Home / Narasi Islam / Wanita / Wanita dan “Negaranya”

Wanita dan “Negaranya”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Wanita adalah tiang Negara. Adapun sebuah Negara akan baik apabila wanita-wanita di dalam Negara itu baik. Begitupun sebaliknya, Negara akan hancur apabila wanita-wanita dalam Negara tersebut tak menjalankan tugas yang semestinya. Wanita dan “Negaranya”, kata tersebut mengantarkan kita kepada pendidikan dan pemikiran politik praktis bagi seorang wanita. Padahal yang dimaksud “Negara” adalah mengenai peran wanita itu sendiri sebagai seorang muslimah, anak, istri, ibu dari anak-anaknya, ataupun menjadi pemimpin di masyarakatnya.

Kebanyakan dari kita telah dirasuki oleh pemikiran barat bahwa seorang wanita harus menuntut pendidikan yang sama dan pentingnya kesetaraan gender yang selalu di dengung-dengungkan oleh kaum feminis. Lalu apabila semua perlakuan dan  pekerjan sama dilakukan oleh seorang wanita atau pria, dimana letak istimewanya? Tentu hal ini sangat menjadi sorotan bagi seorang muslimah dalam mengatur “Negaranya”.

Keluarga, merupakan sebuah pondasi dasar penyebaran agama Islam. Di tangan seorang wanitalah kunci dari peradaban. Dalam hal ini, lebih tepat ketika kita menyebutnya sebagai seorang muslimah. Muslimah dalam fitrahnya terbagi dalam 3 aspek, yaitu mar’atus sholihah (muslimah yang sholihah), zaujatul muthiah (istri yang taat kepada suami), dan ummul madrasah (ibu sebagai pendidik/pembangun peradaban).

Lalu, apa yang menarik yang bisa penulis sampaikan tentang arti dari wanita/muslimah itu sendiri dengan kondisi yang terjadi saat ini? Kesetaraan dalam pendidikan membuat seorang muslimah menjadi sangat terampil atau bahkan terlihat lebih “cakap” dalam mengeksplorasi potensi yang dimilikinya dibanding laki-laki. Banyak bermunculan pemimpin-pemimpin yang notabenenya adalah seorang muslimah. Akan tetapi, keistimewaan seorang muslimah adalah ketika ia dapat menjalankan peran gandanya secara seimbang.

Ditemui baik di kampus maupun dalam tatanan masyarakat, muslimah ternyata mampu dan berhak untuk dipilih menjadi pemimpin. Hal itu pun banyak dibuktikan oleh kinerja seorang muslimah yang memang bisa diacungi jempol. Namun, jangan pernah melupakan keistimewaan seorang muslimah dalam tiga peran yang sudah penulis sampaikan. “Negara” bagi seorang muslimah ialah tempat dimana ia berada, mulai saat ia di lahirkan, tumbuh, hingga menghabiskan sisa waktunya.

Fenomena yang ada, khususnya bisa terjadi ketika muslimah masih berada di dalam kampus. Terlalu asyik untuk menjalankan rutinitas seperti study, organisasi atau dakwah yang bisa menjadikan seorang muslimah tersebut dicap sebagai orang yang ‘super sibuk’. Mungkin saat ini, masih belum bisa memaksimalkan peran seorang zaujatul muthi’ah dan ummul madrasah, akan tetapi seorang muslimah yang bercita-cita menjadi wanita sholihah (mar’atus sholihah) harus melatih sedari dini untuk memerankan kedua peran lainnya dengan baik di masa depan. Membantu pekerjaan rumah tangga adalah bentuk pelatihan diri muslimah agar bisa menjalankan kedua peran yang lain tersebut dengan baik.

Terkadang, bahwa menjadi muslimah organisatoris tidak terlalu baik apabila terlalu militan, dalam artian muslimah organisatoris mengerjakan tugas-tugas dakwah di kampus sampai berlebihan. Hingga pulang malam, dan sepulangnya itu, tubuhnya pun sudah letih lalu tak dapat ikut mengerjakan pekerjaan rumah. Kadang-kadang, karena tuntutan dakwah, seorang muslimah harus berangkat pagi-pagi sekali ke kampus sehingga lagi-lagi tidak dapat membantu pekerjaan rumah tangga. Bahkan seringkali, hari libur pun tetap dipakai untuk berpergian dengan alasan mengerjakan tugas dakwah/organisasi. Jangankan turut membantu dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurusi dirinya saja kadang tak sempat.

Catatan penting bagi seorang muslimah, adalah seimbang. Wanita dan “Negaranya” merupakan alasan bagi seorang muslimah untuk terus belajar tawazun (seimbang). Seperti yang kita ketahui, mengelola sebuah “Negara” pastinya tidak mudah. Harus memiliki skill, jiwa leadership, kasih sayang, dan pengorbanan. Menjalankan tugas dakwah/organisasi merupakan hal penting, namun jangan pernah melupakan peran lain yang melekat bagi muslimah untuk mengurusi diri, keluarga dan masyarakatnya. Dalam artian, wanita harus memaksimalkan ketiga peran tersebut dalam mengelola “Negaranya”. Selamat Hari Kartini 2014. Salam cinta para muslimah pejuang. Barokallahu Lakum Jami’an.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonita Rizqi Darmawana
Mahasiswi S1 Universitas Brawijaya jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian. Jarmusda Malang Raya. Love travelling so much. Perantau dari Jakarta. SD-SMP-SMA Jakarta, lulus tahun 2010.
  • herawatini

    Kalo untuk pendidikan saya setuju, wanita harus mendapatkan pendidikan yang layak karena dia bertugas membimbing anak2nya, namun jaman sekarang kok rasanya bisa disebut mubazir juga seorang wanita sekolah tinggi, karena yang mengasuh anaknya cuma pembantu……

Lihat Juga

Ketika Wanita Selingkuh