pemenuhan hak-hak dasar kamanusiaannya yang sesuai dengan tingkatan kebutuhan mereka masing-masing. Karena menurut Rasulullah saw “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah” (al-Hadits). Hal ini mengandung makna bahwa melayani identik dengan memberi. Sedangkan memberi merupakan representasi dari posisi tangan di atas. Dan posisi tangan di atas itu jelas lebih mulia, lebih terpuji dan lebih baik. Subhanallah.

Standarisasi Pelayanan

Seandainya pemahaman seperti ini telah mulai mengurat-mengakar dan tumbuh sumbur (khususnya) pada diri setiap pemangku amanah di Negeri tercinta ini, rasa-rasanya seluruh pemerintah daerah tidak perlu sibuk-sibuk lagi untuk membuat regulasi khusus tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terkait dengan urusan publik, yang saat ini begitu gencar dan berkesinambungan selalu didengung-dengungkan.

Karena sesungguhnya standar paling minimal dari aspek pelayanan itu secara hakiki terletak pada adanya kesadaraan serta kemauan yang kuat dan muncul secara bottom up untuk membantu memudahkan dan memberi keringanan atas urusan orang lain. Dan sudah barang tentu, sejatinya parameter pelayanan yang dimaksudkan bukan terletak pada sederet persyaratan administratif yang justru malah akan mempersulit urusan yang sebenarnya mudah, murah dan sederhana itu. Mohon maaf, sekedar contoh soal, mungkin seperti rumitnya pengurusan Kartu Tanda Penduduk atau KTP pada saat mulai  berlakunya Undang-undang nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

Dan sebagai kaca pembanding dari telah terpenuhi atau tidaknya suatu bentuk pelayanan mendasar terhadap sesama insan justru terletak pada bagaimana kita merasakan kepuasan, senang dan kenyamanan atau sebaliknya, saat memperoleh pelayanan yang sama dari orang lain untuk urusan yang sedang kita hadapi.

Jadi alat ukurnya adalah diri kita sendiri. Apa yang akan kita rasakan seandainya orang lain memberikan pelayanan kepada kita dengan model dan kualitas pelayanan seperti yang biasa kita berikan kepada orang lain. Apakah kita sudah merasa puas, senang, nyaman, atau malah bertolakbelakang dengan harapan yang kita dambakan? Disinilah letak kunci inti permasalahannya. Jika orang lain dapat membantu memenuhi hajat hidup kita dengan baik serta memberikan pelayanan prima terhadap pemenuhan kebutuhan kita, maka konsekuensi logisnya adalah kita juga dituntut untuk melakukan hal yang sepadan dan seimbang kepada orang lain.  Wallahu a’lam bis shawab.

Penutup

Dengan begitu kita dapat menyimpulkan bahwa pada aktifitas ini terdapat makna hakiki yang sarat dengan nilai-nilai luhur nan sangat strategis dan hanya dapat dilakukan dengan sepenuh keikhlasan, kekuatan pengorbanan dan kebesaran tanggung jawab oleh orang-orang yang memiliki  kualifikasi istimewa seperti itu juga. Dan tentunya, last but not least, Fastabiqul khairat! Mari berlomba-lomba berbuat kebajikan –melayani sesama- dengan sepenuh cinta dan kasih sayang. Ingat-ingat selalu pesan Aa Gym: 3 M (Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dengan hal-hal kecil dan Mulailah sekarang juga). Wallahu a’lam bis Shawwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ketua Forstudi Faperta Unand Padang (1995-1996).

Lihat Juga

Dibekali Pejabat Publik dan Para Menteri, BKPRMI Optimis Lahirkan Pemimpin Nasional